///The Last Reformation

The Last Reformation

Bagaimana Latar Belakangnya?

Torben Søndergaard, pendiri gerakan ini, beserta keluarganya telah melakukan perintisan jemaat selama 12 tahun di tiga kota yang berbeda. Torben Søndergaard lahir dalam keluarga nonkristen, lalu dibaptis di salah satu gereja lokal sebagai praktik tradisi kekristenan saja. Saat dia berumur 16 tahun, ibunya terserang penyakit stroke. Dia begitu sedih, dan dalam keadaan seperti ini iman dan kepercayaannya lenyap. Kemudian sekitar 1,5 tahun kemudian, teman lamanya memperkenalkannya kepada Yesus dan Torben mengalami kelahiran baru dalam Kristus.

Seperti pada umumnya orang percaya yang lahir baru, Torben sangat haus kepada Tuhan. Dia terjun ke dalam pelayanan di gereja, lalu merasa terjebak dalam sebuah bagian sistem gereja, yang tidak alkitabiah dan salah. Jemaat gerejanya hanya datang dan pergi tanpa melakukan apa pun, beberapa di antaranya menempuh pendidikan di sekolah Alkitab, mendapat banyak pengetahuan, tetapi tidak berbuah apa pun. Maka, Torben dan istrinya memutuskan untuk keluar dari gereja tersebut. Dia mulai berpindah-pindah ke kota-kota lain sambil bergabung dengan gereja-gereja lokal yang ada, tetapi setelah beberapa waktu dia kembali tidak melihat buah-buah dihasilkan melalui hidupnya. Dia sangat berapi-api dibandingkan rekan-rekan pekerja di setiap gerejanya, namun juga sangat frustrasi karena dibandingkan dengan isi pada Firman Tuhan, dia tidak melihat hidupnya banyak berbuah.

Pada tahun 2000, Torben mulai berpuasa selama 40 hari karena kerinduannya untuk menghasilkan buah. Sebagai hasilnya Tuhan membuat Torben bebas dari ikatan dosa, dan juga banyak berbicara kepadanya. Salah satunya yang paling jelas adalah Torben diperintahkan untuk menulis sebuah buku. Muncullah kemudian sebuah buku berjudul The Sound Doctrine. Namun, sebelum diluncurkan, Tuhan ingin Torben mempraktikkan isinya tulisannya dahulu. Pada saat mempraktikkan sendiri isi bukunya itulah, dia melihat orang-orang disembuhkan, dibebaskan, dan lahir baru. Setelah satu tahun, Torben melihat lebih dari 150 orang disembuhkan dan 10 orang lahir baru. Torben diundang ke stasiun televisi, berdoa untuk orang sakit melalui televisi, dan banyak mujizat terjadi. Kemudian setelah tiga tahun, barulah Tuhan mengizinkan dia untuk mengedarkan bukunya. Dalam sebuah catatan kecil dari masa Torben mempraktikkan prinsip-prinsip yang ada di dalam bukunya, tertulis: “…tidak setiap hari saya mendengar Tuhan berbicara kepada saya. Saya tidak mendengar suaraNya secara audibel, tetapi beberapa kali saya merasa Tuhan berbicara secara kuat. Saya melakukannya, dan saya yakin itu Tuhan.”

Lalu, sampailah Torben ke masa frustrasi berikutnya, karena dia melihat bahwa hidupnya berbuah, namun bagaimana dengan orang percaya lainnya? Sangat sulit untuk menjadikan orang lain murid pula. Melewati berbagai kejadian, akhirnya pecahlah konflik dalam gereja yang membuat Torben dikeluarkan dari gereja tersebut. Di masa frustrasinya, dia mendapat pewahyuan dari Tuhan: “Sebuah perpecahan telah terjadi, tetapi hal ini datang dari Allah, supaya kamu tidak masuk dalam kenyamanan. Tuhan telah memimpin kamu keluar ke padang gurun untuk bergantung penuh kepadaNya dan bukan kepada manusia, tetapi sekarang sakitmu telah hilang dan Allah mau membawamu dari debu kepada puncak gunung. Seorang pebisnis yang terkenal di negaramu akan datang dan mendukungmu, dan semua orang akan mendengar ceritamu dan mereka akan terkejut.”

Rupanya, yang baru terjadi itu hanyalah permulaan. 4-5 tahun berikutnya lebih berat lagi. Torben dan keluarganya kehilangan uang, gereja, jejaring, teman-teman, serta istrinya sakit dalam jangka waktu yang cukup lama. Torben hampir-hampir depresi, dan dia juga kehilangan pekerjaannya. Pada masa-masa ini, Torben masuk ke fase seperti mau mati saja. Namun di saat itu pulalah Torben berjumpa dengan Yesus. Dia pergi ke kota lain dan bertemu dengan orang yang sudah berdoa selama tiga hari untuk kesembuhan, Torben berdoa untuknya dan dia disembuhkan dari penyakitnya sehingga orang tersebut tidak perlu ke rumah sakit lagi. Pengalamannya dipimpin oleh Roh Kudus sangat berkuasa!

