The Almighty God

Allah Yang Mahakuasa memiliki rancangan yang sempurna. Ia memiliki rencana induk atau blueprint yang sempurna untuk diwujudkan. Rencana induk ini berupa Tanah Perjanjian yang telah dipersiapkan sebelumnya. Untuk melaksanakan rencana tersebut, Ia berfirman pada Abraham, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat,” (Kej. 12:1-3). Abram pergi sesuai perintah firman Tuhan.

 

Selanjutnya, meski Abraham sempat gagal, Tuhan tidak mengubah keputusanNya. Ia tetap berfirman kepada Abraham, “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmu pun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu,” (Kej. 13:14-17). Ia pun menjelaskan maksudNya melalui nabi Yeremia, “Dari jauh Tuhan menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setiaKu kepadamu,” (Yer. 31:3). Sebagai Pribadi Yang Mahakuasa, Tuhan menyatakan diri kepada Abraham dan memberi jaminan kepadanya. Musa pun mengisahkan hal ini, “Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan, ‘Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar,’” (Kej. 15:1). Tuhan menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, agar mereka percaya kepada Dia. Ia berjanji untuk membebaskan keturunan Abraham dari perbudakan yang akan dialami nanti. Maka, Musa menulis janji Tuhan pada Abraham, “Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak,” (Kej. 15:13-14).

 

Allah tidak henti-hentinya “mengejar” Abraham. Pada suatu kali, Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman, “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapanKu dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak,” (Kej.17:1-2). Tuhan terus-menerus menyatakan sifat-sifat pribadiNya melalui namaNya kepada Abraham dan keturunannya. Tuhan sungguh ingin mereka percaya kepada nama yang melekat pada diriNya. Tak putus-putusnya Tuhan berjanji, “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka,” (Kej. 17:6-8).

 

Setelah berjanji, Tuhan yang besar dan Mahakuasa itu bertindak sesuai janjiNya. Musa menulis tentang penggenapan janji Tuhan kepada Sara, “Tuhan memperhatikan Sara, seperti yang difirmankanNya, dan Tuhan melakukan kepada Sara seperti yang dijanjikanNya. Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam masa tuanya, pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai dengan firman Allah kepadanya,” (Kej. 21:1-2). Tuhan bertindak tepat pada waktunya, dan lahirlah Ishak sesuai janjiNya kepada Abraham dan Sara. Tetapi, Ishak yang adalah pemenuhan yang dijanjikan Tuhan justru diminta kembali oleh Tuhan untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran. Dan Abraham pun taat.

 

Ketika Abraham taat, Tuhan menyatakan diriNya lebih hebat lagi. Ia berjanji disertai sumpah kepada Abraham dan keturunannya. Musa menulis isi sumpah itu, “Aku bersumpah demi diriKu sendiri — demikianlah firman Tuhan –: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya,” (Kej. 22:16-17).

 

Sebenarnya, untuk apa Tuhan bersumpah? Kurang meyakinkankah Allah sehingga Ia bersumpah? Penulis kitab Ibrani menjelaskan maksud Allah mengikat diriNya dengan sumpah, yakni meyakinkan kita yang berhak menerima janji Tuhan, bahwa Yang Mahakuasa pasti menggenapkan janjiNya, “Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah, supaya oleh dua kenyataan yang tidak berubah-ubah, tentang mana Allah tidak mungkin berdusta, kita yang mencari perlindungan, beroleh dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita,” (Ibr. 6:17-18). Itulah sebabnya, Tuhan membebaskan keturunan Abraham dari perbudakan di tanah Mesir. Ketika mereka terjepit oleh himpitan antara tentara Mesir dan Laut Teberau, Allah langsung mengeringkan lautan agar orang Ibrani berjalan lewat. Tuhan mengeluarkan air dari batu karang untuk memberi minum kepada orang Israel yang mengalami kehausan. Tuhan juga menurunkan manna dari surga untuk mengenyangkan mereka yang kelaparan. Tuhan mengirimkan daging puyuh yang berkelimpahan di kemah-kemah orang Israel di padang gurun. Tuhan Yang Mahakuat itu mengeringkan Sungai Yordan yang sedang meluap, untuk menyeberangkan orang Israel. Tuhan juga merobohkan tembok kota Yerikho yang kokoh dan kuat itu, untuk memberikan kemenangan kepada orang-orang Israel. Bahkan, Tuhan menghentikan matahari hingga tidak tenggelam selama satu hari, demi Yosua dan orang Israel mengalahkan musuh-musuh mereka.

 

Tuhan yang memulai dengan Abraham, juga telah memperkenalkan diriNya kepada kita dalam kitab Wahyu, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa,” (Why. 1:8). Oleh sebab itu, dalam satu bulan ini melalui renungan Saat Teduh, kita akan belajar mengenal Pribadi Yang Mahakuasa itu. Mari, hiduplah di dalam janji Tuhan, karena Ia pasti menggenapi janjiNya pada kita. Jangan menyerah kepada situasi dan kondisi yang Anda hadapi saat ini, sebab Allah tidak akan pernah membiarkan kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita. Dengan berani, kita akan berkata bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah penolong kita.

Selamat menikmati proses penggenapan janji Tuhan.

2016-06-24T08:51:16+07:00