//The Art of “War”: Dealing with Conflicts (战术)

The Art of “War”: Dealing with Conflicts (战术)

Wherever we go, whatever we do, we can never avoid conflicts. No, the majority of us do not experience the heat of an actual, physical war, of course, but we all have to fight in the constant battle of life in the form of conflicts. For an example, when we wake up in the morning, we are faced with internal conflicts whether we want to get off the bed or to continue sleeping. Like it or not, conflicts happen in our everyday lives, both internally within ourselves and externally with others. Everyone is different from each other and differences cause conflicts, which then lead to those “battles” in life. Hence, the “war” and the “enemies”.

无论我们走到哪里,无论我们做什么,都会遇到某种形式的 “战争”。这不是意味着武装部队之间的肉体战争,我们大多数人都没有经历过,而只是一方与另一方之间的冲突或对立,无论是在我们自身内部还是在与他人有关系。例如,当我们早上醒来时,只要我们睁开眼睛,我们就会在负责开始做所有需要做的事情的念头和想要重新入睡的懒惰欲望之间进行一场战斗。不管你喜不喜欢,不管你承认不承认,这样的争战每一个人都有发生,在整天里。同样,在我们与他人的联系中,有些事情可能会发生冲突或矛盾。每个人都是不同的,这些差异往往会导致冲突,这本身就是一场战争。冲突变成了“战争”,对方变成了“对手”。

Ke mana pun kita pergi dan apa pun yang kita lakukan, kita akan berjumpa dengan suatu bentuk “peperangan”. Yang dimaksud bukanlah perang antar pasukan bersenjata secara fisik, yang tidak dialami kebanyakan dari kita, melainkan konflik atau pertentangan antara satu pihak dengan pihak lainnya, baik di dalam diri kita sendiri maupun yang terkait dengan orang lain. Contohnya saja, begitu kita membuka mata saat bangun di pagi hari, di dalam diri kita timbul peperangan antara pikiran yang bertanggung jawab untuk mulai melakukan segala hal yang perlu dilakukan dengan keinginan malas untuk kembali tidur. Suka atau tidak, diakui atau tidak, peperangan semacam ini terjadi setiap saat pada setiap orang, sepanjang hari. Demikian pula, dalam hubungan kita dengan orang lain, ada saja hal yang dapat menjadi konflik atau pertentangan. Setiap orang berbeda dan perbedaan ini cenderung menimbulkan pertentangan, yang merupakan suatu peperangan tersendiri.  Pertentangan itu pun menjadi “peperangan”, dan pihak-pihak yang bertentangan itu saling menjadi “lawan”.

 

 

Looking further, we can see how conflicts are actually proofs that God has created every person as unique. Furthermore, conflicts are also proofs that we are actually building relationships with other people. Having different characters, cultures and backgrounds, we will be faced with different perspectives; and different perspectives have great potentials to trigger conflicts. Interestingly, the conflict intensities may also grow stronger as we get to know others better. The closer we get to someone, the more intense the conflicts are. Not only it applies to familial relationship, but also to our lives as parts of communities. So how should we handle conflicts? Should we just run from it, or fight against it head-on?

生活中的战争实际上显示了神创造我们每个人的奇妙工作。 祂以独特的方式创造了每个人,具有不同的性格、能力、文化和背景。 结果,每个人看待事物的方式都不一样,这就是矛盾产生的地方。 有趣的是,我们与他人的关系越密切,这种差异就可以越明显地看到或感觉到,因此发生的冲突就越尖锐。 家庭关系和我们日常社交圈中的关系无疑表明了这一点。 我们应该如何处理它? 这场战争可以逃避,还是我们应该面对它?

Peperangan dalam kehidupan sebenarnya menunjukkan pekerjaan Tuhan yang indah dalam menciptakan kita masing-masing. Setiap orang diciptakan-Nya unik, dengan segala karakter, kemampuan, budaya, serta latar belakang yang berbeda-beda. Alhasil, setiap orang punya cara pandang yang berbeda-beda pula terhadap segala sesuatu, dan dari sinilah muncul pertentangan. Menariknya, makin erat hubungan kita dengan orang lain, makin jelas pula perbedaan ini terlihat atau terasa, sehingga makin tajam pula pertentangan yang terjadi. Hubungan-hubungan di dalam keluarga maupun lingkaran pergaulan kita sehari-hari tentu menunjukkan hal ini. Bagaimana seharusnya kita menyikapinya? Dapatkah peperangan ini dihindari saja, atau haruskah kita menghadapinya?

