Teh Poci

Suatu malam, selesai beraktivitas di akhir pekan, saya dan anak-anak pergi makan malam ke sebuah restoran di club house setempat di dekat rumah. Ini adalah salah satu restoran favorit yang kami kunjungi sebagai tempat makan malam bersama setelah menghabiskan waktu berenang sore hari.

Ketika anak-anak selesai memesan menu makanan favorit mereka, giliran saya memesan minuman, ada sebuah minuman favorit yang selalu kami pesan kalau berkunjung ke restoran ini. Teh poci. Selain memang wangi dan hangat serta dilengkapi dengan gula batu dan potongan jeruk nipis, teh poci juga bisa diisi ulang. Bahkan kami boleh meminta gula batu dan jeruk nipisnya lagi. Jadi bagi kami, teh poci itu tidak pernah habis, yang penting selama daun teh di dalam pot itu masih ada, air teh itu bisa terus diisi ulang dengan air hangat yang baru. Teh hangat yang wangi dan sedap ini akan terus kami nikmati sampai akhirnya daun teh itu jenuh dan tidak bisa diseduh untuk menghasilkan air teh lagi.

Sambil menikmati teh poci itu, saya teringat pada kasih Tuhan yang tidak pernah habis. Selalu terisi dan mengalir terus dalam hidup kami. Tanpa bermaksud merendahkan kasih Tuhan, saya belajar dari sukacita yang didapat ketika meminum teh poci. Untuk sebuah teh poci, hati kami bersukacita, hanya karena teh poci itu bisa diisi ulang dengan cuma-cuma. Dan memang saya amati, banyak dari kita suka sekali ketika bisa menikmati sesuatu tanpa batas alias bisa berulang kali secara cuma-cuma. Karena itu restoran yang menawarkan menu “all you can eat” dengan tawaran makanan yang bisa diambil sepuasnya disertai minuman yang bisa diisi ulang, tidak pernah sepi dikunjungi orang.

Pertanyaan pun timbul di hati saya. Mengapa kita lebih mudah bersukacita untuk makanan dan minuman yang akan habis ketika kita santap, sementara untuk kasih Tuhan yang juga tidak pernah habis, kita sulit untuk bersukacita? Kita seringkali mengharapkan kasih Tuhan dinyatakan dalam sebuah mujizat yang spektakuler, yang supranatural. Kita melupakan bahwa kasih Tuhan itu juga telah nyata dalam mujizat kasihNya yang setiap hari selalu baru dalam hidup kita. Mari kita amati satu per satu.

Dalam area pekerjaan atau bisnis, kita berharap ada mujizat supranatural yang terjadi sehingga pekerjaan atau bisnis kita tiba-tiba mengalami peningkatan yang luar biasa, misalnya seketika kita mendapat promosi yang jarang didapat banyak orang, atau kita mendapat proyek bisnis yang nilainya sangat besar dalam sejarah pengalaman kita berbisnis. Tetapi, kita melupakan penyertaan dan hikmat Tuhan yang selama ini memimpin kita menyelesaikan masalah dalam pekerjaan atau bisnis setiap hari.

Dalam kehidupan sehari-hari dengan dengan sesama, kita berharap ada mujizat kesembuhan supranatural pada kerabat yang sakit keras, tetapi melupakan mujizat kesembuhan atas sakit kepala atau flu yang menyerang kita semalam. Kita berharap, kerabat yang telah mati bisa bangkit kembali dan Tuhan mengembalikan hidupnya agar kembali bersama-sama dengan kita, tetapi melupakan penyertaan berkatNya yang selalu baru tiap hari sehingga kita tidak pernah kekurangan.

Dalam area pelayanan, kita berharap ada kebangkitan rohani besar-besaran terjadi dalam komsel atau area atau bidang pelayanan kita, tetapi kita melupakan penyertaan dan hikmat Tuhan ketika kita melayani jiwa-jiwa baru atau jemaat yang Tuhan kirimkan kepada kita setiap hari. Saya percaya, Bapa di surga mampu melakukan banyak mujizat yang spektakuler dan supranatural. Namun, tanpa mujizat-mujizat itu pun, bukan berarti kasihNya tidak nyata di dalam kehidupan kita.

Seperti hati yang bersukacita ketika memesan teh poci yang bisa diisi terus berulang kali, demikianlah harusnya kita bersukacita dan bersyukur karena kasih Tuhan yang terus mengalir tak ada habisnya dalam hidup kita. Berkat dan pemeliharaan Tuhan adalah sebuah jaminan bagi anak-anakNya yang mengasihi Dia. Karena itu, marilah terus menjadi anak yang mengasihi Tuhan, serta mencari dan melakukan kehendakNya. Maka, hidup kita akan terus dipenuhi dengan berkat dan kasih Tuhan yang tidak akan pernah habis dan selalu baru setiap pagi, karena memang Dia adalah Allah yang setia. Dengan atau tanpa mujizat yang supranatural, mujizat Tuhan terus dan pasti terjadi dalam hidup kita. Ingat filosofi teh poci, ingat kebenaran di Ratapan 3:22-23: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu!” dan bersukacitalah senantiasa. Haleluya!

2019-10-17T13:59:29+07:00