///Tertanam itu Indah

Tertanam itu Indah

Di rumah, saya memelihara beberapa tanaman; sebagian besar adalah tanaman bunga, dan ada beberapa tanaman buah. Dari taman kecil di rumah ini, saya banyak belajar dan memahami makna sesungguhnya dari kata “tertanam”. Saya jadi mengerti bahwa tertanam itu perlu dipahami dan dimaknai secara benar, matang, dan dewasa. Ternanam adalah sebuah proses pertumbuhan dan kedewasaan, dan tentu di dalam proses tertanam itu pasti menghasilkan keindahan yang jelas terlihat.

Salah satu jenis tanaman bunga di rumah saya pertama kali ditanam pada bulan Oktober 2015 yang lalu, yaitu bunga Amarylis berwarna merah. Tanaman bunga ini begitu unik karena bertumbuh dari umbi, bukan akar seperti tanaman bunga pada umumnya. Sejak pertama kali Amarylis ini ditanam di rumah, saya mengharapkan akan segera menikmati bunganya yang indah dan merah merona pada waktu mekar. Apalagi, Amarylis merah akan mekar menjadi empat bunga besar dalam satu tangkainya. Wah… rasanya tidak sabar menunggu dan menikmati keindahannya. Awalnya bunga ini langsung ditanam di tanah, tetapi saya memindahkannya ke pot berukuran lumayan besar supaya lebih mudah dirawat.

Dalam penantian akan keindahan mekarnya Amarylis merah, saya merawatnya dengan tekun (menyiram, mengganti media tanamnya, menambah pupuk bunga, dan sebagainya). Namun, dia tidak juga berbunga bahkan setelah 2-3 tahun sejak ditanam. Rasanya saya mulai putus asa setiap kali melakukan ini itu tetap tidak mendapati tanda-tanda bakal bunga yang keluar. Tanpa saya sadari, saya mulai mengabaikan proses pertumbuhan si Amarylis merah ini. Sejujurnya saya hanya memperhatikan dan merawatnya saat saya punya waktu, saya tidak lagi melakukannya secara intensional.

Setelah menanti kurang lebih enam tahun, justru saat pandemi Covid-19, untuk pertama kalinya Amarylis merah di rumah saya berbunga. Hari-hari mekarnya bunga saat itu sungguh menjadi penghiburan bagi saya ketika sekian lama harus beraktivitas di rumah. Senang sekali rasanya menemukan tunas yang keluar dari umbinya sebagai bakal bunga, dan lebih terkejut lagi waktu saya tahu bahwa satu tunas itu menghasilkan empat kuntum bunga Amarylis merah yang besar-besar! Cantik sekali!

Meresapi keindahan di hadapan saya itu, saya jadi belajar tentang bagaimana jika kita tertanam dengan benar maka proses itu, meski panjang dan lama, pasti akan menghasilkan pertumbuhan yang disertai dengan keindahan.

Tertanam bukanlah sekadar menempel di tanah sebagai media tanam, tetapi bagaimana akar atau umbi itu menyatu dengan tanahnya, mendapatkan nutrisi terbaik, dan bertumbuh sehat melalui setiap tahap dalam prosesnya. Tanaman menjadi sehat dan kuat karena mendapatkan cukup sinar matahari, air, pupuk dan juga media tanam yang tepat untuk akarnya. Proses yang demikian dengan sendirinya menunjukkan hasil yang terlihat berupa bunga maupun buahnya setelah waktunya tiba.

Perjalanan pertumbuhan pengenalan kita akan Tuhan secara pribadi pun demikian. Pertumbuhan kita memerlukan proses waktu, tetapi juga kita perlu memastikan bahwa kita tidak hanya sekadar “menempel” di tanah atau “dekat” dengan tanaman lainnya. Agar sungguh-sungguh bertumbuh, kita perlu menyadari bahwa “akar iman” mendapat segala asupan rohani yang dibutuhkan sehingga terus makin sehat dan kuat. Inilah tertanam yang sejati, dalam konteks kerohanian kita. Semakin kuat kita tertanam, semakin sehat dan maksimal pula pertumbuhan kita.