 

 

In dealing with conflicts, people have different responses. Some would directly engage at conflicts, some would flee from them, and some would try to resolve conflicts as best as they can. Whichever attempts we take, there is no “most effective” or foolproof way to deal with conflicts. In fact, in the battle of life, it is not a war against others as our enemies, or a war to win by reigning over others and merely reaching our goals. It is instead how we win by taking all parties involved to reach the conflict resolution. This is why dealing with conflicts is actually considered the “art of war”. What we need to master this art is not as great power as possible or as sharp strategies as possible, but the ability to understand and put into practice what’s necessary so that everyone involved is enabled to resolve the conflict. Just like with any other art, despite there are people who are talented in it, we can always build certain skills to deal with conflicts.

人们以不同的“战争方式”处理冲突。有的人立即全力以赴,全力抵抗,有的人选择逃离“战场”直躲到战火平息,也有的人通常试图与“对手”谈判,直到达到了预期的目标。无论我们以哪种方式征战,没有一种方式是最正确的或保证会成功。毕竟,在这场生活之战中,胜利不是在摧毁对手或夺取我们的目标时取胜的,而恰恰是当我们和对手都能够战胜现有的矛盾时。在我们讨论的情况下,这就是“战争艺术”的含意。这门艺术需要的不是最大的力量或最敏锐的聪明才智,而是一种理解和实践需要做某些事的特殊能力,以便使冲突各方都能克服矛盾。与任何艺术一样,虽然某些人可能看起来比其他人更有天赋,但我们都可以在“战争艺术”中学习和锻炼我们的能力。

Orang menghadapi konflik dengan “cara berperang” yang berbeda-beda. Ada orang yang langsung saja berperang dengan kekuatan penuh dan segenap perlawanan, ada orang yang memilih lari dari “medan perang” dan bersembunyi sampai peperangan itu mereda, dan ada pula yang biasa berusaha bernegosiasi dengan pihak “lawan” sampai tercapai tujuan yang diinginkan. Yang mana pun cara berperang kita, tidak ada cara yang paling benar atau yang terjamin sukses. Lagipula, dalam peperangan kehidupan ini, kemenangan bukanlah kita raih ketika menghancurkan lawan atau merebut tujuan kita, melainkan justru ketika kita dan lawan sama-sama mampu mengatasi pertentangan yang ada. Dalam konteks pembahasan kita, inilah yang dimaksud dengan “seni berperang”. Yang dibutuhkan dalam seni ini bukanlah kekuatan yang sebesar-besarnya atau kecerdikan yang setajam-tajamnya, melainkan justru kemampuan khusus untuk memahami dan mempraktikkan apa yang perlu dilakukan agar semua pihak dalam pertentangan mampu mengatasi pertentangan itu. Sama seperti seni apa pun lainnya, meski ada saja orang-orang tertentu yang tampaknya lebih berbakat daripada yang lain, kita semua dapat mempelajari dan melatih kemampuan kita dalam hal “seni berperang”.

 

 

Now, handling conflicts requires our maturity. And being Christians, how we measure our maturity is by looking at our growth in the knowledge and practice of the Word of God. Our maturity is highly dependent on how we grow in the truth, which means that if we grow stronger in God’s Word, we will be able to respond well when faced with conflicts. We become more mature in how we handle conflicts and wise in making our decisions to effectively handle them, like some examplary figures in the Bible dealt with their conflicts. Jacob reconciliated with Esau after years of running away from him. Barnabas decided not to give up on John Mark despite being left in the middle of his ministry trip with Paul, resulting in Paul accepted John Mark back as his fellow minister. And the greatest example of all: Jesus; who forgave everyone despite what they had done to Him! What about us and our own conflicts?

