///The Law of Warning

The Law of Warning

Herbert Marshal, seorang filsuf dalam bidang teori komunikasi, pernah berkata bahwa jika kita memperhatikan dunia seni dengan cukup baik, kita akan mampu memperkirakan perubahan budaya yang sedang atau akan terjadi. Kristus sendiri pernah mengajarkan bahwa kita harus senantiasa memperhatikan “tanda-tanda zaman” (Mat. 16:3). Di seluruh Alkitab juga terdapat 18 ayat yang mengatakan bahwa kita harus “berhati-hati”. Karena itu, tampak jelas bahwa Tuhan telah menciptakan “hukum peringatan” (warning) sebagai suatu sistem yang penting dalam kehidupan manusia.

Peringatan menghasilkan kewaspadaan
Perhatikan orang yang tampak selalu waspada. Pastilah orang seperti itu akan berkata bahwa dirinya biasa mengamati banyak petunjuk/peringatan mengenai berbagai hal. Seorang penyelidik/detektif profesional akan mengembangkan kepekaan seluruh indranya untuk memperhatikan petunjuk-petunjuk yang tampak remeh bagi kebanyakan orang lain. Seorang pengamat keuangan profesional akan melatih seluruh indranya untuk memahami petunjuk/peringatan-peringatan yang “tersebar di mana-mana”.
Peringatan ditujukan untuk menghasilkan kewaspadaan. Sayang, orang-orang yang tidak waspada cenderung meremehkan peringatan dan petunjuk yang Tuhan telah sediakan di sekeliling mereka. Orang-orang yang waspada akan memanfaatkan peringatan Tuhan dan menghindari kehancuran. Sebaliknya, orang-orang yang meremehkan peringatan Tuhan akan menuju kehancuran seperti pengalaman Petrus (Luk. 22:31 – 34).

Peringatan memprediksi masa depan
Peringatan selalu memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. 18 ayat Alkitab yang berbicara mengenai “kehati-hatian” seluruhnya berbicara mengenai bahaya di masa mendatang. Di beberapa bagian, Tuhan memperingatkan bangsa Israel agar ketika nanti mereka hidup di tanah Kanaan, mereka tidak menyerupakan Tuhan sebagai dewa yang menyerupai burung, binatang buas, maupun manusia (Ul. 4). Di bagian lain, Kristus memperingatkan murid-murid-Nya agar menyiapkan diri menghadapi risiko diancam, disiksa, dan difitnah karena mengaku sebagai pengikut Kristus (Mrk. 13:9).

Banyak orang meremehkan peringatan dengan alasan, “Ah, hal itu belum terjadi sekarang,” atau “Ah, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat.” Ini pemikiran yang sangat keliru. Sebuah peringatan ditujukan untuk memprediksi ancaman di masa mendatang, bukan memberitahukan bahaya yang sudah terjadi. Orang yang memperhatikan peringatan Tuhan akan mampu memprediksi masa depan. Sebaliknya, orang yang meremehkan peringatan akan menuju kehancuran seperti pengalaman Raja Yerobeam (I Raj. 11 – 12).

Fokus: rahasia memperhatikan peringatan Tuhan
Tuhan telah menempatkan peringatan-peringatan-Nya di banyak tempat, maka tugas kita adalah membuat diri kita waspada terhadap peringatan-peringatan tersebut. Namun, kewaspadaan bekerja seperti sebuah paku, yang sulit berfungsi kalau tumpul. Sebaliknya, sebuah paku yang runcing dapat memfokuskan seluruh kekuatannya untuk menembus tembok beton. Kewaspadaan yang tidak terfokus akan tidak berguna, karena justru membuat kita menjadi orang yang dikuasai kekhawatiran, sedangkan kewaspadaan yang terfokus dengan baik akan memampukan kita mengantisipasi tantangan di masa depan.

Di dalam Alkitab, Tuhan memberikan banyak peringatan agar kita dapat mengantisipasi jebakan di masa depan. Di berbagai bagian, Alkitab memperingatkan agar kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan (1 Kor. 10:12), dosa ketidakkonsistenan (Ul. 24:8), atau jebakan-jebakan kehidupan lainnya. Namun, seluruh peringatan yang Tuhan sediakan di dalam Alkitab memiliki satu fokus yang sama, yaitu agar kita tetap hidup lurus dan tidak melanggar komitmen kita kepada Tuhan. Ini berarti orang-orang yang memfokuskan perhatian dan kewaspadaan pada ketaatan kepada Tuhan akan cenderung lebih kuat dan lebih mampu terhindar dari dosa kesombongan, ketidakkonsistenan, ketidaksetiaan, kebutaan rohani, dan jebakan-jebakan kehidupan lainnya. Itulah sebabnya, Kristus mengajarkan agar kita memfokuskan seluruh hidup kita untuk menaati Allah, lalu barulah segala yang kita butuhkan dalam kehendak-Nya akan diberikan-Nya kepada kita (Mat. 6:33).

Responding Tip:
“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!”
(1 Kor. 10:12)

2019-10-11T12:14:12+07:00