//The Spirit of Empathy

The Spirit of Empathy

 

Dunia yang penuh dengan penderitaan
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah di atas. Akan tetapi satu hal yang saya sadari ketika membaca kisah di atas adalah dunia ini dipenuhi orang-orang yang menderita namun tidak diperhatikan. Sama persis seperti anak anjing dan sang anak yang lumpuh itu.
Kadangkala penderitaan itu berupa perasaan jenuh dan tertekan di tempat kerja. Penderitaan itu juga dapat berupa relasi kasih yang berada di ujung tanduk karena diterpa badai kehidupan. Kadangkala penderitaan itu juga dapat berupa kekawatiran yang mencengkram hati kita karena diri kita sendiri maupun orang-orang yang kita kasihi diserang sakit penyakit yang sulit disembuhkan.
Namun seperti banyaknya anak-anak anjing yang lain di dalam keranjang tadi, penderitaan-penderitaan ini tidak dapat kita lihat karena banyaknya tugas dan tanggung jawab lain yang masih harus kita selesaikan. Seperti kain yang menutupi kaki palsu sang anak, kadangkala penderitaan-penderitaan itu juga dapat dengan sengaja ditutupi oleh pekerjaan dan komunitas yang menuntut kita menyembunyikan emosi-emosi kita.
Dapatkah Anda membayangkan betapa indahnya kehadiran seseorang yang dapat dengan berani dan terbuka mampu berempati kepada kita yang terpaksa sedang menyembunyikan penderitaan-penderitaan itu. Sebenarnya inilah yang dilakukan Tuhan Yesus (Mazmur 102:19-21).
Akan tetapi ketika berbicara tentang berempati, sebagian besar orang akan berkata: “Bukannya kami tidak mau. Akan tetapi kami tidak tahu bagaimana memulainya.”

Empati dimulai dari hati untuk orang lain
Banyak orang gagal menunjukkan empati kepada orang lain dengan beberapa alasan klasik seperti: “Saya akan berempati kepadanya kalau ia menunjukkan sedikit perbaikan sikap” atau “Bagaimana kalau saya dianggap tidak tegas/kehilangan wibawa?”
Empati adalah kemampuan untuk merasakan beban dan penderitaan orang lain. Karena itu empati bukan tentang kebutuhan atau syarat-syarat Anda. Empati adalah tentang orang lain; dan itu dimulai dari ketulusan hati Anda.

Empati selalu berlanjut pada aksi
Empati tidak berhenti hanya pada perasaan yang ikut terbeban dengan penderitaan orang lain. Perasaan itu harus diwujudkan di dalam aksi yang nyata.
Saya pernah mendengar seseorang berkata: “Setiap kali saya melihat anak jalanan yang mengemis di pinggir jalan, saya merasa kasihan kepada mereka.” lalu datanglah seorang anak jalanan yang mengamen di sebelah kaca mobilnya dan ia memberikan tanda menolak melalui tangannya dengan pandangan mata yang tetap menuju ke depan. Ia bahkan tidak melihat anak itu!
Empati tidak bekerja seperti itu. Jika Anda berempati dengan seseorang. Tunjukkanlah perasaan empati itu melalui tindakan nyata sekarang juga!

Empati berarti memberi ruang untuk kegagalan
Beberapa orang yang lain lagi mencoba memberikan batasan pada jumlah rasa empati yang dapat ia berikan pada orang yang sama. Sayai ingat pernah membaca sebuah dialog dalam sebuah buku yang mengatakan: “Aku mengerti kesusahannya setelah ia ditinggal pergi oleh suaminya! Akan tetapi ini sudah keempat kalinya ia melakukan kesalahan ini! Aku tidak dapat menerimanya lagi!”
Empati tidak mempunyai batas. Empati adalah kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain. Akan tetapi bukan berarti empati menghalangi ketegasan. Seorang manager HRD di sebuah perusahaan pernah menceritakan bagaimana ia menggabungkan ketegasan dan ekspresi empat dalam tiga kalimat panjang. Ia mengatakan: “(empati) Saya mengerti, ketika Anda memutuskan untuk tidak masuk secara mendadak. Anda sedang merasa sangat kuatir tentang anak Anda yang sedang sakit. (tegas) Akan tetapi saya mohon maaf karena peraturan perusahaan mewajibkan saya untuk tetap memberikan Anda sanksi berupa denda. (empati) Saya sungguh berdoa agar anak Anda cepat sembuh.”
Di satu sisi rasa empati yang baik memberikan ruang bagi orang lain untuk tanpa sengaja berbuat kesalahan dan di sisi lain membantu mereka mengatasi kegagalan mereka dengan tetap bertindak tegas.

HALANGAN JIWA EMPATIK
Ada 8 karakter yang menjadi penghalang utama kita dalam menumbuhkan jiwa empatik:
1.Egois
Kecenderungan untuk selalu mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama atau orang lain.
2.Pelit, kikir
Kecenderungan untuk tidak mau membayar harga yang dibutuhkan walaupun hal itu bersifat penting dan/atau genting.
3.Individualistis
Kecenderungan untuk tidak mau beradaptasi dengan orang lain.
4.Sikap menghakimi
Kecenderungan untuk melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandang pribadinya saja.
5.Keras hati
Kecenderungan untuk menutup hati dari pendapat dari orang lain.
6.Tidak peduli, masa bodoh
Kecenderungan untuk menutup pikiran dari informasi-informasi baru dari orang lain atau keadaan di sekitarnya.
7.Penuh perhitungan untung rugi
Kecenderungan untuk tidak mau berkorban bagi orang lain.
8.Pamrih
Kecenderungan untuk mengharapkan imbalan langsung atas segala usaha yang telah dilakukannya.

MENGEMBANGKAN JIWA EMPATIK
1.Belajar membiasakan diri untuk memahami bahwa dalam hidup ini kita saling membutuhkan satu sama lain.
2.Belajar membiasakan diri untuk mengetahui apa kebutuhan, kesusahan dan penderitaan dari orang-orang di sekitar / di komunitas kita.
3.Belajar membiasakan diri untuk menyadari bahwa kita akan menuai hasil dari setiap perbuatan dan tindakan kita.
4.Belajar membiasakan diri untuk memberi prioritas juga bagi kebutuhan orang lain.
5.Belajar membiasakan diri untuk mentaati suara hati kita yang ingin menyatakan ekspresi belas kasihan.
6.Belajar membiasakan diri untuk segera bertindak, menolong tanpa sikap hitung-hitungan.
7.Belajar membiasakan diri untuk memiliki hati yang rela berkorban.

KESIMPULAN
Setiap perbuatan baik menjadi sia-sia jika tidak didasari oleh sikap empati, sebaliknya sikap empati hanya semu tanpa disertai tindakan perbuatan baik.
Sikap empati merupakan kesatuan dari :
1.Ekspresi belas kasihan
2.Kerelaan berkorban
3.Tindakan untuk menolong

WORDS OF WISDOM
Sikap empati membangun belas kasihan dan menanggalkan penghakiman.
Kita tidak mungkin memahami orang lain tanpa berjalan memakai sepatu mereka.

2019-10-04T03:46:59+00:00