在生活的冲突或矛盾中战斗中需要自我成熟。作为基督徒,我们可以从我们在认识和实践上帝话语方面的成熟来衡量我们每个人的成熟度。我们越坚守上帝话语的真理,我们就能越熟练地在生活中争战。也就是说,我们对每一个冲突和冲突的反应在克服它方面就能变得更加成熟和有效。圣经中记录了一些精通“兵法”的人的例子,即处理冲突或很成熟的处理矛盾的人物。例如,雅各在逃避哥哥的愤怒多年后,终于与以扫和解了。另一个例子,巴拿巴并没有放弃约翰·马可,即使他在与保罗一起事工时离开了他,所以最终保罗再次接受了约翰·马可作为他们的事工伙伴。然后,最完美的例子,耶稣;他宽恕、爱戴、接纳所有做过一切伤害他、使他受痛苦的人!我们自己怎样呢?

Berperang dalam konflik atau pertentangan kehidupan membutuhkan kedewasaan diri. Sebagai orang Kristen, kita dapat mengukur kedewasaan diri kita masing-masing dari pertumbuhan kita dalam pengenalan dan praktik Firman Tuhan. Makin kuat kita berpegang pada kebenaran Firman Tuhan, makin mahir pula kita berperang dalam kehidupan. Artinya, respons-respons kita terhadap setiap konflik dan pertentangan menjadi makin dewasa dan makin efektif untuk mengatasinya. Beberapa contoh orang yang mahir dalam “seni berperang” ini tercatat di dalam Alkitab, yaitu tentang tokoh-tokoh yang menyikapi konflik atau pertentangan yang dialami dengan penuh kedewasaan. Yakub, misalnya, akhirnya berdamai dengan Esau setelah bertahun-tahun lamanya lari dari kemarahan kakaknya itu. Barnabas, contoh lainnya, tidak menyerah terhadap Yohanes Markus meski pemuda itu pernah meninggalkannya saat dia berada dalam perjalanan pelayanan bersama Paulus, sehingga pada akhirnya Paulus pun menerima Yohanes Markus kembali sebagai rekan pelayanan mereka. Lalu, contoh yang paling sempurna, Yesus; Dia mengampuni dan mengasihi dan menerima semua orang yang telah melakukan segala hal yang menyakitkan dan melukai diri-Nya! Bagaimana dengan kita sendiri?

 

 

Let us learn from the Bible’s perspective. Paul and the writer of The Epistle to The Hebrews agree that dealing with conflicts is highly important. Paul advised, “If it is possible, as far as it depends on you, live at peace with everyone,” (Rom. 12:18, NIV); while the writer of The Epistle to The Hebrews wrote, “Make every effort to live in peace with everyone and to be holy; without holiness no one will see the Lord,” (Heb. 12:14, NIV). Both of them agree that as disciples of Christ (also, fellow members of His Body and fellow servants in His Kingdom), we need to pursue peace with every effort. Paul emphasized on how living at peace with everyone should be a priority for us in living in communities; and it doesn’t depend on others, but on us. Furthermore, the writer of The Epistle to The Hebrews even compares the importance of living in peace with living in holiness and place both as of the equal importance, and we are encouraged to pursue it as much as we pursue holiness, as it is the requirement necessary for us to see the Lord.

让我们从神的话语中学习生活中的战争艺术。保罗和希伯来书的作者(希伯来书)似乎都同意克服立对是非常非常重要的事情。保罗警告说:“若是能行,总要尽力与众人和睦 !” (罗 12:18);而希伯来书的作者说:“你们要追求与众人和睦,并要追求圣洁;非圣洁没有人能见主。”(希 12:14)。两者都明确指出,作为基督的门徒(而且我们都是祂身体的肢体和祂国度的同工),我们必须寻求与所有人和平。保罗强调与他人和平相处的重要性,这是我们在团契中共同生活的优先事项;而希伯来书的作者甚至将和平生活等同于圣洁生活,并鼓励我们追求和平,如追求圣洁,作为我们与神连系的条件。

