THE KEY

Ingatkah Anda akan kisah seorang ratu yang bernama Ester? Bukan kebetulan ia memiliki peran sebagai seorang ratu, karena sebenarnya ada tanggung jawab besar yang harus dipikulnya. Nasib satu bangsa itu ditentukan oleh keputusan dan tindakan yang diambilnya.  Mengagumkan sekali, kita dapat melihat tindakannya yang anggun dan bijaksana: ia memutuskan untuk menggunakan satu kunci yang dapat membuka semua akses menuju pintu kemenangan. “Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Est. 4:15-16). Kunci keberhasilan dan kemenangan Ester ada pada tangannya yang terkatup dan lututnya yang bertelut. Tiga hari lamanya, siang dan malam, ia bertelut dalam doa hingga pintu Kerajaan Surga itu terbuka. Hasil akhirnya, tentu saja satu bangsa diselamatkan dari upaya pemunahan massal itu.

Dalam pernikahan dan hidup berkeluarga, tak jarang kita pun diperhadapkan pada pintu-pintu persoalan. Menyerah sudah barang tentu menjadi pilihan yang mudah dan ingin selalu kita ambil. Memang tak mudah menjadi seorang penolong yang kuat atau seorang ibu yang tangguh. Rasanya tiap hari ada saja pertarungan yang mesti kita hadapi dan taklukkan. Beban mengurus rumah tangga dan anak-anak bisa menjadi rutinitas monoton yang bukan saja menguras tenaga, melainkan juga menggerus hati dan pikiran. Padahal, suasana rumah yang nyaman dan penuh kegembiraan sangat bergantung pada kondisi hati kita sebagai home maker, yaitu “pembangun” atau “pemelihara” rumah tangga. Jika kita mengizinkan beban persoalan menguasai hati dan pikiran kita, suasana rumah tangga kita menjadi murung dan setiap orang di dalamnya akan ikut tertekan dan menderita. Padahal sebenarnya, keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau lari saja atau justru bangkit mengambil kunci yang sudah diserahkan Yesus kepada kita sejak kita memercayai Dia sebagai satu-satunya Pribadi yang berhak bertahta di dalam hati dan kehidupan ini?

Setiap hari, kunci Kerajaan Surga itu tersedia bagi kita. Melalui kunci itu, kita memiliki akses untuk membuka segala pintu penghalang agar pekerjaan Tuhan mengalir bebas dan terjadi atas keluarga serta pernikahan kita, bahkan juga untuk seluruh sisi kehidupan kita yang lain. Masalahnya, maukah kita menyediakan waktu dan memberikan diri untuk mendengarkan suara Tuhan tentang kunci itu? Doa yang kita naikkan dan Firman yang kita baca setiap hari menjadi instruksi bagi kita untuk dapat menggunakan Kunci kerajaan Surga, sehingga apa yang kita ikat di dunia ini terikat pula di surga dan apa yang kita lepaskan di dunia ini akan terlepas juga di surga. Mari gunakan kunci Kerajaan Surga untuk melepaskan kemenangan, pengampunan, sukacita, dan damai sejahtera bagi keluarga dan pernikahan kita. Sampai Kerajaan Surga menjadi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

 

Refleksi pribadi:

1. Sudahkah membaca Firman Tuhan dan doa menjadi prioritas dalam kehidupanmu?

2. Temukan kunci Kerajaan Surga yang perlu dipakai bagi persoalan pernikahan dan keluargamu.

2019-10-11T12:35:45+07:00