///The Power to Forgive and Forget

The Power to Forgive and Forget

Kekuatan Memaafkan dan Melupakan

Terlebih bahagia mengampuni dan melupakan daripada diampuni.”
(Power Character)

 

Memaafkan dan melupakan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun, banyak kerugian yang kita alami jika kita tidak mau mengampuni dan melupakan kegagalan orang lain, yaitu:

 

1.Hidup dalam kepahitan

Kita akan selalu membenci orang yang berbuat salah pada kita, karena rasa benci dan dendam akan tetap melekat di dalam hati kita seumur hidup.

 

2.Cepat tersinggung

Kita akan menjadi orang yang sensitif; setiap kali orang melakukan kesalahan atau ada situasi yang memicu, kita akan mudah marah-marah dan menghakimi.

 

3.Hidup dalam prasangka

Kita senantiasa curiga dan berpikiran negatif terhadap orang lain dan situasi.

 

4. Kehilangan sukacita

Pikiran dan perasaan kita semakin dipenuhi oleh kenangan buruk/pahit dan dukacita, yang akhirnya dapat menutup rasa terhadap kegembiraan hidup.

 

5. Kehilangan kepercayaan

Kita menjadi lebih skeptis dan apatis; tidak mau percaya atau peduli terhadap sesama atau situasi, hanya memaknai segala sesuatu dari sudut pandang kita sendiri yang negatif.


Meski banyak orang memahami dampak buruk dari tidak mau mengampuni dan melupakan, faktanya banyak pula orang yang tetap bertahan tidak mengampuni dan melupakan. Mengapa demikian?

 

  1. Kita tidak dapat menerima kegagalan orang lain

Tuntutan yang semakin tinggi membuat kita selalu berpacu untuk menjadi yang terbaik  dan tidak dapat menoleransi segala kegagalan yang ada. Kita terobsesi untuk menjadi sempurna, maka ketika orang lain gagal kita akan langsung menyalahkan dan menghakimi kegagalan orang lain, yang akhirnya berujung pada frustrasi dan kepahitan yang menghancurkan diri kita sendiri.

 

  1. Kita dipenuhi oleh pikiran negatif dan selalu mengingat kesalahan orang lain

Manusia cenderung mudah mengingat kesalahan orang lain daripada kebaikannya. Sekali saja orang berbuat salah kita akan cenderung berpikiran negatif bahwa dia telah menyakiti kita dan pasti akan berbuat salah menyakiti kita lagi. Akibatnya, apa pun yang dilakukan oleh orang tersebut akan tetap salah di mata kita.

 

  1. Kita masih mempertahankan ego

Rasul Petrus pernah bertanya kepada Yesus harus berapa kali mengampuni orang lain. Bagi Petrus, mengampuni sampai 7 kali sudah cukup, tetapi Yesus menyatakan jauh lebih dari itu, 7 dikalikan 77 kali. Betapa banyaknya kesalahan berulang yang dilakukan orang lain yang Yesus mau kita tetap ampuni! Sebenarnya bukan kuantitas yang dimaksud Yesus, tetapi kita diajarkan kualitas kasih, yaitu kesabaran yang tidak menuntut syarat batas. Yesus ingin mengajarkan bahwa dengan kesabaran hati kita tidak akan dipenuhi dengan dendam dan kebencian. Sebaliknya, dengan mempertahankan ego kita cenderung sulit untuk mengampuni karena masih menyimpan gengsi yang tinggi di di dalam hati. Ego atau gengsi akan membuat kita memandang orang lain lebih rendah dan tidak layak untuk mengusik atau menyakiti kita sama sekali.

 

Lalu, bagaimana cara mengembangkan karakter mengampuni dan melupakan?

1. Menyadari bahwa setiap orang pernah berbuat salah, termasuk diri kita sendiri

Kita memang dituntut untuk mengerjakan segala hal dengan baik. Dalam proses tersebut kita harus belajar dan proses pembelajaran termasuk melakukan kesalahan dan latihan yang lebih baik lagi. Karena itu, setiap orang perlu “ruang gagal” untuk dirinya sendiri dan untuk orang lain.

 

2. Berlatih mengendalikan amarah dan menerapkan pikiran positif dalam setiap aspek kehidupan

Amarah dapat dikendalikan bila kita mau untuk bersabar dalam melakukan kegiatan. Menenangkan diri kita secara emosional akan membuat kita dapat berpikir jernih. Dalam setiap peristiwa dalam hidup kita, ada hikmah yang dapat dipetik dan di sanalah kita belajar untuk berpikiran positif dengan belajar untuk melihat permasalahan dari sisi yang lain. Semuanya dimulai dari percaya pada diri kita sendiri dahulu sehingga kita mampu melihat kebaikan pada diri orang lain pula.

 

3. Belajar berbagi kebahagiaan dengan orang lain

Rasanya sulit berbagi kebahagiaan dengan orang lain jika kita sendiri belum mendapatkan kebahagiaan tersebut; kita memang tidak mungkin berbagi sesuatu yang kita sendiri tidak miliki. Maka, mulailah dengan hal-hal sederhana yang sudah kita miliki. Contohnya, berbagi tertawa dengan orang lain, maka beban yang kita rasakan akan sedikit terangkat dan kita terdorong untuk lebih mudah mengesampingkan ingatan tentang kesalahan orang lain. Hasilnya, kita tidak memupuk sakit hati dan kebencian di dalam hati. Hal-hal praktis lain yang bisa dilakukan juga misalnya ialah berbagi waktu, berbagi informasi yang bermanfaat, berbagi kesenangan dalam bentuk hobi atau makanan, dan banyak lagi lainnya. Dengan berbagi, kita belajar menurunkan ego dan meningkatkan, bahkan melipatgandakan, kebahagiaan.

Responding Tips

”Hidup akan jauh lebih indah dan berarti  jika kita mau belajar mengampuni dan memaafkan orang lain.”
”Mengampuni dan melupakan adalah sebuah keputusan, dilakukan atau tidak terserah pada pilihan kita”
(Power Character)

2019-09-27T12:27:56+00:00