//The Power of Words

The Power of Words

Salvo, perusahaan pembuat kostum olah raga asal Indonesia, menuai kontroversi lantaran label petunjuk pencucian yang mereka cetak beredar di dunia maya. Polemik mencuat karena gambar label petunjuk yang tertera di bagian dalam kostum itu menyebutkan, “Petunjuk pencucian: Berikan kaus ini kepada perempuan, itu pekerjaannya.” Salvo, yang juga menjadi sponsor klub sepak bola Pusamania Borneo, sontak menjadi bahan pembicaraan khalayak internasional. Apalagi, gambar label itu beredar di tengah perayaan Hari Internasional Perempuan. Sejumlah akun Twitter mengecam perusahaan tersebut karena dianggap melecehkan kaum perempuan. Klarifikasi pun mereka sampaikan demi meluruskan persoalan tersebut, “Tidak ada sama sekali maksud untuk merendahkan wanita. Justru sebaliknya, belajarlah merawat pakaian dari wanita karena mereka lebih telaten.”

Ada pembelajaran menarik yang bisa kita petik dari cerita di atas, bahwa kata-kata ibarat bom yang memilki daya ledak di tangan penggunanya. Ketika ditangani dengan gegabah, orang tersebut akan mengalami masalah. Sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, bisa bermanfaat. Kalimat yang disampaikan bisa saja hanya satu atau dua baris, tapi pengaruhnya bisa meluas jauh lebih daripada itu. Itulah sebabnya, kita perlu bijak dalam berkata-kata, karena hal yang negatif bisa saja dituai dari apa yang awalnya kita anggap positif.

Daud pernah menyampaikan doa ini kepada Tuhan, “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3). Ribuan tahun lalu saja Daud begitu memahami akan kemungkinannya untuk khilaf dalam berkata-kata, lalu bagaimana dengan Anda dan saya? Hari ini kita punya beragam media yang (bisa) digunakan untuk berkomunikasi dan berekspresi. Seharusnya, Anda dan saya menaruh perhatian yang jauh lebih besar untuk tidak mengalami kejatuhan dalam hal yang satu ini.

Setiap hari kita sesungguhnya memiliki kesempatan untuk mempengaruhi dunia (kecil) di sekeliling kita. Anda dan saya memiliki kemampuan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam (Yeremia 1:10). Dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun, kata-kata Anda dan saya dapat berdaya guna bagi orang lain. Ia sanggup mempengaruhi manusia, komunitas, kota, bangsa maupun dunia.

Cerita berikut ini akan memperlihatkan kepada kita sisi positif yang bisa dihasilkan oleh kata-kata. Belum lama ini, jagad media sosial dibuat haru oleh postingan seorang pengguna akunnya. Ankatama, nama perempuan itu. Anka, pendeknya. Ia menuliskan 4 kalimat pendek dalam jejaring media sosialnya, yang kemudian tersebar dengan cepat dan menjadi berkat khusus bagi seorang supir taksi. Alex, nama si supir, menaruh foto anaknya di dekat panel penunjuk kecepatan taksinya. Anka yang menjadi penumpang Alex, terinspirasi dan menulis, “Mewek (nangis) di pagi hari disponsori oleh supir taksi yang majang foto anak bontotnya. Pas gue tanya kenapa taro di situ? Jawabannya… Biar semangat cari uangnya nak 🙂 Minggu depan dia ulang tahun, saya mau ajak dia makan di KFC. Sama beliin tas sekolah…”.  Postingan Anka di media sosial Path itu menyebar di pengguna medsos lainnya, hingga kemudian terdengar oleh pihak KFC. Mereka mewujudkan impian Alex, bahkan memberikan fasilitas untuk merayakan ulang tahun di sana. Acara tersebut bukan hanya dihadiri oleh kawan-kawan si anak, tapi juga oleh teman-teman dan petinggi perusahaan taksi tempat Alex bekerja.

Luar biasa, bukan! Kata-kata sederhana yang disampaikan oleh seorang Anka rupanya bisa menolong orang lain untuk mewujudkan impiannya. Memang, kata-kata memiliki efek psikologis. Ia bukan hanya susunan huruf yang kemudian menjadi kalimat. Seringnya kita tidak sadar bahwa kata-kata kita bukan hanya sekedar pesan. Ada emosi di dalamnya yang akan tertangkap jelas oleh si penerima. Salah menggunakan, ia bisa menjadi jerat, tapi ketika disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat, bisa mendatangkan berkat.

Roma 14:19 berkata, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Inilah yang menjadi tujuan sebenarnya. Ayo, kita kejar bersama! Pakai kata-kata kita untuk mendatangkan damai sejahtera. Lakukan apa saja yang berguna untuk saling membangun. Pastikan setiap kata yang keluar dari diri kita, dalam bentuk lisan maupun tulisan, menyampaikan kasih dan kebenaran Tuhan bagi penerimanya. Bagaimana caranya?

1. Mulailah dengan mereka yang berada di sekeliling Anda. Ketika ada yang lemah, gunakan lisan Anda untuk menguatkan. Tuliskan pesan kasih untuk menunjukkan kepedulian Anda, bisa dengan cara yang konvensional seperti catatan tangan, kartu, surat, atau dengan cara yang lebih moderen seperti pesan teks melalui gawai Anda.

2. Manfaatkan media di tangan Anda. Jangan menggunakan akun medsos seperti Youtube, Path, Twitter, Instagram, Facebook, dsb, hanya untuk asal bicara. Bagikan hikmat dan inspirasi yang Anda miliki kepada dunia.

Akhinya, mari kita senantiasa mengingat pesan Tuhan Yesus ini dalam setiap tulisan maupun tutur kita setiap hari, agar kita senantiasa menyalurkan kata-kata kasih dan kebenaranNya juga kepada dunia: Matius 5:13-16, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

2019-10-17T16:13:12+07:00