///Tim Ayam Obat

Tim Ayam Obat

Udara panas pada siang itu cukup menyengat, tetapi hati Denting yang sedang bersukacita terasa begitu sejuk. Senyum bahagia tersungging di wajahnya. Tubuhnya terasa lelah, tetapi lelah itu tidak sebanding dengan sukacita di hatinya yang sedang bungah.

Dalam sebulan itu, lingkungan RT tempat Denting tinggal bersama keluarganya tidak luput dari penularan varian baru Covid-19. Virus varian Delta yang kabarnya begitu cepat menular sejak beberapa bulan sebelumnya di India memang benar adanya. Bahkan, penyebarannya bukan hanya makin dekat dengan lingkungan kita, melainkan seolah sudah mengepung. Tak kurang dari lima keluarga di lingkungan RT Denting telah terpapar, dan tiga keluarga di antaranya mengalami gejala yang cukup berat karena usia yang sudah sepuh serta adanya penyakit komorbid. Tiga pekan berjalan lambat dan menegangkan, dengan dua orang dari para penderita Covid-19 itu akhirnya berpulang. Pada awalnya, situasi itu terasa dominan menegangkan juga bagi Denting, tetapi setelah lewat sepekan, dia jadi terbiasa juga selain termotivasi di hati untuk berdoa. Denting jadi rajin bertanya kepada Tuhan tentang hal-hal yang dapat dilakukannya di tengah-tengah situasi sulit itu.

Pada suatu hari, menjelang siang saat Denting sedang menyiapkan masakan di dapur dan merajang bumbu-bumbu untuk menu keluarganya, hatinya berseru, “Tuhan… apa yang bisa kulakukan?” Ternyata Tuhan menjawab begitu cepat. Sesaat saja setelah itu, kemudian dia diingatkan pada masakan khas yang kerap dibuat oleh mama mertuanya sejak sebelum pandemi, saat mereka semua masih bisa berkumpul dan makan bersama keluarga besar: tim ayam obat. Sup sehat yang terbuat dari ayam kampung yang dimasak dengan rebusan berbagai ramuan herbal Tiongkok. Entah mengapa, Denting sendiri juga sangat menyukai tim ayam obat. Rasaya nikmat, segar, hangat dan menyehatkan. “Hmm… Cocok sekali untuk membantu menaikkan imunitas dan stamina tetangga yang sedang isoman!” batin Denting di dalam hatinya. Senyumnya pun merekah dan hatinya bersyukur kepada Tuhan.

Segera saja, Denting menghubungi Bu Titin dan Bu Agus. Mereka adalah dua tetangga Denting yang sedang menjalani masa isolasi mandiri (isoman). Denting mengirimpan pesan pribadi melalui WhatsApp dan bertanya apakah kedua ibu itu masing-masing berkenan untuk dibuatkan sup tim ayam obat. Di luar dugaan Denting, Bu Titin dan Bu Agus cepat sekali menyambut tawaran itu dengan penuh terima kasih. Wah, semangat Denting makin bertambah membayangkan “misi kasih” yang akan segera diwujudkan itu. Malam itu, dipesannya dua ekor ayam kampung ukuran sedang dari Mang Komar, pedagang sayur langganannya yang sejak masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Jawa-Bali lebih memilih untuk melayani pesan antar melalui WhatsApp daripada berkeliling dengan motor. Bahan-bahan herbalnya sendiri sudah tersedia, karena beberapa hari sebelum itu Denting tanpa sengaja Denting menemukan toko online yang menjual paket bahan-bahan herbal untuk masakan tim ayam obat, dan memesan persediaannya dari toko itu.

Keesokan harinya, Denting bangun pagi-pagi dan memulai harinya dengan penuh semangat. Dua ekor ayam kampung segar yang baru diantar itu dipotongnya, lalu dimasak di dalam satu panci besar bersama dua paket ramuan herbal Tiongkok. Isi paket itu lengkap, 12 akar dan biji-bijian dengan khasiat sehatnya masing-masing: fung chao (kurma merah), kice (goji berry), lien chi (biji teratai), huai san (ubi Cina), yang shen xu (akar ginseng), kam cho gan cao (akar licorice), mi zao bitco (kurma madu), dong gui tao (akar ginseng “perempuan”), long yan gan (lengkeng/longan kering), tongsim dang shen (Radix codonopsis), chuan kiong (akar/batang lovage Sichuan), dan huang qi (akar astragalus). Tim ayam obat dimasak dengan api kecil sampai sedang dalam waktu yang cukup lama, satu hingga satu setengah jam, demi memastikan ramuan obat benar-benar matang sempurna dan kaldu ayam kampung bercampur dengan semua bahan herbal. Siang itu dapur di rumah Denting penuh dengan aroma harum dari tim ayam obat yang dimasaknya.
Akhirnya, tim ayam obat matang sempurna dan siap untuk diantar. Namun, Denting masih merasa bahwa ada hal lain yang dapat dilakukannya. Diambilnya waktu sebentar untuk tenang sambil hatinya berdoa kepada Tuhan, “Bapa, tolong aku untuk melakukan kehendak-Mu dengan cara dan dalam waktu-Mu…” Sambil melanjutkan kegiatannya dengan mencuci semua peralatan dapur yang baru selesai digunakan, Denting menangkap dua kata yang muncul di hatinya: “surat kasih”! Ya, betul! Tim ayam obat itu akan diantarnya dengan disertai tulisan surat kasih yang berisi doa serta ucapan motivasi untuk penerimanya, agar mereka tetap bersemangat semasa isoman sampai pemulihan yang tuntas. Kembali senyum merekah di bibir Denting, hingga tanpa sadar kegiatan mencuci piring dan peralatan dapur kali itu menjadi begitu menyenangkan.

