///Tergopoh-gopoh

Tergopoh-gopoh

Gaya hidup baru di era new normal akibat pandemi Covid-19 ternyata memang sebuah fakta yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Setelah lonjakan kasus positif di Indonesia, khususnya dalam rentang bulan Juli sampai dengan Agustus 2021, kita semua seolah disadarkan bahwa kematian itu sangat nyata dan tidak pandang bulu. Entah tua atau muda, dengan atau tanpa kondisi komorbid, kaya atau miskin, di kota atau di desa, orang beriman atau bukan, siapa pun tak mampu menentang ajal. Hanya Tuhan yang tahu dan berdaulat soal siapa yang sudah tiba pada titik waktu untuk tutup usia. Dalam situasi yang mencekam hari demi hari, kehidupan kian terasa singkat serta sementara, dan banyak manusia kian sadar untuk mengalihkan fokus hidupnya ke hal yang kekal, yaitu Tuhan.

 

Dua bulan setelah masa pertengahan tahun yang mencekam, situasi kota-kota di Indonesia terlihat mulai “normal” kembali, meski tetap tidak terlihat benar-benar sama dengan masa sebelum pandemi. Kegiatan perekonomian mulai berjalan lagi, keseharian masyarakat juga mulai berjalan rutin, pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah dibuka lagi; semuanya dalam kesadaran dan kewaspadaan ekstra setiap orang untuk menjaga protokol kesehatan pribadi maupun bersama. Kerja keras, ketekunan, dan kebijakan pemerintah kita melalui PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) secara berkala tiap satu-dua pekan membawa tingkat kematian maupun kasus baru Covid-19 menurun secara konsisten. Dari rasa cemas dan gamang, perlahan-lahan suasana di tengah-tengah masyarakat berubah menjadi rasa syukur dan semangat serta harapan baru. Banyak dari kita lalu berkenalan dengan konsep “hybrid” – dalam bahasa Indonesia, “hibrida”, yang ringkasnya dalam KBBI berarti “gabungan dari dua unsur yang berlainan”. Dalam konteks pandemi ini, konsep hybrid kita lihat dalam bentuk pertemuan berformat campuran antara tatap muka (on site) dan daring (online). Kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah, pekerjaan di kantor-kantor, berbagai acara ibadah, peringatan atau perayaan, dan sebagainya, telah mengadopsi sistem hybrid ini.

 

Setiap perubahan pasti menghasilkan dampak, termasuk pandemi dan segala penanganannya di bangsa kita serta di seluruh dunia. Apa pun dampak yang kita alami secara pribadi, kita perlu memastikan bahwa cara pikir dan sikap hati kita pun beradaptasi dengan setiap perubahan yang terjadi.  Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir, tetapi hidup terus berjalan dan waktu terus bergulir, dengan segala kompleksitas yang bertambah. Kita perlu siap menjalaninya. Sayangnya, menghadapi semua ini, banyak dari kita tanpa sadar telah terperosok ke dalam situasi “tergopoh-gopoh”. Apa maksudnya “tergopoh-gopoh”? Bagaimana supaya kita tidak menjadi tergopoh-gopoh di tengah-tengah semua perkembangan yang terjadi?

 

Sebuah perumpaan yang diceritakan oleh Tuhan Yesus dan dicatat di Alkitab mengingatkan kita akan situasi yang serupa seperti situasi kita saat ini, yaitu dalam Matius 25:1-12. Kisahnya ialah tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh. Sepuluh gadis menantikan suatu hal penting dengan persiapan mereka masing-masing, tetapi ternyata lima dari mereka terbukti bijak, sedangkan lima lainnya terbukti bodoh, dalam persiapan itu. Dalam penjelasan Alkitab versi Terjemahan Baru (TB), ada catatan khusus di judul perikop bahwa Injil Matius pasal 24 dan 25 itu sebenarnya adalah khotbah Yesus tentang akhir zaman. Rupanya, hal penting di dalam kisah perumpamaan itu, kedatangan sang mempelai laki-laki, mengacu pada kedatangan Tuhan Yesus sendiri di akhir zaman. Kita perlu hidup dengan kesadaran bahwa kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya dan akhir zaman ini adalah sebuah kepastian, yang segera tiba, terlepas dari persiapan dan kesiapan kita menantikannya.

