///Tertipu karena Cinta

Tertipu karena Cinta

Pelataran rumah sang pangeran mahkota yang indah tidak lagi menarik perhatiannya. Dengan tergesa-gesa Tamar segera melewatinya dan dalam sekejap sudah berada di depan pintu rumah sang pangeran. Seorang pelayan muda segera memberi hormat dengan senyum ramah, dan segera membawanya ke ruangan tengah di mana terlihat seorang pemuda tampan dan gagah sedang berbaring di sebuah kursi panjang dan besar yang ada di tengah-tengah ruangan itu. Tanpa disadari, pandangan mata Tamar berusaha mencari tahu apa reaksi sang pangeran mahkota dengan kehadirannya. Setelah pelayan memberitahukan kehadirannya pada sang putra mahkota, hatinya berdegup kencang karena ia melihat pandangan mata gagah memandangnya dengan rindu dan senyuman menghiasi wajahnya. Tanpa membuang waktu lagi, supaya tidak terlihat gugup, Tamar segera mengeluarkan peralatan membuat kue dan bahan dari keranjang yang dibawanya di atas meja yang terletak tidak jauh dari tempat sang pangeran berbaring. Ia segera sibuk menyiapkan kue kesukaan pujaan hatinya. Tamar sedikit panik karena kali ini ia tidak dapat membuat kue dengan tenang, berhubung ada sepasang mata yang terus memandanginya dengan “penuh kasih”. Setelah berjuang untuk dapat tetap tenang meremas adonan kue dan membakarnya, akhirnya selesai juga kue buatan tangannya itu. Amnon bangkit dari tempatnya berbaring dan melangkah dengan lemas menuju kamar yang terbuka pintunya dan langsung berbaring di atas tempat tidurnya.

“Keluarlah kalian semua dari ruangan ini!” perintah Amnon kepada semua pelayan yang ada di ruangan itu. Jantung Tamar berdegup main kencang, karena ia gembira bisa berdua saja dengan sang pangeran mahkota dalam ruangan pribadi sang pangeran. Tidak berapa lama kemudian, Amnon memanggilnya untuk masuk ke kamarnya dan menolongnya makan kue buatan tangannya itu. Saat itu Tamar sudah lupa akan segala nasihat ibunya tentang tidak dibenarkan untuk berada hanya berduaan dalam kamar dengan lawan jenis, khususnya dengan orang yang dikaguminya itu. Demikian juga cerita ayahnya Daud tentang betapa bahayanya daya tarik pesona lawan jenis sudah dilupakannya.
Serasa dalam mimpi, ia mengayunkan langkahnya mendekati tempat tidur sang pujaan hati. Semakin ia mendekati sang pangeran mahkota, jantungnya makin bergelora, apalagi sekarang ia dapat melihat lebih jelas wajah tampan sang pangeran. Tidak ada kekuatan lagi dalam dirinya untuk mengingat bahwa ia sekarang sedang berhadapan dengan seorang pria yang dapat melakukan apa saja kepada dirinya. Perlahan Tamar duduk di sebelah tubuh sang pangeran yang sedang berbaring, sementara aroma harum wewangian yang digunakan sang pangeran semakin membuatnya mabuk kepayang. Sambil tersenyum malu-malu, Tamar berusaha mengambil kue dari pinggan yang dibawanya untuk disuapkan kepada sang pujaan hati.
Tapi betapa terkejutnya sang puteri Tamar, saat kakaknya Amnon memegang tangannya dengan kuat dan mengajaknya berhubungan badan sebagaimana layaknya suami istri. Bagaikan disiram air dingin, Tamar berusaha menolaknya. Tapi nasi telah menjadi bubur, segala usahanya sia-sia. Hari indah yang menjadi impiannya itu akhirnya berubah menjadi hari terlaknat dalam kehidupan sang puteri yang cantik dan ceria, Tamar.

Puteri raja Daud, Tamar, diperkosa oleh sang pujaan hatinya sendiri, kakak tirinya sendiri, Pangeran mahkota Amnon. Namun tidak hanya sampai di situ, Tamar pun diusir bagaikan pelacur keluar dari rumah sang pangeran. Ia keluar hanya ditemani oleh seorang pelayan yang terheran-heran menyaksikan kejadian memalukan itu. Tamar segera berlari keluar kamar dan rumah sang pangeran sambil merobek gaun indahnya dan menaburi rambutnya yang berantakan dengan abu yang diambilnya di sepanjang jalan menuju rumah. Tamar sudah tidak mempedulikan puluhan pasang mata yang melihat kelakuannya. Sambil meratap dengan pilu, ia masuk ke dalam rumah dan kamarnya, menutup pintu kamar sekaligus menutup cerita mimpi indah cintanya. Ia telah tertipu karena cinta.

Seharusnya sang puteri Tamar tidak perlu mengalami bencana ini, seandainya… Seandainya ia tetap berpegang pada nasehat kedua orang tuanya, bukannya rayuan sang pangeran dan “cinta” yang dirasakannya… Seandainya ia memiliki orang lain yang dapat menjadi sahabat “curhat” dan penasehatnya yang hidup dalam Kebenaran Firman Tuhan… Seandainya… Seandainya…

Pelayanan Bimbingan PraNikah yang ada di jemaat Abbalove saat ini hadir untuk situasi-situasi yang rawan bagi kita yang sedang mengalami cinta. Oleh karena itu, sebelum tertipu oleh cinta dan kehilangan mimpi masa depan kita, hubungilah sekarang juga Pelayanan Bimbingan PraNikah di gereja lokal di mana kita beribadah, dan alamilah cinta yang sejati yang tidak menipu.
(adopsi bebas dari 2 Samuel 13:1-22)

2015-03-26T07:34:34+07:00