//Tiga Prinsip Penting untuk Memuridkan Remaja

Tiga Prinsip Penting untuk Memuridkan Remaja

Seperti yang saya jalani, mungkin banyak di antara pembaca build! yang berada dalam proses dan aktivitas pemuridan remaja. Banyak pula di antara kita yang bukan hanya telah memberi diri dimuridkan oleh seorang kakak atau pemimpin rohani di gereja lokal, melainkan juga telah dipercaya untuk memuridkan adik-adik rohani kita.

Pelayanan anak muda, terutama remaja, di dalam Gereja adalah sebuah pelayanan yang sangat unik, dan keunikan ini sangat terlihat khususnya dalam proses pemuridan yang dilakukan di gereja-gereja lokal. Dalam fase usia mereka, remaja sedang giat melakukan eksplorasi diri sekaligus sangat mengingini kebebasan. Alhasil, peraturan yang terlalu kaku akan terkesan mengekang, dan nilai-nilai, apabila salah disampaikan, akan dianggap membatasi. Pemurid remaja tidak bisa memperlakukan mereka seperti anak kecil, tetapi, pada kenyataannya, tidak bisa memaksa mereka berpikir panjang dan luas seperti layaknya orang dewasa. Sulit? Benar, pemuridan remaja memang sulit. Namun, di sisi lain ada beberapa prinsip penting yang menjadikan pemuridan remaja lebih praktis sekaligus efektif… Mari kita lihat, berikut tiga prinsip tersebut:

 

  1. Relationship over status

Dalam memuridkan dua belas rasul semasa kehidupan-Nya di bumi, Tuhan Yesus hidup bersama mereka dan berinteraksi langsung dengan mereka dalam konteks kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus tidak menjadwalkan “program pemuridan” secara rutin dengan rasul-rasul itu sebagai “murid-Nya”, tidak juga memuridkan mereka hanya ketika sedang “pelayanan”, tetapi bepergian bersama, makan bersama, mengobrol bersama, dan melakukan segala kegiatan lainnya secara alamiah. Semua ini mudah terlihat dalam kitab-kitab Injil.

Jika “pemuridan” merupakan istilah atau program yang sering ditekankan pentingnya di gereja lokal kita, mungkin kita sangat terbiasa mendengar bahwa seseorang berstatus “pemurid”
atau “murid”. Padahal, semua itu “hanyalah” status, bukan esensinya. Jangan pernah terburu-buru untuk mengesahkan status pemurid dan murid, atau meresmikan status hubungan sebagai sebuah pemuridan, apalagi kalau pihak-pihak yang terlibat di dalamnya belum terlalu saling mengenal. orang tersebut. Banyak remaja bersedia “dimuridkan” hanya karena mayoritas teman gerejanya juga “punya pemurid”. Banyak juga anak remaja yang asal berkata “iya-iya” saja saat ditanya “mau dimuridkan?” tanpa mengerti apa itu pemuridan. Selain itu, banyak juga remaja yang dimuridkan hanya sebagai “titipan” atau karena desakan (baca: paksaan) dari orang tua. Pada kasus-kasus semacam itu, yang sangat sering muncul, si “murid” cenderung tidak/lambat berespons (“slow response”) saat dihubungi untuk “pemuridan”. Murid itu cenderung tidak menunjukkan komitmen yang sebanding dengan ucapan “ya” yang pernah dikatakannya sebagai kesediaan untuk dimuridkan. Ujung-ujungnya, status “pemuridan” itu hanya memberatkan si pemurid maupun si murid. Tentu saja, pemuridan itu pun menjadi tidak efektif.

Dalam pendekatan ke anak remaja, hubungan sangatlah penting. Sebagai pemurid, kenali dahulu kehidupan dan kepribadian mereka, ikutlah “nongkrong” dengan mereka, dan masuklah dalam obrolan mereka, supaya kita pun lebih mengerti pola pikir mereka: hal-hal yang penting bagi mereka, hal-hal yang mereka minati, dan sebagainya. Apabila hubungan sudah terbangun, pasti akan tumbuh rasa percaya. Rasa percaya itulah yang akan menjadi kunci untuk remaja bisa terbuka kepada kita. Biasanya, ini ditandai dengan mereka akan mulai “curhat” tentang kehidupan mereka. Lalu dengan kedekatan hubungan dan rasa percaya, remaja lebih rela mendengarkan arahan dan masukan dari kita. Alhasil, hubungan pemuridan itu berjalan efektif walaupun belum atau tidak ada status resmi sebagai pemurid dan murid.

