///The Power of Perseverance

The Power of Perseverance

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yakobus 1:2-4)

Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan atau masalah. Tidak ada orang yang kebal terhadap kesusahan atau penderitaan. Sikap kita masing-masing saat menghadapi kesukaran akan menentukan hasil atau manfaat di balik semua penderitaan yang dialami.

Kesulitan bisa terjadi karena dosa atau kesalahan pribadi, tetapi juga bisa muncul sebagai akibat dari situasi, orang lain, atau karena barang/peralatan yang bersifat di luar diri atau kendali kita. Bagaimana respons kita menghadapi penderitaan yang tidak dapat dihindarkan? Pada situasi semacam ini, respons yang terbaik adalah menemukan kekuatan positif dari ketekunan atau membangun ketabahan di balik semua penderitaan. Jangan sampai kita kehilangan pengharapan pada saat-saat yang berat dan menekan seperti ini. Jika kita dapat menemukan hikmah dari penderitaan yang dialami, kita akan mampu membangun kualitas karakter yang unggul. Karakter unggul inilah yang akan membuat kita mampu bertahan dan menjadi pemenang.

 

Memahami makna perseverance

Ketekunan diambil dari kata kerja Yunani hy·po·meʹno, yang secara harfiah berarti “tetap tinggal di bawah”. Kata ini diterjemahkan menjadi “masih tinggal” di Lukas 2:43 dan “tetap tinggal” di Kisah Para Rasul 17:14. Kata ini juga mempunyai makna “bertahan pada posisi”, “bertahan”, dan “tetap teguh atau berkukuh”, dan karena itu sering pula diterjemahkan menjadi “bertekun” (contohnya, di Mat. 24:13). Bentuk kata bendanya, hy·po·mo·neʹ, biasanya mengandung makna “keberanian”, “keteguhan hati”, atau “ketekunan”, yang disertai kualitas kesabaran dan tidak hilang harapan sewaktu menghadapi rintangan, penindasan, cobaan, atau godaan.

Dari pembelajaran ini, ternyata makna ketekunan adalah kemampuan untuk melewati kesukaran atau penderitaan sambil tetap memiliki kekuatan positif dalam mengatasi keputusasaan, ketekunan untuk bertahan menghadapi tekanan dan kesulitan, ketabahan karena memiliki pengharapan serta kemampuan mengelola penderitaan yang dialami menjadi suatu kekuatan karakter. Ketekunan juga merupakan keputusan atau ketetapan hati yang kuat (teguh) untuk bersungguh-sungguh, rajin, dan tuntas dalam melakukan apa pun. Orang yang tekun adalah orang yang berfokus, konsisten, dan tidak cepat atau mudah putus asa terhadap apa yang sedang dikerjakannya, meskipun sulit atau berat. Firman Tuhan menjelaskan bahwa, orang yang tekun sajalah yang akan menghasilkan buah (Luk. 8:15).

 

Mengapa kita perlu ketekunan?

Banyak orang sangat merindukan agar janji-janji Tuhan dalam hidupnya dapat terjadi dan mereka peroleh. Mereka bahkan mengatakan telah “melakukan kehendak Tuhan” sebagai syarat janji-janji itu. Padahal, sekalipun kita telah melakukan kehendak Tuhan, jika tidak disertai ketekunan, janji-janji-Nya tidak akan kita peroleh (“…Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu,” – Ibr. 10:36). Ketekunan adalah unsur terpenting dalam setiap keberhasilan.

Zaman modern yang serba instan telah memudarkan arti ketekunan. Orang di zaman sekarang ingin cepat behasil tanpa kerja keras dan ketekunan. Di masa-masa tekanan yang berat bagi gereja, Tuhan memberi instruksi kepada setiap orang kudus (orang percaya) agar tetap tekun (Why. 14:11-12).

Kita perlu ketekunan karena kita menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, agar kita menang menghadapi kesulitan atau penderitaan. Kita harus bertekun karena ketekunan menghasilkan karakter yang akan membawa kita menang melewati semuanya itu.

 

Bagaimana mengembangkan ketekunan?

 

  1. Melalui penderitaan dari situasi

Dalam proses ketekunan selama penderitaan, kita memahami hikmah dari penderitaan/kesengsaraan yang kita alami. Itulah sebabnya Tuhan kadang kala memakai situasi sengsara dengan tujuan agar Ia dapat membentuk ketekunan di dalam diri kita. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,” (Roma 5:3).

 

  1. Melalui ujian iman yang Tuhan izinkan

Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan,” (Yak. 1:3). Karena itulah, Tuhan sering kali mengizinkan berbagai pencobaan menimpa hidup kita dengan maksud agar ketekunan muncul dan terlatih di dalam diri kita.

 

  1. Melalui latihan dalam ketetapan niat hati kita

Ketekunan dapat dilatih, karena hal itu adalah ketetapan hati. Sekalipun istri Ayub mendesak Ayub agar tidak bertekun lagi dalam kesalehannya, Ayub tetap memutuskan dan menetapkan untuk bertekun dalam kesalehannya (Ayub 2:9-10). Latihan dalam ketetapan hati seperti ini dapat kita lakukan dengan cara mengembangkan pengharapan dan optimisme, membangun kekuatan positif dan motivasi pribadi.

 

Pencobaan dan masalah yang dihadapi tidak akan melebihi kekuatan kita untuk menanggungnya.

 

2019-09-27T11:48:52+07:00