//The Eight-Dimension Matrix of Self Developmental Quotient

The Eight-Dimension Matrix of Self Developmental Quotient

Saat ini, kita telah berada pada bulan ketujuh sejak pertama kali negara kita menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dampaknya sangat terasa di segala bidang, termasuk bagi gereja-gereja. Mau tidak mau, jemaat “dipaksa” untuk beribadah dari rumah masing-masing, para pemimpin gereja harus berinovasi untuk menyajikan ibadah secara online supaya jemaat bisa mengikuti dan mengalami ibadah dari rumah, dan segala kegiatan atau program gereja harus diatur atau disesuaikan ulang demi meminimalkan risiko penyebaran wabah lebih lanjut.

 

Di sisi lain, setiap orang Kristen juga perlu tetap bertumbuh walaupun kita semua sedang berada dalam kondisi yang sepertinya tidak mendukung, bahkan tidak memungkinkan, untuk pertumbuhan. Untuk itu, dalam edisi delapan bulan ke depan kita akan membahas mengenai suatu matriks delapan dimensi tentang tingkat pertumbuhan atau perkembangan pribadi, yaitu yang saya sebut the Eight-Dimension Matrix of Self Developmental Quotient. Delapan dimensi dalam matriks ini mencakup:

  1. Love in the Family (kasih di dalam keluarga)
  2. Financial Health (kesehatan keuangan)
  3. Physical Health (kesehatan fisik)
  4. Significant Spirituality (kerohanian yang signifikan)
  5. Active Network (jejaring yang aktif)
  6. Bright Career (karier yang cemerlang)
  7. Life-long Learning (pembelajaran seumur hidup)
  8. Solid Character (karakter yang mantap)

Kedelapan dimensi ini membentuk satu matriks yang utuh, dan pengembangan diri harus diusahakan dan dikerjakan secara lengkap tanpa meninggalkan salah satu dimensi sama sekali. Supaya setiap dimensi ini mendapatkan porsi yang seimbang dalam pembahasannya, kita akan membahas masing-masingnya secara terfokus, terpisah, dan berseri, sampai seluruh matriks lengkap kita bahas. Dimensi yang pertama ialah kasih di dalam keluarga, yang menjadi fokus kita dalam edisi ini.

 

Love in the Family (Kasih di dalam Keluarga)

Pandemi telah mengubah kebiasaan setiap anggota keluarga tanpa bisa ditahan atau dicegah. Banyak kepala keluarga terpaksa harus tetap berada di rumah sepanjang hari, kadang tetap bekerja tetapi tidak meraih tingkat penghasilan yang sama dengan sebelumnya, atau kadang bahkan tanpa pekerjaan dan penghasilan sama sekali. Banyak istri dan ibu mendapatkan tugas tambahan yang tak mudah sebagai guru yang mendampingi anak-anaknya belajar dari rumah, di samping tugas-tugas rutinnya mengurus pekerjaan rumah tangga, berbelanja dan memasak, bahkan mungkin juga mengerjakan bisnis sampingan sambil mencuri-curi sisa waktu. Anak-anak usia sekolah tidak lagi bisa pergi bersekolah dan bertemu dengan teman-teman dan gurunya; harus belajar dari rumah dengan segala aturan baru dan tugas yang ditetapkan oleh masing-masing sekolah, taat kepada orang tua yang mendampingi sebagai pengganti guru di kelas. Semua ini masih ditambah dengan berbagai tantangan yang dihadapi seluruh keluarga… ketersediaan perangkat elektronik (komputer, ponsel) yang tidak sesuai dengan jumlah anak yang harus belajar online, membengkaknya biaya pemakaian internet, pulsa, listrik, dan air di rumah yang tak terhindarkan, pola interaksi di antara anggota keluarga yang menjadi jauh lebih intensif sehingga benturan emosional sewaktu-waktu muncul tanpa bisa diduga, dan banyak lagi. Segalanya seolah menjadi ujian tersendiri bagi keluarga, dalam hal tetap saling mengasihi dalam situasi apa pun.

 

Sisi baiknya, seluruh anggota keluarga sebenarnya sekarang bisa lebih sering dan lebih banyak berkumpul bersama, misalnya dengan makan bersama di saat jam makan. Ini berarti ada lebih banyak waktu untuk melayani anggota keluarga yang sedang membutuhkan, misalnya orang tua yang sudah lanjut usia yang butuh pendampingan atau anak kecil yang biasanya kurang mendapat perhatian saat orang tua lebih banyak bekerja serta beraktivitas di luar rumah.

 

Kasih tidak bisa hanya diucapkan sebatas perkataan atau dipelajari sebagai suatu pengetahuan. Kasih perlu diusahakan dan dikerjakan, terutama di masa-masa sulit. Lalu, bagaimana membangun pola hubungan yang saling mengasihi dalam keluarga, khususnya dalam situasi pandemi seperti sekarang? Setidaknya, ada tiga hal penting yang perlu kita pelajari dan praktikkan bersama dalam keluarga:

  1. Hierarchy and Respect (hierarki dan respek)

Makna kata “hierarki” (bahasa Inggris: hierarchy; bahasa Yunani: hierarchia, ἱεραρχία), berasal dari konsep hierarches, yaitu “pemimpin ritus suci”, atau “imam agung”. Pada perkembangannya, kata ini berarti suatu susunan hal (objek, nama, nilai, kategori, dan sebagainya) dalam tingkatan yang lebih rendah, sama, atau lebih tinggi. Suatu hal berada “di atas”, “di bawah”, atau “setara” dengan suatu hal lainnya. Hierarki juga berlaku dalam keluarga, contohnya dari tingkatan atas ke bawah: kakek/nenek buyut – kakek/nenek – orang tua (papa-mama/ayah-ibu/mertua) – ego (diri kita sendiri, si “Aku”) – anak (termasuk menantu) – cucu – cicit. Contoh ini mencakup hierarki tiga tingkat ke atas dan tiga tingkat ke bawah dari diri kita sendiri.