Setelah dinamika pemuridan itu berjalan dengan sendirinya dalam hubungan yang alamiah, kita bisa mulai memperhatikan kesiapan si murid. Jika kita menilai dia telah siap untuk pemuridan yang lebih mendalam dan terstruktur, barulah kita bisa mengajaknya untuk itu. Ingat, tidak perlu mementingkan statusnya, tetapi prioritaskan dinamika dan prosesnya dalam hubungan, karena sebenarnya, dinamika dan proses itu sama saja dengan atau tanpa status resmi “pemuridan”. Yang berbeda mungkin hanyalah statusnya, jadwalnya, atau hal-hal lainnya yang tidak esensial.

 

  1. “Bukan soal ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’”

‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi tidak semua berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi tidak semua membangun,” kata Rasul Paulus di 1 Korintus 10:23.

Saat kita berhadapan dengan anak kecil atau bayi, kita akan banyak melakukan pendekatan “boleh” dan “tidak” dengan unsur reasoning yang sangat minim atau bahkan tidak sama sekali. Misalnya, ketika kita melihat anak kecil yang tiba-tiba memegang pisau, tentu kita tidak akan membuang-buang waktu untuk menjelaskan bagaimana benda itu tajam dan berbahaya. Kita akan langsung mengambil pisau tersebut dan mengatakan “ini tidak boleh dipegang”. Itulah pendekatan yang tepat untuk menangani anak kecil atau bayi. Masalahnya, remaja tidak bisa ditangani dengan pendekatan yang sama sedangkan orang-orang yang menangani mereka masih menggunakan pendekatan yang sama itu: “boleh vs. tidak boleh”. Akibatnya, banyak anak yang sudah tumbuh remaja masih sering mempertanyakan sesuatu “boleh” atau “tidak”, dengan segala variasi sebutannya, bahkan banyak pemurid remaja pun terjebak hingga berkutat di area tersebut. Contohnya:

  • Apakah pacaran itu boleh?
  • Apakah tidak saat teduh sehari atau dua hari itu berdosa?
  • Apakah pergi sampai larut malam itu dilarang?
  • Apakah tidak pelayanan sementara itu melanggar peraturan?
  • dan sebagainya…

Pemurid yang terjebak hingga berkutat di area “boleh vs. tidak boleh” cenderung menjawab dengan pendekatan yang sama: ini boleh, itu tidak boleh; ini ada di Alkitab, itu berdosa; ini bisa diizinkan, itu melanggar aturan. Masalahnya, remaja sebenarnya bukanlah anak kecil lagi. Mereka mampu berpikir dengan sangat kritis. Setiap jawaban “boleh” atau “tidak boleh” akan memunculkan rentetan pertanyaan kritis lainnya dari pihak remaja. Apabila “boleh” atau “tidak boleh” itu tidak masuk akal atau tidak dapat dipahami menurut logika mereka (yang bisa jadi benar maupun salah), arahan itu tidak akan diikuti.

Nah, di satu sisi, kita tidak bisa memperlakukan remaja seperti anak kecil, tetapi di sisi lain, kita juga belum tentu bisa dengan mudah mengajak mereka berpikir sebagai orang dewasa. Di sinilah letak peran dan fungsi pemurid: kreatif dan sabar, yaitu berhikmat, dalam mendampingi remaja belajar tumbuh dewasa dalam cara pikir mereka. Dalam pendampingan tersebut, kita mengajak remaja menyadari konsekuensi dari segala keputusan dan tindakan mereka di masa sekarang, baik dalam jangka pendek yang segera maupun dalam jangka panjang di masa depan.

