//The ROOT and the WORD

The ROOT and the WORD

[Ay.30]  “Dan inilah yang akan menjadi tanda bagimu, hai Hizkia: Dalam tahun ini orang makan apa yang tumbuh sendiri, dan dalam tahun yang kedua, apa yang tumbuh dari tanaman yang pertama, tetapi dalam tahun yang ketiga, menaburlah kamu, menuai, membuat kebun anggur dan memakan buahnya.”

[Ay.31]  “Dan orang-orang yang terluput di antara kaum Yehuda, yaitu orang-orang yang masih tertinggal, akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas.”

[Ay.32]  “Sebab dari Yerusalem akan keluar orang-orang yang tertinggal dan dari gunung Sion orang-orang yang terluput; giat cemburu TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”

Firman Tuhan ini diberikan pada masa pemerintahan Hizkia melalui Nabi Yesaya, di dalam pergumulannya menghadapi Sanherib, raja Asyur yang menyerang Yehuda. Dan karena iman Hizkia, Tuhan memberikan tanda: pada tahun pertama mereka tak dapat menabur karena berada dalam tekanan kerajaan Asyur, namun Tuhan menumbuhkan tanaman dengan sendirinya; pada tahun kedua, karena bertepatan dengan tahun Sabat, maka Tuhan juga menyediakan dari apa yang tumbuh dari tahun pertama; kemudian pada tahun ketiga, barulah mereka dapat menabur, menuai, menanam kebun anggur dan menikmati hasilnya.

 

Di dalam pertumbuhan pengenalan akan Firman Tuhan, kita mengalami fase-fase seperti yg dinyatakan Yesaya 37 tersebut, yaitu:
Pada tahun pertama (fase awal) Tuhan akan menumbuhkan tanaman-tanaman yang tidak kita tanam, yang akan bertumbuh sendiri, ini artinya berkat pemeliharaan, seperti Bangsa Israel yang dipelihara oleh Tuhan di padang gurun dengan manna setiap pagi. Tuhan akan memelihara kita dengan caraNya yang luar biasa! Artinya, dalam kehidupan pribadi kita di fase awal ini, kita akan menikmati “makan”/menerima hasil dari apa yang bertumbuh sendiri. Ini berbicara mengenai inisiatif dari Tuhan (anugerah/kasih karunia, keselamatan).

Kemudian pada tahun kedua (fase pertengahan), Tuhan katakan bahwa kita akan makan dari tanaman yang tumbuh pada tahun pertama. Artinya, apa yang diusahakan pada fase awal itu akan berhasil dan berbuah. Pertumbuhan rohani adalah kemitraan antara kita dengan Tuhan, setelah diselamatkan kita perlu bermitra dengan Dia untuk masuk dalam disiplin pribadi. Hasil dari disiplin pribadi kita di fase awal akan kita nikmati buahnya dalam fase pertengahan: buah pertobatan (karakter), buah pelayanan, dan buah jiwa.

Berikutnya, pada tahun ketiga (fase dewasa), kita harus menabur, menuai, dan membuat kebun anggur. Hukum tabur tuai terjadi, dan multilpikasi terjadi jika kita menabur. Terjadi pelipatgandaan, sambil kita membuat kebun-kebun anggur yang baru. Ini berarti bukan hanya untuk diri sendiri, namun Tuhan mau kita menjadi alat kerajaanNya dan Ia akan memberikan kuasa multiplikasi dalam hidup kita, sehingga buah-buah dalam kehidupan kita ini akan dapat dinikmati juga oleh sesama kita.

 

Bagaimana caranya agar pertumbuhan dalam setiap fase ini terjadi dalam hidup kita? Ayat 31 berkata, “…akan berakar pula ke bawah dan menghasilkan buah ke atas.” Inilah kunci pertumbuhan kita di dalam ketiga fase tersebut: berakar. Apa yang dimaksud dengan “..berakar pula ke bawah..”?

Setiap pohon memiliki dua arah pertumbuhan akar: melebar dan mendalam. Akar perlu melebar untuk menopang pohon agar sanggup bertahan dari terpaan angin. Makin lebar akar sebuah pohon, semakin kuatlah ia menghadapi terpaan angin. Selain itu, akan perlu mendalam untuk mencari sumber air dan nutrisi di kedalaman tanah agar pohon bertahan hidup dan tetap sehat.

Berakar Melebar
Berakar melebar di dalam firman adalah merenungkan firman Tuhan secara meluas. Kita merenungkan firman lebih banyak, misalnya satu perikop, satu pasal atau beberapa pasal, bukan hanya satu-dua ayat di sana-sini yang dihafalkan dan diucapkan saja. Dengan merenungkan firman secara meluas seperti ini, kita dapat mengerti firman dalam kaitan dengan bagian-bagian (konteks) yang lebih luas. Dengan demikian, kita akan terhindar dari penafsiran Alkitab yang salah. Itu sebabnya, semakin lebarnya kita berakar di dalam firman, semakin kuat kita menghadapi angin-angin pengajaran sesat.

Berakar Mendalam
Meskipun seseorang sudah berakar melebar, ia perlu memiliki akar yang mendalam di dalam firman Tuhan. Mengapa banyak orang Kristen yang membaca firman Tuhan, tapi kurang mengalami perubahan hidup (kehidupan rohaninya tidak kunjung sehat)? Ini adalah karena firman Tuhan yang dibaca hanya menyentuh pengetahuan otaknya saja. Firman Tuhan belum merembes sampai kedalaman hatinya. Agar firman Tuhan merembes ke dalam hati kita, kita perlu merenungkan firman Tuhan dengan menggunakan selengkap indera rohani kita. Prinsip ini dapat ditemukan di dalam Amsal 4:20-25. Prinsip perenungan tersebut jika dipraktikkan akan memberi hasil yang sangat luar biasa. Ingatlah, “Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.”(Ams. 4:22).

Akhirnya, Alkitab berkata bahwa apabila orang percaya berakar dengan kuat (baik melebar maupun mendalam) di dalam firman Tuhan, maka “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm. 1:3).

2019-10-17T15:53:58+07:00