Melalui masa padang gurun itu, Tuhan sangat membuka mata Torben mengenai pemuridan dan Gereja. Dia melihat dengan jelas bahwa apa yang Gereja lakukan saat ini sangat jauh dari pada zaman Perjanjian Baru. Tuhan berbicara pada Torben agar menulis lagi sebuah buku yang berjudul “The Last Reformation”, dengan perintah yang sangat jelas, “Torben, kita membutuhkan pelopor (pioneer), mulailah membuat The Pioneer School.” Sebagai hasilnya, Sekolah Pelopor ini begitu meledak, dan banyak murid Kristus sepakat dengan visi dan panggilan yang Tuhan beri melalui hidup mereka.

Para peserta dan lulusan Sekolah Pelopor mulai berkeliling negeri dan melihat banyak mujizat terjadi saat berpraktik dengan pimpinan Roh Kudus. Banyak kesaksian diceritakan bahwa Sekolah Pelopor ini telah mengubah hidup kekristenan mereka. Suatu waktu di awal tahun 2014, Tuhan berkata kepada Torben, “Pergilah ke Aalborg.” Lalu pergilah Torben sekeluarga dengan tujuan akan menyewa sebuah rumah di sana. Rupanya, untuk dapat menyewa rumah di sana dibutuhkan uang sebesar 20.000 USD, jumlah yang terlalu besar bagi mereka. Tetapi sehari setelahnya, saat memeriksa saldo rekening banknya, secara mengejutkan ada uang senilai 20.000 USD (kira-kira 100.000 DK – mata uang Denmark). Saat beberapa hari kemudian Torben bertemu dengan orang yang memberikan uang itu, orang itu berkata, “Tuhan mau memakaimu. Dia bicara pada saya bahwa kamu disuruhNya pindah ke Aalborg dan Dia meminta saya untuk memberikan uang sebesar 100.000 DK kepadamu.” Orang itu ternyata adalah mantan pemain football terkenal, yang sekarang telah menjadi seorang pebisnis. Suara pimpinan yang Torben dengar dari Tuhan delapan tahun lalu tergenapi dengan tepat.

Apa Visi dari The Last Reformation?

Gerakan The Last Reformation kembali kepada injil sebagai dasar. Murid mengikut Yesus dengan lahir baru dalam baptisan air dan Roh Kudus. Selebihnya, yang perlu dilakukan adalah kickstart semua orang percaya, yang berarti memuridkan mereka dengan mempraktikkan kuasa Tuhan, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan membaptis orang-orang percaya baru dengan air dan Roh Kudus. Intinya, memuridkan mereka!

Visi ini sangat sejalan dan tepat untuk menjadi prinsip reformasi Gereja. Gereja sungguh perlu dan akan kembali kepada kehidupan dasar murid seperti yang dijalankan di Kisah Para Rasul, ketika Yesus menjadi Kepala dan kita semua adalah anggota tubuhNya. Kita semua dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga Gereja bukanlah sekadar sebuah bangunan, pertemuan, atau program. Jauh lebih daripada semuanya itu, ini adalah gerakan para murid, sebuah keluarga, sebuah kehidupan.

Kickstart dan Ekklesia GO?

Sebenarnya, kita telah mengenal konsep kickstart ini dengan istilah Ekklesia GO. Secara sederhana, ini berarti murid Kristus menolong murid baru lainnya untuk menyembuhkan orang sakit dan untuk menyaksikan orang-orang disembuhkan dari penyakit untuk pertama kalinya. Dengan kata lain, kickstarting berarti mengajar orang lain untuk menyembuhkan orang sakit, menyebarkan Injil, mengusir roh jahat, dengan memperlihatkan dan mempraktikkannya di hadapan mereka. Sesudah melakukannya sekali, Anda tentu tahu bahwa Anda dapat melakukannya lagi. Kickstarting sedang menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan ada begitu banyak kesaksian yang luar biasa. Berikut adalah salah satu di antaranya:

“Tiga tahun lalu, seorang pria dari Swedia datang ke Denmark. Kami mempraktikkan kickstart kepadanya di pinggir jalan. Melalui penginjilan, dia mengalami kesembuhan dari penyakitnya dan mengalami kuasa Tuhan secara langsung. Dia kembali ke rumahnya di Swedia dan melanjutkan pekerjaan Tuhan dengan cara yang sama kepada orang-orang lain. Satu setengah tahun kemudian, kami melihat proses kickstart telah bertumbuh sampai lima generasi: orang yang telah kami kickstart ini melakukannya kepada orang lain, orang lain tersebut melakukan hal yang sama kepada orang lain, dan berlanjut hingga mata rantai kelima. Beberapa dari mereka telah melihat lebih dari seribu mujizat kesembuhan dalam setahun. Demikian pula, karena kickstart, kami sendiri telah melihat di seluruh Swedia ribuan orang disembuhkan dari penyakit dan ratusan orang mengalami lahir baru dengan pertobatan, kuasa baptisan air dan kuasa baptisan Roh Kudus.”