Mari belajar dari Firman Tuhan tentang seni berperang dalam kehidupan. Paulus serta penulis surat kepada orang-orang Ibrani (kitab Ibrani) rupanya sepakat bahwa mengatasi pertentangan adalah sesuatu yang amat sangat penting. Paulus menasihatkan, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18); sementara penulis kitab Ibrani berkata, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan,” (Ibr. 12:14). Keduanya menyatakan dengan jelas bahwa sebagai murid-murid Kristus (apalagi kita semua adalah sesama anggota Tubuh-Nya dan sesama pelayan di dalam Kerajaan-Nya), kita harus mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Paulus menekankan pentingnya hidup dalam damai dengan orang lain, sebagai prioritas bagi kehidupan bersama kita dalam komunitas; sedangkan penulis kitab Ibrani bahkan menyamakan hidup dalam damai dengan hidup dalam kekudusan, serta mendorong kita untuk mengejar damai seperti mengejar kekudusan, sebagai kondisi syarat untuk kita bisa berhubungan dengan Tuhan.

 

 

Clearly, dealing with conflicts is not a skill to master simply by trying our best to respond correctly in the time of conflicts. This is a skill to be learned and trained through continous and intentional practice at all times, in building peaceful relationships with our fellows. An art it is, in fighting in the battle of life. Dealing with conflicts will require us to seek a long-term relationship with others. It’s not simply about whether we would engage or flee from conflicts until it subdues over time, but it’s about actively taking actions to pursue peace. And most, if not all, of the time, the actions taken will require us to be selfless, as the Word of God has taught us to. Jesus has given us the example of how selfless He was by submitting Himself to the will of The Father and shown us the ultimate sacrifice in order to resolve our “conflicts” with The Father, that has brought Him not only to victory in His battle, but also to take us into victory and peace with God (Phil. 2:6-8, NIV). And being disciples of Christ, equal members of the Body of Christ, and fellow servants in His Kingdom, it is only noble and fair that we take that example and live selflessly wheverer we are with one another (Phil. 2:1-5, NIV). Would you and I do this, together?

显然,生活中的战术不能仅仅通过在发生冲突或矛盾时做出正确的反应来掌握。必须通过持续不断的努力与他人建立和平关系来学习和实践这种艺术。这不是有关我们如何对付我们的“战争对手”,也不是我们如何逃跑和躲藏,直到“战争”随着时间的推移而平息,而是我们如何积极地寻求和追求和平,正如神的话语所说的那样。实质上归根结底,按照主耶稣自己的完美榜样,这就是舍己。耶稣在他所参与的重要战斗中否认了自己。祂抛弃了祂的欲望和祂的舒适,以顺服天父的旨意和祂对人类的爱,这样他不仅赢得了战斗,也赢得了我们,使与神和好(腓 2:6 – 8). 作为基督的门徒、祂身体的肢体和祂国度中的仆人,我们应该在这场生命之战中舍己并追求和平(腓立比书 2:1-5)。我们每个人都愿意一起做吗?

Jelas sekali, seni berperang dalam kehidupan tidak dapat dikuasai hanya dengan berusaha bereaksi dengan benar ketika konflik atau pertentangan itu muncul. Seni ini harus dipelajari dan dilatih melalui usaha yang terus-menerus untuk membangun hubungan yang damai dengan sesama. Bukan urusan cara kita menghadapi “lawan perang” kita atau cara kita lari dan bersembunyi hingga “perang” itu mereda dengan berlalunya waktu, melainkan bagaimana kita aktif bertindak dalam mengusahakan dan mengejar perdamaian, seperti yang dinyatakan oleh Firman Tuhan. Pada intinya dan pada akhirnya, sesuai teladan sempurna dari Tuhan Yesus sendiri, ini berarti menyangkal diri. Yesus telah menyangkal diri-Nya sendiri dalam peperangan penting yang Dia alami; Dia membuang keinginan-Nya dan kenyamanan-Nya demi menundukkan diri pada kehendak Bapa dan pada kasih-Nya kepada manusia, hingga bukan saja Dia menang dalam peperangan itu, kita pun dimenangkan-Nya serta diperdamaikan-Nya dengan Allah (Fil. 2:6-8). Sebagai murid Kristus, anggota-anggota Tubuh-Nya dan para pelayan di Kerajaan-Nya, sudah selayaknyalah kita pun menyangkal diri dan mengejar perdamaian dalam peperangan kehidupan ini (Fil. 2:1-5). Maukah kita masing-masing melakukannya, bersama-sama?

2022-05-27T13:23:01+07:00