 

Kesepuluh gadis dalam perumpamaan itu mengalami situasi yang sama. Mereka semua menantikan kedatangan sang mempelai laki-laki, dengan membawa pelita (ayat 1) dan sambil mengantuk (ayat 5). Namun, ada satu perbedaan mendasar di antara kedua jenis gadis: lima gadis yang bijaksana membawa pelita dan minyak dalam buli-buli mereka (cadangan bahan bakar untuk pelita mereka); sedangkan lima gadis yang bodoh membawa pelita tanpa membawa persediaan minyak lagi. Pelita mereka semua awalnya menyala dengan terang, tetapi lima gadis yang bodoh tidak punya cadangan bahan bakar lagi jika minyak pada pelita yang menyala itu habis. Mereka semua menantikan kedatangan mempelai laki-laki yang waktunya tidak mereka ketahui pasti, sementara pelita yang mereka bawa harus tetap menyala sampai sang mempelai laki-laki datang. Akhirnya, pada saat orang-orang berseru bahwa mempelai laki-laki segera datang, terjadilah kehebohan di antara mereka. Pelita kelima gadis bodoh itu hampir padam sementara mereka tidak membawa persediaan minyak, dan mereka meminta minyak dari persediaan milik lima gadis yang bijaksana. Permintaan ini ditolak oleh kelima gadis yang bijaksana, karena minyak dalam persediaan mereka tidak cukup untuk menyalakan sepuluh pelita. Mereka pun menyarankan agar kelima gadis yang bodoh itu pergi membeli minyak kepada penjual minyak, lalu kelima gadis bodoh melakukan saran itu. Ternyata, waktu kelima gadis bodoh pergi membeli tambahan minyak, sang mempelai laki-laki datang dan mengajak mereka yang telah siap sedia, lima gadis bijaksana tadi, masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin. Ajakan yang hanya satu kali itu lalu selesai. Pintu ruang perjamuan ditutup. Bayangkan adegan lima gadis bodoh yang bergegas menuju kedai penjual minyak lalu berlari-lari kembali ke titik penantian mereka… Betapa galau dan hebohnya mereka dalam situasi itu! Seluruh peristiwa yang dialami oleh para gadis bodoh itu dapat terwakili oleh satu kata: tergopoh-gopoh.

 

Perumpamaan tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh ini menggambarkan dua sikap yang berbeda dalam memahami dan menghadapi satu kondisi yang sama. Sekalipun kesepuluh gadis ini lama menanti dan akhirnya mengantuk, perbedaan mendasar dalam hal kesiapan hati mereka menghasilkan keputusan dan perilaku yang berbeda. Saat diberi tahu bahwa mempelai laki-laki yang dinantikan sedang datang mendekat, lima gadis yang bijaksana langsung siap sedia, sedangkan lima gadis yang bodoh tidak siap. Mereka semua telah lama menanti, tanpa kepastian waktu atau tanda-tanda. Tidak seorang pun dari mereka yang dapat memastikan tepatnya kapan sang mempelai laki-laki itu datang. Namun, sebagian dari mereka berhasil memastikan diri siap menyambut kedatangan mempelai laki-laki. Inilah pelajaran pentingnya bagi kita semua: setiap orang percaya harus senantiasa memperhatikan kondisi masing-masing agar selalu siap sedia menyambut kedatangan Kristus yang tak dapat dipastikan waktunya.

 

Kita mungkin berpikir bahwa kondisi rohani kita aman-aman saja saat ini, karena “pelita” rohani kita kelihatannya masih menyala dengan semangat dan kesibukan melayani, keaktifan mengikuti berbagai acara gereja, kerutinan bersekutu bersama komunitas seiman, atau hal-hal lainnya; tetapi bisa jadi kita telah lama lupa memastikan persediaan “minyak” kita senantiasa cukup untuk menyalakan “pelita” rohani itu, yaitu menjaga ketekunan iman serta kedekatan hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Jangan lalai. Bertekun dalam iman dan memelihara hubungan pribadi dengan Tuhan adalah hal paling esensial yang perlu mendasari segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk dalam konteks kekristenan maupun pelayanan, agar kita tetap mengalami kehadiran dan Kerajaan-Nya.

 

Minyak dalam perumpamaan ini melambangkan iman yang sejati, kebenaran dan kehadiran Roh Kudus, yang terus-menerus. Hubungan dan keintiman pribadi kita dengan Tuhan adalah minyak itu. Seperti halnya minyak menghasilkan terang bagi pelita, demikian juga hubungan pribadi kita dengan Tuhan, pengenalan pribadi kita akan Dia, oleh Roh Kudus, menghasilkan terang di dalam dan lewat kehidupan kita. Minyak itu bukanlah kesibukan, prestasi, status, kepandaian, kekayaan, status kerohanian, banyaknya orang-orang yang kita muridkan, atau jabatan pelayanan kita. Minyak itu koneksi kita yang tetap dengan Roh Kudus. Begitu berharga dan esensialnya minyak itu, sehingga fungsinya tidak tergantikan oleh apa pun.

