///The Power of Compassion

The Power of Compassion

Banyak pendapat berbicara mengenai sikap belas kasihan. Sebagai realita kehidupan yang tidak bisa diabaikan, belas kasihan merupakan salah satu sikap yang diteladani dari Kristus sendiri. Diawali dengan rasa belas kasihan, dilanjutkan dengan suatu tindakan nyata dan mukjizat. Itulah sikap Yesus sendiri. Belas kasihanNya sudah membawa dampak dan pemulihan yang luar biasa bagi banyak orang. Namun, mengapa sikap belas kasihan kita sendiri sebagai pengikut Kristus semakin gersang dan luntur?

Tergerak oleh Belas Kasihan
Ada sebuah cerita yang sangat terkenal tentang belas kasihan. Dalam cerita ini, orang Samaria menolong orang Ibrani yang telah dirampok dan sedang terluka. Dalam kisah ini, Yesus menunjukkan bahwa belas kasihan tidak dibatasi oleh perbedaan ras, tradisi , atau status sosial. Demikian pula, belas kasihan bebas dari rasa pamrih dan kepentingan pribadi.

Mungkin kita ingat akan lagu di masa kecil yang ber judul Kasih Ibu. Sebagian liriknya berkata, “… hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. ” Memang, sinar mentari terus memancar dan menopang kehidupan di dunia ini, tanpa mengharapkan pamrih apa pun dari seluruh bumi yang disinarinya. Setidaknya, demikian seharusnya belas kasihan tetap mewarnai kesaksian dan keteladanan hidup kita bagi sesama.

 

Belas Kasihan Membuka Pintu Surga
Kesulitan hidup dan tingkat persaingan yang tinggi di era modern ini cenderung makin menyulut rasa egoisme kita. Masing-masing orang punya persoalan yang harus diselesaikan. Rasanya tidak ada waktu lagi untuk memikirkan orang lain. “Elu elu, gue gue ” menjadi isi hati orang-orang di ibu kota , juga “ EgePe ” alias “ emang gue pikirin ” atau “ IdeLu ” alias “ itu derita elu ” . Kasih karunia semakin tipis dan hati se makin tertutup. Seiring dengan lajunya zaman, kepedulian oleh belas kasihan kepada sesama semakin jarang ditemukan.

Sayang sekali, padahal belas kasihan membuka pintu surga. Tuhan sebenarnya menunjukkan kemurahanNya tidak hanya kepada kita, tetapi juga melalui kita. Ketika kita melakukan sesuatu yang didasari oleh belas kasihan, sebetulnya ada kuasa yang bekerja atas dan melalui diri kita.

Namun, perlu diingat bahwa belas kasihan bukan lah sekadar rasa prihatin atau sikap simpati. Belas kasihan juga tidak menuntut pamrih atau memperhitungkan untung ruginya. Belas kasihan adalah murni dan didasari oleh kasih yang tulus. Satu-satunya yang harus diperhatikan dalam berbelas kasihan adalah, apakah upaya dan jerih lelah kita itu sudah tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat cara?

 

Mengembangkan Belas Kasihan yang Benar

Ibu Teresa selama hidupnya dikenal sebagai ibu bagi kaum miskin di India. Ia telah memenuhi panggilan pelayanannya. Ia membangun komunitas biarawati yang melayani kaum papa di India , sekaligus memberi ilham bagi banyak orang untuk melakukan kebajikan. Kekuatan apa yang bekerja dalam diri Ibu Teresa sehingga ia mampu berdampak sehebat ini ? Tak lain, belas kasihan.

Sebenarnya, karakter belas kasihan adalah seperti sumber mata air yang tak bisa habis , tetapi bisa digerogoti oleh sikap pamrih atau sebaliknya, dimanfaatkan secara manipulatif. Itulah yang membuat kita akhirnya enggan mengembangkan sikap berbelas kasihan kepada sesama. Tidak heran jika Alkitab berkata bahwa di akhir zaman ini kasih menjadi semakin dingin dan tawar.

Belas kasihan lahir dari hati yang menanggapi kebutuhan yang mendalam dari orang lain. Belas kasihan melahirkan tindakan yang menunjukkan kemurahan dan memberi pertolongan untuk menghindarkan seseorang dari kesulitan yang mendesak, penderitaan , atau bencana.

Bagaimana cara mengembangkan hati dalam sikap belas kasihan?

  • Berlatih mengenali dan membedakan kebutuhan yang mendalam dan mendesak

Belas kasihan lahir dari hati nurani yang tersentuh oleh kebutuhan dan penderitaan orang lain. Belas kasihan merupakan respons atas permintaan tolong dan permohonan yang sungguh-sungguh , bukan yang bersifat manipulatif. Berlatihlah membedakan keduanya, karena kasih itu tidak sekadar berkorban atau menolong , tetapi juga membangun dan mendidik.

  • Berfokus pada kasih karunia Tuhan yang diberikan kepada kita

Belas kasihan membuka pintu surga. Kita merupakan perwakilan Tuhan di dunia untuk menyatakan kemurahan dan karuniaNya. Belas kasihan selalu bekerja melalui apa yang ada pada kita, bukan apa yang tidak kita punyai. Kebajikan yang ditaburkan pasti akan berbuah kebajikan. Pada saluran distribusi yang lancar pasti dipercayakan hal-hal yang lebih besar lagi.

 

  • Memberi kan ruang untuk memiliki belas kasihan kepada orang lain

Kesibukan dan masalah pribadi sering kali begitu memenuhi hati dan pikiran kita sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk memikirkan orang lain. Akhirnya , kita menjadi egois dan hidup hanya untuk diri sendiri. Buka kembali ruang hati kita, dengarkan dorongan hati nurani untuk berbelas kasihan kepada sesama.

 

  • Mencari kesempatan untuk berbuat kebajikan

Melakukan kebajikan merupakan amanat yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang telah diselamatkan. Setiap hari menyediakan kesempatan untuk kita berbuat kebajikan. Keselamatan memang merupakan anugerah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi perbuatan baik adalah amal ibadah yang kelak mendapat pahala dalam kekekalan .

 

WORD OF WISDOM
KEHIDUPAN ADALAH LADANG YANG SUBUR TEMPAT KITA DAPAT MENABUR BENIH SETIAP HARI

2019-10-11T12:17:48+00:00