Tanpa berlambat-lambat, setelah semua peralatan dapur beres dibersihkan, Denting mengambil dua kartu kosong yang memang sengaja dibelinya sejak lama untuk hal-hal semacam ini. Pada setiap kartu itu, dituliskannya doa dengan segenap hati, seakan tangannya telah dituntun untuk menuliskan setiap kata. Denting tahu, tuntunan itu berasal dari Roh Kudus. Ketika selesai, betapa kagum dan terharunya Denting melihat tulisannya sendiri… Dua kartu untuk dua orang yang berbeda itu masing-masing berisi doa dan kalimat-kalimat motivasi yang sangat berbeda pula. Ah, memang Tuhan paling tahu segala hal yang tersembunyi di hati setiap orang! Bagian Denting hanyalah taat untuk menulis perkataan yang Tuhan taruh di hatinya.

“Sukacita” menjadi satu kata yang memenuhi hati Denting setelah pulang dari mengantar tim ayam obat ke rumah Bu Titin dan Bu Agus. Sesuai dengan kesepakatan warga lingkungan itu dalam hal saling membantu dengan aman terutama kepada mereka yang sedang isoman, Denting telah meletakkan kiriman masakannya di tempat yang sudah disediakan di depan rumah kedua tetangga itu masing-masing.

Empat hari kemudian, sebuah kabar duka disampaikan di grup WhatsApp warga lingkungan, bahwa suami Bu Titin akhirnya berpulang setelah tiga hari dirawat di ICU sebuah rumah sakit di Jakarta Timur, sementara Bu Titin sendiri masih harus isoman sehingga tidak bisa mengantar sang suami ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Rasa kehilangan dan kedukaan di masa pandemi ini jadi berkali-kali lipat menerpa. Seluruh warga pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Bu Titin.

Seminggu setelah peristiwa itu, Denting mendapat kiriman mangga di pagar depan rumahnya. Mangga itu berukuran besar, tidak seperti mangga pada umumnya yang dijual di mana-mana. Dibukanya bungkusan mangga itu dan ditemukannya selembar surat singkat bertulisan tangan di dalamnya. Rupanya, itu kiriman dari Bu Titin, “Denting, terima kasih untuk tim ayam obatnya. Saya dan anak-anak menikmatinya. Sayang sekali, suami saya Pak Heri waktu itu ada di rumah sakit dan akhirnya dia berpulang meninggalkan saya dan anak-anak untuk selama-lamanya. Ini saya kirimkan mangga dari pohon kami. Pohon mangga ini ditanam almarhum Pak Heri, dan sudah menjadi pohon mangga kesayangan yang dirawatnya sepenuh hati. Sekali lagi, terima kasih untuk doa dan perhatiannya buat saya dan keluarga. Allah SWT pasti membalasnya.”

Haru dan syukur menyeruak memenuhi hati Denting. Betapa saat ini begitu banyak orang di sekitar kita sangat menghargai setiap kabar baik dan doa yang tulus, lebih daripada benda pemberian itu sendiri. Di tengah pergumulan berat dan duka akibat kehilangannya, Bu Titin ternyata tersentuh oleh kasih Tuhan. Ini kesempatan yang indah, bahwa apa pun yang diberikan bisa menjadi alat untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama… Dalam keheningan yang tenang pagi itu, Denting berdoa, “Bapa di surga, aku mengucap syukur untuk setiap hikmat yang Kau berikan dan anugerah kesempatan untuk berbagi kasih-Mu. Terima kasih karena aku jadi mengalami kebenaran, damai, dan sukacita karena Roh Kudus. Aku tahu, itulah Kerajaan Allah yang turun ke bumi ke dalam hidupku. It’s heaven on earth…! Amin.”

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.”
Roma 14:17

2021-08-29T22:41:18+07:00