Berbagai jurnal dan penelitian menunjukkan bahwa segala budaya di bagian dunia mana pun, dari wilayah Barat sampai ke Timur, hierarki dalam keluarga dibutuhkan serta diinginkan, demi mencegah timbulnya berbagai masalah dalam rumah tangga. Setiap orang butuh memahami dan mengenal asal usul dirinya dan kelanjutan keturunannya, termasuk hubungan dirinya dengan tingkat-tingkat yang terkait di dalam hierarki keluarganya.

Di samping hierarki, respek juga dibutuhkan dalam keluarga. Respek diterjemahkan dari bahasa Inggris, respect, yang juga disebut rasa hormat atau penghargaan. Maknanya adalah perasaan atau sikap positif yang ditunjukkan kepada seseorang atau sesuatu yang dianggap penting, yang nilainya atau kualitasnya dijunjung tinggi atau dipandang berharga. Inilah konsep dan makna yang harus ada di tengah-tengah keluarga, dari dan terhadap anggota keluarga pada setiap tingkat hierarki. Istri harus respek terhadap suaminya, menjaga kehormatan suaminya dan menghormati suaminya di dalam Tuhan; suami harus menghormati istrinya sebagai teman pewaris kasih karunia Allah; orang tua harus menghormati nilai anak-anak sebagai titipan dan anak panah Tuhan yang harus diarahkan serta dididik dalam jalan Tuhan; anak-anak harus respek kepada orang tuanya, menghormati orang tua sebagai wakil Tuhan untuk mendidiknya dan mengajarkan kebenaran.

Ketiadaan respek dalam keluarga akan mengakibatkan kekacauan dan bencana. Bayangkan apa yang akan terjadi jika suami tidak menghargai istri, istri tidak menghargai suami, orang tua atau mertua menindas anak dan menantu,  anak-anak dan bersikap liar tak terkendali tanpa rasa hormat kepada orang tua atau mertua, dan sebagainya… Inilah pentingnya prinsip saling respek di dalam keluarga.

 

  1. Sacrifice and Selflessness (berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri)

Di dalam keluarga, harus ada sikap berkorban. Setiap anggota keluarga perlu memiliki sikap seperti ini, yaitu mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Untuk bisa berkorban, diperlukan kerendahan hari dan kerelaan, yang lahir dari mentalitas tidak mementingkan diri sendiri, melainkan mementingkan seluruh keluarga. Ini berarti, setiap anggota keluarga melakukan segala sesuatu bagi seluruh anggota keluarga seperti untuk Tuhan (Kol. 3:23), dan berkorban bagi anggota keluarga sebagai suatu tindakan melayani Tuhan.

Ketika setiap anggota keluarga memiliki kerelaan untuk berkorban, saling melayani, melengkapi kekurangan anggota keluarga yang lain, betapa bahagianya hidup sehari-hari keluarga itu. Dalam keluarga yang rela berkorban, tak akan ada  pertikaian yang berangkat dari sikap saling menuntut atau saling menyalahkan (atau setidaknya minim dan tidak akan berlarut-larut). Dalam masa pandemi ini, ketika semua anggota keluarga ada di rumah, inilah saatnya mewujudkan sikap saling mementingkan, saling berkorban, dan saling melayani.

 

  1. Vision and Values (visi dan nilai-nilai)

Visi akan menolong setiap anggota keluarga melihat arah ke mana mereka akan melangkah bersama, yaitu gambaran mereka ingin dan akan menjadi keluarga yang bagaimana, situasi hidup berkeluarga yang mereka harapkan dan membuat mereka bahagia, dan tujuan-tujuan bersama lainnya. Keluarga tanpa visi akan hidup mengikuti arus situasi dan pengaruh eksternal saja, karena tidak ada tujuan bersama yang menyatukan gerak mereka. Selain itu, diperlukan juga nilai-nilai yang disepakati dalam gerak atau usaha keluarga mencapai visi mereka. Nilai-nilai menjaga setiap anggota keluarga untuk ingat dan setia melakukan perannya masing-masing dalam pencapaian visi bersama. Dengan demikian, keluarga akan bergerak secara sinkron dan terpadu mencapai visi.

Kebahagiaan hidup berkeluarga sangat tergantung pada praktik kasih di antara setiap anggota keluarga itu. Tiga hal yang kita bahas kali ini, jika benar-benar diusahakan dan dikerjakan, akan menolong setiap keluarga mengalami kebahagiaan dalam hubungan kasih bersama, termasuk dalam masa sulit saat ini. Selamat mengalami kebahagiaan dari saling mengasihi dalam keluarga!

 

Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku. – Matius 12:50

2020-08-28T13:18:25+00:00