Untuk memanfaatkan sarana pemuridan yang penuh kuasa ini, langkah pertama yang tepat adalah dengan Anda pergi ke tempat-tempat umum dengan banyak orang berkumpul (mal, pasar tradisional, taman kota, fasilitas olah raga umum, dsb.). Murid Kristus (si pemurid/trainer dan si murid/trainee) dapat memiliki banyak pengalaman penumpangan tangan atas orang sakit dan melihat langsung kesembuhan terjadi melalui bertemu dengan orang-orang di tempat umum dan bertanya apakah mereka sedang mengalami sakit tertentu dan mau disembuhkan dengan cara didoakan. Ketika seseorang setuju untuk didoakan, pemurid menugaskan murid yang sedang di-kickstart itu untuk memerintahkan penyakit pergi. Jika tidak terjadi kesembuhan yang seketika, pemurid mendorong murid untuk tetap berdoa – sampai orang tersebut disembuhkan. Ketika murid memiliki pengalaman menyembuhkan orang lain untuk pertama kalinya – seperti janji Yesus – ada kebangunan roh di dalam dirinya, sehingga imannya bangkit dan dia ingin melihat lebih banyak lagi kejadian ajaib yang serupa. Hal ini membuat murid lebih bersemangat untuk melanjutkan pekerjaan Tuhan yang dahsyat, karena dia menyaksikan langsung orang-orang diselamatkan dan memulai hidup baru dengan pimpinan Roh Kudus.

Injil adalah kuasa Allah yang mendatangkan keselamatan. Ini adalah kebenaran dasar yang sayangnya tidak disadari oleh banyak orang percaya. Banyak orang ditipu oleh iblis untuk tidak percaya pada kuasa Allah, sehingga tidak melihat dan mengalami korelasi antara imannya kepada Injil sebagai orang percaya dengan kuasa Allah yang pasti mendatangkan keselamatan bagi banyak orang lain. Anda hanya perlu mengundang Yesus untuk masuk ke dalam hati dan mengalami kelahiran baru, maka kuasa Allah ini bisa mengalir melalui Anda dan mendatangkan keselamatan bagi banyak orang. Dalam kehidupan Gereja di zaman Kisah Para Rasul, kebenaran dasar ini dihidupi sehari-hari. Dalam Yohanes 3:5, tertulis selanjutnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerjaan Allah.” Yesus berkata bahwa jika siapa pun yang ingin mengalami kelahiran baru, orang tersebut perlu mengalami kuasa dalam baptisan air dan Roh. Pada ayat tersebut fokus Yesus bukanlah doa bagi orang berdosa, tetapi justru mengenai pertobatan ke arah Bapa. Ketika Dia mengajar, Dia berbicara mengenai pentingnya baptisan air dan Roh Kudus.

Orang Yahudi di zaman Yesus tidak dapat membaptis orang percaya kepada Yesus dan mengalami baptisan Roh Kudus, karena saat itu mereka masih hidup di zaman Perjanjian Lama. Tetapi setelah salib Kristus, kita dapat melihat penggenapan dari prinsip yang Yesus sampaikan di Yohanes 3. Ketika Petrus berdiri dan berkata, “Bertobatlah!”, dia mencontoh apa yang Yesus lakukan, dan memerintahkan agar orang-orang memberi diri untuk dibaptis sebagai pengampunan dosa. Marilah kita taat kepada Yesus dan kabarkan Injil. Marilah berhenti menjadi orang percaya yang buta rohani, yang memimpin orang buta lainnya dengan mengajarkan hal-hal yang bukan merupakan esensi dari perintah Tuhan.

Reformasi Gereja Masa Kini

Ini adalah 500 tahun setelah zaman reformasi rohani Martin Luther, tetapi apakah hidup bergereja kita ini benar-benar merupakan reformasi rohani? Kita sangat bersyukur untuk apa yang telah Martin Luther lakukan, tetapi kita tidak melihat Gereja masa kini kembali ke prinsip kebenaran Gereja mula-mula seperti Gereja di Kisah Para Rasul. Banyak perubahan di sana-sini yang sifatnya hanya samar-samar dan permukaan. Gereja belum kembali ke Gereja mula-mula seperti di Kisah Para Rasul.

Kita percaya bahwa inilah saatnya untuk sebuah reformasi yang sebenarnya. Sebuah reformasi yang tidak hanya berubah dalam hal doktrin, tetapi juga sistem bergereja. Mengapa kita melakukan ibadah dengan cara yang ada saat ini? Mengapa banyak gereja lokal memiliki bangunan fisik gereja? Mengapa perlu ada pertemuan ibadah di hari Minggu? Mengapa bentuk acara ibadah mirip, di negara manapun di dunia ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membawa kita berpikir lebih mendasar. Kenyataannya, banyak kegiatan yang dilakukan di acara gereja hari-hari ini tidak sama dengan apa yang dilakukan pada gereja mula-mula pada perjanjian baru, tetapi justru lebih menyerupai ritual tradisi dan paganisme.

Oleh sebab itu, kita membutuhkan reformasi. Marilah kita memuridkan seperti Yesus sudah memerintahkan kita, dan biarkan Yesus yang membangun GerejaNya seperti perkataanNya.

(Sumber: Artikel daring tentang The Last Reformation)

2019-10-17T13:26:21+07:00