Terjepit

Umumnya usai berlibur kebanyakan orang merasa lebih segar, lebih bersemangat, dan bahagia, tetapi tidak demikian halnya dengan Monik kali ini. Sepulang berlibur, Monik justru merasa sakit pada seluruh tubuhnya, terutama ketika digerakkan. Bahkan sejak tiba di rumah, Monik nyaris tidak dapat berbaring untuk tidur dan semalam-malaman Monik terjaga karena kesakitan yang luar biasa.

Ditemani suaminya, Monik pun memeriksakan dirinya ke dokter. Menurut hasil rontgen, dia mengalami cedera otot dan harus diterapi. Terapi dilakukan hingga satu bulan lamanya, tetapi sepertinya Monik tidak merasakan perubahan apa pun. Rasa sakit itu sepertinya tidak berkurang. Monik pun mulai kalut dan mencoba mencari opini dari dokter lainnya. Oleh dokter kedua, Monik disarankan untuk menjalani pemeriksaan MRI untuk mengetahui masalahnya dengan pasti. Hasil MRI menunjukkan adanya serabut saraf yang terjepit oleh tulang, dan dia pun melakukan terapi yang berbeda sambil mengonsumsi obat agar dapat tidur dan mengurangi rasa sakitnya.

Sebulan berikutnya berlalu, tetapi terapi yang kedua ini pun tidak menunjukkan perubahan. Monik mulai putus asa karena sudah dua bulan dia lewati tanpa dapat melakukan apa-apa. Kesakitan bercampur dengan rasa tertekan sekaligus rasa tertuduh. Saat malam tiba dan dia tidak sanggup memejamkan mata karena sakit, Monik sering terintimidasi hingga dalam hatinya berkata, “Tuhan… mengapa ini bisa terjadi kepada diriku? Apa yang yang salah dengan diriku?” Didera intimidasi, Monik tidak dapat lagi berdoa, bahkan sulit untuk merenungkan Firman Tuhan yang dia baca, apalagi untuk mengerti maksud-Nya. Selain itu, kekhawatiran soal biaya pengobatan dan terapi membuat Monik resah sekaligus merasa bersalah. Apalagi, kunjungan ke dokter ketiga dengan serangkaian terapi dan obat ketiga pun tak kunjung meredakan kondisi Monik.

Di saat sepertinya tidak ada jawaban tentang kondisi Monik, ternyata komunitasnya menjadi pendukung setia yang giat menguatkannya. Doa dan Firman Tuhan terus-menerus dikirimkan kepada Monik, hingga salah satu Firman Tuhan berbicara kuat dan memberkati Monik: Mazmur 18:31, “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.” Melalui ayat itu, Tuhan berkata di dalam hati Monik bahwa tidak ada yang salah pada dirinya, bahwa jalan Tuhan itu sempurna atas hidupnya. Firman Tuhan inilah yang membuat iman Monik bangkit. Sejak hari itu, iman dan rohnya terasa berbeda. Monik tidak lagi mengasihani dirinya, bahkan mulai mengambil langkah iman untuk melayani sesama meskipun kondisinya belum membaik.

Monik memang tidak sembuh mendadak begitu saja. Namun, dia terus memercayai Tuhan bahwa Dia sanggup menyembuhkannya. Pada suatu titik, Monik mengalami bahwa Tuhan memperhatikan imannya dan menuntunnya ke dokter yang tepat. Inilah dokter yang keempat. Oleh diagnosis dan penanganannya menurut tuntunan Tuhan, Monik secara bertahap makin pulih dari sakitnya. Bahkan, Tuhan menjawab lebih daripada pemikirannya, dengan mencukupkan kebutuhan biaya pengobatannya. Sampai selesai terapi dan pengobatan, setelah Monik pulih dengan tuntas, Monik sekeluarga sama sekali tidak menjadi kekurangan karena melunasi semuanya.

Saat ini, Monik merenungkan pengalamannya. Memang banyak orang, ketika mengalami penderitaan, menjadi lemah oleh serangan intimidasi. Monik teringat akan rasa tertuduh, sepertinya Tuhan diam, tidak ada pertolongan Tuhan, rasa bersalah dan membebani, dan banyak lagi lainnya yang dia sendiri sempat rasakan. Rupanya, berbagai perasaan itu muncul karena pekerjaan iblis yang suka mendakwa dan mencari anak-anak Tuhan yang sedang lemah iman dan roh  (1 Ptr. 5:8). Dari perenungan itulah, Monik bertekad bahwa hidupnya kini harus senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus, sebab hanya Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk dapat memahami maksud dan rencana Tuhan di dalam segala keadaan. Monik tahu, Roh Kuduslah satu-satunya yang dapat memberinya iman, pengharapan, dan roh yang kuat.

Namun, bagaimana kalau dipimpin Roh Kudus itu menjadi terlalu sulit karena kita telanjur menjadi sangat lemah? Monik menemukan jawabannya di dalam komunitasnya. Persekutuan dengan komunitas ternyata telah “memaksa” Monik untuk tetap bersekutu dengan Tuhan melalui Firman-Nya, sekaligus menerima pekerjaan Roh Kudus melalui berbagai dukungan dari komunitas itu. Hasilnya, Monik belajar untuk memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dalam menjalani hari-hari sulitnya, bahkan seiring dengan pemulihannya dia belajar untuk hidup tanpa berfokus pada penderitaannya sendiri. Oleh kuasa Roh Kudus lewat penguatan teman-teman di komunitas, Monik menjadi mampu untuk kembali memiliki hati untuk melayani orang lain. Dia ingat momen ketika dirinya mulai mematikan keinginan daging serta kemalasannya, berhenti mengasihani diri, dan belajar mempersembahkan tubuh kepada Tuhan. Monik menggantikan semuanya itu dengan membangun persekutuan yang erat dengan Tuhan, dengan komunitas, dan melayani orang  lain.

Sungguh, betapa takjubnya kini Monik mengingat pimpinan dan pekerjaan Roh Kudus di dalam seluruh pengalamannya! Dia makin mengerti akan maksud-maksud Tuhan di dalam hidupnya, menjadi berkat, dan memberi kesaksian iman bagi banyak orang.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:1-2)

 

Refleksi Pribadi

  1. Dalam situasi dan kondisi pribadi Anda saat ini, apa yang harus Anda lakukan untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah, yaitu sebagai ibadah yang sejati?
  2. Hal-hal apa yang Anda perlu lakukan secara praktis agar hidup Anda terus dipimpin oleh Roh Kudus?
  3. Selama ini, sudahkah Anda setia membangun persekutuan dengan Tuhan dan komunitas?
2021-09-28T11:37:40+07:00