Pentingnya kekristenan kita adalah kekristenan yang tertanam menjadi bagian dari nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Kolose, seperti Kolose 2:6-7 (FAYH) menuliskan, “Sebagaimana Saudara percaya bahwa Kristus menyelamatkan Saudara, demikian juga percayakanlah setiap persoalan Saudara sehari-hari kepada-Nya. Hiduplah dalam persekutuan dengan Dia.  Hendaklah Saudara berakar di dalam Dia dan memperoleh kekuatan dari Dia. Berusahalah agar terus-menerus tumbuh di dalam Tuhan, dan menjadi kuat serta bersemangat dalam kebenaran yang telah diajarkan kepada Saudara. Semoga hidup Saudara berlimpah-limpah dengan sukacita dan rasa syukur atas segala yang telah dilakukan-Nya.

 

Anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah sebuah dasar dan pijakan iman untuk terus bertumbuh dengan memercayakan kehidupan sehari-hari kita kepada-Nya. Kepercayaan itu akan semakin menguatkan akar iman kita jika kita:

  • Hidup dalam persekutuan pribadi dengan Dia

Kesadaran bahwa Tuhan ada dan terlibat dalam apa pun yang sehari-hari kita kerjakan adalah kunci. Dalam menjalani kehidupan dengan setiap tanggung jawabnya dan urusannya, segala sesuatu akan menjadi hal yang indah dan berharga kalau kita jalani dengan kesadaran untuk melibatkan Tuhan. Tidak ada hal yang terlalu kecil untuk Tuhan terlibat dan tidak ada yang terlalu besar atau sulit untuk Tuhan tolong kita. Percayalah!

  • Berakar di dalam Dia

Pastikan agar dalam setiap hal yang kita kerjakan sehari-hari dan setiap keputusan yang kita ambil semuanya kita lakukan dengan iman. Kita tidak melakukan apa pun demi untuk mendapatkan pengakuan, penghargaan, atau penerimaan orang lain, tetapi kita melakukannya karena kita tahu bahwa Tuhan mau kita melakukannya dengan iman (dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia).

  • Memperoleh kekuatan dari Dia

Semakin kita berakar di dalam Kristus dan karya penebusan-Nya, semakin kita akan memperoleh kekuatan dari Dia saja. Ini adalah karena kita sadar bahwa segala sesuatu kita lakukan karena kekuatan yang Dia anugerahkan, dan bukan karena kekuatan atau kesanggupan kita sendiri. Menyadari betul Kristus sebagai kekuatan kita akan mengalirkan kekuatan-Nya itu dalam segala hal yang kita kerjakan dalam iman kepada Dia.

 

Nah, proses terus-menerus dalam ketiga hal ini itulah yang disebut tertanam dan pertumbuhan rohani. Hasilnya adalah sebuah keindahan yang pasti, karena Firman Tuhan menjamin bahwa hidup kita akan berlimpah-limpah dengan sukacita dan rasa syukur atas segala yang telah dilakukan-Nya. Sukacita kita ada di dalam apa pun yang Tuhan kerjakan, karena Tuhan adalah sumbernya.

Kesimpulannya, keputusan kita untuk hidup tertanam dan bertumbuh rohani adalah sebuah tanda kedewasaan. Hasil dari keputusan itu diikuti dengan prosesnya, yang membuat akar iman kita sehat dan kuat serta kita diteguhkan melalui setiap pengalaman indah secara pribadi bersama dengan Tuhan. Dampaknya, sukacita serta rasa syukur berlimpah-limpah karena kita menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber atas setiap pengharapan kita. Apakah kita sudah dan masih tetap mengalaminya? Jika kita tertanam dengan benar, pastilah kita bertumbuh!

 

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa yang muncul dalam pikiranmu saat membaca/mendengar kata “tertanam”? Mengapa?
  2. Hal apakah yang menurutmu membuat orang enggan tertanam?
  3. Hal apakah yang menurutmu menjadi berkat saat kita memilih untuk tertanam?
  4. Buatlah komitmen untuk engkau secara pribadi hidup tertanam dalam komunitas gereja lokal, komunitas sel, dan pemuridan.
2023-07-28T09:01:11+07:00