///THE WISE DECISION MAKER

THE WISE DECISION MAKER

 

Siapa yang harus mengambil keputusan?

Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan yang terjadi akibat sebuah keputusan yang salah sering kali menimbulkan trauma. Demikian pula, saat menghadapi hal-hal yang belum pernah dialami, kita sering dicekam oleh kekuatiran dan ketakutan. Semua ini membuat kita menjadi ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Ya atau tidak, ini atau itu, sekarang atau nanti, dia atau yang lain, dan banyak lagi… Kita pun terombang-ambing dalam kebimbangan.

Di sisi lain, sebenarnya kebimbangan adalah musuh terbesar sebuah keputusan. Dikatakan dalam Alkitab bahwa orang yang mendua hati tidak akan mendapatkan apa-apa. Kebimbangan membuat kita macet memanfaatkan logika maupun perasaan. Tidak jarang pula, kita bahkan tidak mengambil suatu keputusan pada akhirnya, sehingga situasi di sekeliling atau orang lainlah yang “mengambil” keputusan bagi kita. Apa akibatnya? Kita semakin goyah terombang-ambing karena dikendalikan oleh hal-hal yang ada di luar. Kita kehilangan jati diri, potensi pribadi, dan berbagai peluang emas. Padahal, kita memiliki kuasa dan kebebasan sepenuhnya untuk memilih hal-hal terbaik bagi diri pribadi. Lalu bagaimana solusinya?

 

Lima pijakan dalam mengambil keputusan yang bijaksana

1. PREDIKSI KE DEPAN

Tujuan yang jelas memberi arah yang jelas. Seekor rajawali memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menangkap mangsanya. Meskipun ular gesit dan jalan berkelok-kelok, rajawali dapat menerkamnya dengan tepat. Mengapa demikian? Dari ketinggian, rajawali memiliki jangkauan pandangan luas yang disebut sebagai “helicopter view”, yaitu kemampuan untuk melihat secara keseluruhan, bukan sebagian atau sepenggal. Inilah yang penting, karena informasi yang tidak lengkap sering kali menimbulkan asumsi yang menyesatkan. Selain itu, rajawali juga memiliki fokus pandangan yang sangat tajam. Fokus pada sasaran membuat kita tidak ragu-ragu dan mampu bertindak dengan tepat pada saat yang tepat.

2. BELAJAR DARI PENGALAMAN

Pengalaman merupakan guru kehidupan yang terbaik, yang sangat berharga dan tak dapat dibeli. Kita menjadi lebih dekat dengan kesuksesan ketika kita mampu memetik hikmah sebuah pengalaman. Pengalaman memang tidak selalu menyenangkan, tetapi pembelajaran selalu bermanfaat. Kita belajar dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, bahkan Alkitab juga menyuruh kita belajar dari semut, belalang, merpati, cuaca, dan alam semesta. Benarlah bahwa pengalaman tidak sekadar memberi pengetahuan, tetapi juga hikmat dan kebijakan. Seorang eksekutif muda yang telah memiliki 95% kemampuan seniornya rupanya berpenghasilan relatif kecil. Penghasilan sang senior 5 kali lipat lebih besar daripada penghasilan si eksekutif muda. Mengapa demikian? Ternyata, 5% kemampuan sang senior yang belum dimiliki si eksekutif muda adalah pengalaman. Untuk kekayaan pengalamannya itulah, sang senior dibayar jauh lebih mahal.

3. KEMBANGKAN SENSE DAN INTUISI

Sense dan intuisi memang mirip, tetapi sebenarnya berbeda. Kita membutuhkan kedua-duanya. Sense adalah suatu kekuatan kepekaan yang lahir di pikiran dan perasaan kita, berdasarkan pengalaman yang pernah dialami, sedangkan intuisi lebih banyak mengilhami imajinasi kita, sebagai kemampuan untuk memperkirakan sesuatu (forecasting) di masa depan berdasarkan imajinasi dan kekuatan mental. Sense dan intuisi bagaikan radar otomatis yang terpasang dalam diri kita, seperti pada kelelawar yang mampu terbang dalam gelap tanpa membentur sesuatu atau kijang di padang yang segera melarikan diri saat menyadari ada bahaya mengancam sebelum melihatnya. Kembangkan kedua hal ini, sebagai kemampuan untuk menyadari sesuatu dengan tepat sebelum hal itu terjadi. Ketahuilah pula bahwa musuh intuisi adalah false belief atau keyakinan palsu. Sense dan intuisi dapat dilatih dan dikembangkan melalui akal sehat dan hati nurani yang jernih, dengan berpegang pada fakta dan nilai-nilai kebenaran, sehingga kita tidak terjebak dalam keyakinan palsu.

4. GUNAKAN KEPEKAAN MENIMBANG

Keputusan bijak tidak lahir begitu saja, tetapi berasal dari sikap bertanggung jawab. Pilihan dan konsekuensi bagaikan dua sisi uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Dibutuhkan kepekaan menimbang dan membedakan antara baik atau buruk, bermanfaat atau merugikan. Ini sangat penting karena setiap keputusan memiliki risiko yang harus diperhitungkan.

5. KONFIRMASI ORANG LAIN

Orang-orang di sekitar kita bukanlah patung hiasan yang hanya menjadi dekorasi dalam hidup kita. Mereka memiliki banyak andil dalam kehidupan kita, mulai dari suami atau istri, orang tua, saudara, pimpinan, guru, pemurid, sahabat, hingga tetangga dan relasi. Pilihan yang bijaksana membutuhkan pertimbangan, nasihat, dan konfirmasi dari orang lain. Terimalah hal ini dari orang-orang di sekitar kita, karena tak seorang pun dapat hidup seorang diri. Setiap pengambilan keputusan pasti melibatkan dan juga memberi dampak kepada orang lain.

 

Word of Wisdom : Kita bebas sampai kita memilih, lalu pilihan tersebutlah yang mengendalikan kita.

2019-10-11T12:35:12+07:00