Daripada sekadar menjawab pertanyaan remaja dengan “boleh” atau “tidak boleh” saja, tantang logika mereka dan latih cara pikir mereka. Berikan kepada mereka pertanyaan-pertanyaan lain yang buat mereka berpikir. Beberapa contohnya dalam konteks pertanyaan tentang apakah pacaran itu diperbolehkan:

  • Buat apa sih pacaran menurut kamu? Tujuannya apa?
  • Apa perbedaannya kalau kamu berteman dengan orang yang kamu sukai itu dengan kalau kamu menjadi pacarnya sekarang? Seberapa wajib sih perbedaan itu?
  • Apakah pacaran akan mendukung atau mengganggu tanggung jawab utama kamu sebagai pelajar?
  • Apa kamu siap kalau, amit-amit, hubungan pacaran itu berujung sakit hati dan membuatmu depresi di masa sekarang ini?
  • dan lain-lain…

Selain itu, tidak hanya memberikan pertanyaan yang melatih cara pikir mereka, kita tentu tetap perlu mengarahkan mereka ke nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan. Namun, pastikan bahwa sebelum kita panjang lebar “menceramahi” mereka, kita menunjukkan bahwa kita mengerti posisi mereka dan bersedia membahas bersama mereka masalah yang sedang dihadapi melalui diskusi dengan mereka.

 

  1. Get back to the main responsibilities

Tuhan Yesus tidak pernah menyuruh kita mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat “rohani” dan “ngumpet” di gereja. Justru, Dia mengajar kita untuk menjadi garam dan terang dalam seluruh kehidupan kita, di hadapan orang-orang, “Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.  Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga,” (Mat. 5:15-16, TB2)

Prinsip penting yang ketiga ini berarti pemurid melihat proses pemuridan dan pertumbuhan seorang remaja dengan lebih menyeluruh. Saya sendiri sempat menemukan beberapa ironi dalam pengalaman saya memuridkan remaja. Sebagian remaja sangat aktif dan giat melayani dalam kegiatan-kegiatan gereja, tetapi tidak jadi berkat di keluarganya dan/atau tidak menunjukkan tingkat komitmen dan usaha yang sama dalam studinya di sekolah. Tidak pernah membantu dalam tugas-tugas rumah tangga, bertengkar terus-menerus dengan saudara, suka melawan orang tua, malas-malasan belajar, selalu mendapat nilai yang buruk di sekolah/kuliah, tidak belajar karena kelelahan setelah pelayanan di gereja, dan sebagainya. Sementara di gereja mereka menunjukkan performa luar biasa dan tampak begitu “rohani”, di kehidupan di luar gereja mereka tidak menjadi terang dan garam.

Melihat lebih dalam, fenomena ironis semacam itu biasanya terjadi ketika remaja terlibat dalam berbagai kegiatan di gereja karena tidak betah di rumah atau tidak mau bertanggung jawab di dalam studinya. Alasan ini sebenarnya sangat amat menyedihkan. Gereja seharusnya bukan menjadi tempat pelarian seseorang. Komunitas gereja memang merupakan keluarga rohani dan komunitas untuk saling berfungsi, tetapi ini bukan berarti kita mengabaikan keluarga jasmani kita dan/atau mengabaikan fungsi kita sebagai manusia dalam fase kehidupan yang berjalan. Di sinilah peran pemurid menjadi begitu penting, untuk mengarahkan si murid kembali ke tanggung jawab utamanya: sebagai anak dalam keluarga dan pelajar/mahasiswa dalam studinya. Kehidupan dan kegiatan bergereja tidak semestinya menjadi batu sandungan untuk keluarga dan pendidikan seseorang.

 

Nah, bagaimana, sudahkah kita masing-masing yang memuridkan remaja menyadari dan menerapkan ketiga prinsip penting ini? Sudah maupun belum, ada “kabar buruk” yang perlu saya sampaikan dengan jujur: setelah kita menerapkan ketiga prinsip penting ini, tetap saja tidak ada garansi bahwa si murid remaja akan berespons baik dan bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus. Dalam pemuridan, perubahan seseorang tergantung kembali pada orang tersebut sendiri. Namun, kita sebagai pemurid perlu mengupayakan dengan sungguh-sungguh melalui prinsip-prinsip penting ini. Sisanya? Mari kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan terus mengandalkan hikmat-Nya, karena setiap remaja itu sejatinya murid Kristus, bukan murid kita.

Mari tetap bersemangat, teman-teman pemurid remaja. Selamat memuridkan!

2024-02-27T15:11:56+07:00