//The Bad News Preacher

The Bad News Preacher

Kita, seperti kebanyakan orang, mungkin terbiasa menyukai sang pembawa kabar baik, tetapi anak-anak usia SD jauh lebih terbiasa dan jelas sekali mengenali sang pembawa kabar buruk: tak lain dan tak bukan, Guru Matematika. Tidak ada yang lebih mengerikan bagi seorang siswa SD daripada “rumitnya” penghitungan dalam pelajaran matematika, apalagi bagi mereka yang selalu gagal dalam ujian mata pelajaran tersebut. Awalnya di kelas satu, matematika memang seperti taman bermain yang indah dan bersabahat, tetapi seiring dengan kenaikan tingkal kelas mereka, matematika seolah berevolusi menjadi taman labirin rumit yang membingungkan dan tidak menyediakan jalan keluar. Kalimat apa pun yang terucap dari mulut Guru Matematika terasa seperti putusan hukuman tanpa harapan akan kebebasan: “Anak-anak, hari ini kita belajar bab baru,” “Kerjakan tugas latihan halaman berikut di rumah,” “Hari ini ada kelas tambahan matematika,” apalagi “Simpan buku-buku dan kita kuis hari ini.” Tanpa perlu dijadikan dramatis dengan nada suara yang menegangkan atau efek bunyi petir sekalipun, semua perkataan tersebut sanggup membuat mereka menyesali mengapa mereka harus ke sekolah.

Ketika sekolah merekrut saya untuk menjadi guru matematika, saya sadar bahwa saya harus siap menjadi seorang public enemy dan the bad news preacher, dibenci (hampir) semua murid karena peran dan tanggung jawab saya. Banyak penelitian menemukan bahwa lebih dari 50% siswa sekolah menderita gejala Math Anxiety, kecemasasan akan matematika, yang disebabkan oleh banyak hal sekaligus diperparah oleh tuntutan dari orang tua dan guru.

“Apa gunanya sih kita belajar matematika?” tanya seorang teman ketika mengetahui bahwa saya seorang guru matematika.

“Ini bukan masalah menguasai kontennya, tetapi memiliki kompetensinya.” Saya mencoba beragumen, tetapi dia tidak mau mendengarkan.

“Lihat, sekarang kita bisa pakai kalkulator untuk menghitung, bahkan kita bisa memakai aplikasi atau software untuk menyelesaikan hitungan yang rumit.”

“Bukan masalah kontennya, hitungannya. Ini masalah memiliki kompetensinya.” Saya mengulang.

“Itulah. Untuk apa coba kita belajar konten matematika seperti integral, luas segitiga, pitagoras? Sampai sekarang aku tidak pernah memakainya di dunia kerja.” Dia terus mengeluh dan melanjutkan dengan meminta saya bersepakat dengan dia, “Ya, ‘kan?”

Saya jadi berpikir… Kalau memang lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, hanya membuat orang jadi punya anxiety daripada buat mereka happy, lebih sering menyusahkan daripada menjadi berkat, mengapa kita tidak hapuskan saja matematika dari muka bumi. Mengapa pula kita harus mempertahankan matematika?

Syukurlah, pemikiran saya berlanjut… Memang benar bahwa tidak semua konten pelajaran matematika (hitungannya, rumus-rumusnya, dan segala kerumitan yang kita hadapi saat mempelajarinya) langsung berguna dan terpakai di kemudian hari, tetapi kompetensi atau kemampuan yang dihasilkan dari mempelajari konten-konten tersebut sangat berguna untuk kehidupan kita sehari-hari, termasuk terpakai di dunia kerja. Apa itu kompetensinya? Kemampuan menganalisis situasi, kemampuan berpikir secara terstruktur, kemampuan menggunakan logika yang sehat dan rasional, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan bertahan dalam kesulitan, kemampuan mencari solusi, dan masih banyak lagi. Matematika bukan cuma sekadar mengajar kita menghitung angka, tetapi sebenarnya justru membemberikan berbagai kemampuan yang berharga untuk seumur hidup kita.

Ini sesungguhnya sama seperti sebagian besar orang yang berlatih di fitness center; mereka tidak perlu keahlian mengangkat barbel atau kemampuan bertahan lari jarak jauh di treadmill untuk meningkatkan performa kerja dan jenjang karier mereka. Namun, berlatih di fitness center atau berolahraga sendiri, termasuk segala “kabar buruk” yang dibawa oleh para personal trainer: “Hari kita belajar gerakan baru,” “Jangan lupa diet ketatnya, kurangi makanan yang berlemak,” dan “Hari ini kita tambahkan lagi set latihannya,”; menjadikan tubuh kita sehat dan stamina kita prima, dan ini sangat berguna serta menunjang kehidupan kita sehari-hari di dalam pekerjaan.

Demikian pula, banyak hal di dalam Akitab, banyak perintah Tuhan, cenderung kita pandang sebagai kabar buruk. Seolah-olah, Firman Tuhan dan Yesus sendiri adalah pembawa kabar buruk: kita tidak boleh berlaku curang, tidak boleh berbohong, tidak boleh berpikir kotor atau berbuat cabul, harus selalu tunduk dan taat kepada orang tua, harus bekerja dengan usaha dan kemampuan terbaik seperti untuk Tuhan, dan banyak lagi. Di antara banyak kabar baik yang Tuhan Yesus sampaikan, kita seolah hanya berfokus pada perkataan-Nya yang tegas, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku,” (Luk. 14:27). Memikul salib sama dengan menanggung penderitaan. Itu sebuah kabar buruk. Apakah tidak ada jalan yang lebih mudah? Apakah tidak cukup dengan mengisi form pendaftaran dan membayar uang bulanan untuk sah menjadi murid Yesus? Cara pandang seperti inilah yang membuat banyak di antara kita merasa berat menjadi orang Kristen, karena terbebani oleh berbagai aturan yang terkesan tidak berguna.

Mari kembali ke cara pandang yang tepat. Sama seperti belajar matematika, penderitaan dan segala hukum Firman Tuhan adalah “kontennya” yang rumit, prosesnya; jika kita berfokus hanya pada konten-konten itu, kita akan melewatkan “kompetensi” atau esensinya, buahnya. Ketika kita menghindari prosesnya, kita tidak akan mendapatkan buahnya. Petrus, murid Yesus, menulis bahwa Allah “melengkapi, meneguhkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya,” (1 Ptr. 5:10). Penderitaan karena iman kita di dalam Yesus bukan dimaksudkan untuk membuat kita hancur, tetapi justru membuat kita semakin kokoh. Penderitaan itulah yang akan terbukti berguna di dalam seumur hidup kita berjalan sebagai orang Kristen di dunia ini.

Seperti seorang siswa yang tetap bersemangat belajar matematika walau dia tahu itu sulit, atau seperti seorang pria paruh baya yang terus berlatih lari di atas mesin treadmill walau dia tahu itu menyiksa dirinya; mari kita tetap sadar bahwa ada buah di balik penderitaan. Ada kemuliaan di balik salib. Kesadaran kita ini akan menghasilkan perubahan yang Petrus tuliskan, yaitu sukacita di tengah-tengah proses penderitaan dan sukacita saat menuai buahnya, “…bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya,” (1 Ptr. 4:13)

 

2019-10-11T11:21:27+07:00