 

Kedua kelompok gadis dalam perumpamaan yang kita bahas itu punya dua perbedaan mencolok: lima gadis yang bijaksana tahu serta melakukan hal yang benar dan esensial (menanti dengan menjaga kesiapan kondisi diri), sedangkan lima gadis yang bodoh tahu hal yang benar itu (mereka tentu tahu bahwa minyak di dalam pelita bisa habis dan perlu ada persediaan minyak) tetapi meremehkan/mengabaikannya karena gagal melihatnya sebagai esensial. Kita tidak melihat Alkitab mencatat alasan di dalam pikiran lima gadis yang bodoh itu, tetapi kita dapat memperkirakan sikap hati mereka, yang tentu tak jauh dari menganggap remeh (“ah, gampang, nanti aku bisa minta atau beli saja“), malas dan menunda-nunda (“wah, repot/berat sekali kalau aku harus membawa-bawa persediaan minyak tambahan“), atau sok tahu (“menurutku perhitunganku, minyak di dalam pelitaku ini pasti cukup dan aku pasti aman…“). Padahal, Yesus menekankan perlunya kesetiaan dan kesiagaan untuk kita tetap dan terus melakukan hal yang esensial, sampai Dia datang kembali pada waktu yang tidak dapat dipastikan oleh siapa pun.

 

Minyak adalah unsur yang esensial untuk pelita dapat menyala dan berguna, dan itulah gambaran kehidupan kita pula. Tanpa hubungan dengan Kristus dan karya Roh Kudus yang senantiasa hadir serta terlibat menuntun kehidupan kita sehari-hari, kehidupan kita hanyalah waktu yang bergulir dengan segala aktivitas dan peristiwa tanpa makna. Sebaliknya, berketetapan hati untuk berfokus pada hubungan pribadi dengan Tuhan sebagai esensi kehidupan serta tetap melakukan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah pilihan bijaksana. Layaknya pelita yang selalu menyala dan berfungsi, kehidupan kita pasti selalu terang, selalu berguna, dan selalu menjadi berkat bagi sekeliling.

 

Sesungguhnya, Tuhan telah memberikan hal penting yang menjadi kekuatan kita sebagai wanita, yaitu kepekaan, tetapi kekuatan khusus ini perlu terus-menerus dilatih dan ditumbuhkan. Bagaimana caranya? Lewat ketaatan setiap saat terhadap suara Tuhan, yang hanya bisa dibangun atas dasar kepercayaan. Dari mana kepercayaan itu? Kepercayaan lahir dari pengenalan serta hubungan yang sifatnya pribadi. Demikian juga, kepercayaan untuk melakukan segala tuntunan suara Tuhan terbangun dan tumbuh dari hubungan pribadi serta keintiman kita dengan Tuhan. Itulah mengapa hubungan pribadi dengan Tuhan tidak tergantikan oleh apa pun juga. Itulah minyak yang membuat pelita (kehidupan) kita tetap menyala.

 

Penghujung tahun ini adalah momentum yang baik untuk mengevaluasi semua yang telah terjadi di dalam kehidupan kita, serta menyiapkan hati untuk memasuki tahun yang baru. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti, termasuk perkembangan situasi pandemi ini selanjutnya, tetapi satu hal tidak akan pernah berubah: Tuhan dan kedaulatan-Nya atas segala sesuatu. Jangan terjebak di dalam begitu banyak hal yang harus dikerjakan, waktu yang begitu cepat berjalan, atau gaya hidup yang perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sampai lupa akan hal yang esensial. Jangan biarkan dirimu tergopoh-gopoh. Mulailah dan teruslah setia berhubungan pribadi dengan Tuhan, biarkan hatimu dan hati Tuhan makin intim, dan tekunlah dalam ketaatan terhadap suara tuntunan-Nya dalam segala situasi; maka engkau akan siap menyambut kedatangan Tuhan, kapan pun itu.

 

Yakobus 1:2-4

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

 

Pertanyaan refleksi pribadi:

  1. Ambillah waktu perenungan pribadi dan temukan kapan engkau pernah terjebak hingga menjalani hidup dengan tergopoh-gopoh selama tahun ini. Saat tergopoh-gopoh, bagaimana kualitas hubungan pribadimu dengan Tuhan? Apakah saat itu engkau ingat untuk melakukan tuntunan-Nya?
  2. Renungkan kembali: bagaimana kualitas hubungan pribadimu dengan Tuhan sepanjang tahun ini? Ingatlah dan catatlah hal-hal yang telah menjadi penghalang keintiman dan waktu pribadimu dengan Tuhan (kesibukan/pekerjaan/pelayanan).
  3. Bagaimana engkau akan mulai berfokus pada hubungan pribadimu dengan Tuhan mulai saat ini dan sepanjang tahun depan? Bersediakah engkau mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan kelak?
2021-11-26T12:54:10+07:00