//Titik Dua Tanda Kurung Tutup

Titik Dua Tanda Kurung Tutup

Kita mungkin masih ingat masa ketika aplikasi pesan instan masih terbatas pada karakter huruf, angka, dan tanda baca. Pengirim pesan tidak bisa berkreasi dengan gambar emoji, emoticon, dan stiker yang amat beragam seperti saat ini. Untuk menyampaikan perasaan secara figuratif, orang akan memadukan tanda baca yang tersedia membentuk emoticon primitif yang menunjukkan ekspresi wajah tertentu, contohnya, titik dua dan tanda kurung tutup menjadi 🙂 (gambar ekspresi tersenyum, versi miring).

 

Bila ada gambar “:)”, si penerima pesan akan menangkap secara tersirat bahwa suasana hati si pengirim pesan sedang baik-baik saja dan bersahabat, atau setidaknya itu adalah pesan yang bermaksud positif. Hal tersebut sangat signifikan kala itu, misalnya kita meminta maaf pada teman kita, “Sori, saya bakal telat banget,” lalu pesan kita dibalas dengan “tidak apa-apa”, tentu penangkapannya akan akan berbeda dengan balasan “tidak apa-apa :)”, apalagi balasan “tidak apa-apa ):”. Gambar yang terakhir tadi menunjukkan ekspresi wajah yang berlawanan, yaitu cemberut atau marah dan kesal. Walaupun isinya perpaduan dua tanda baca yang sama, posisinya berubah, sehingga artinya sangat berbeda.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, melakukan dua hal yang sama tetapi dengan urutan yang terbalik kita akan memberikan hasil yang berbeda pula.

 

Misalnya, dalam membuat mi instan di dalam mangkuk styrofoam¸ langkah yang benar adalah merendam mi kering dengan air panas beserta bumbu-bumbu dan bahan pelengkapnya, kemudian setelah beberapa saat kita menyeruput mie itu ke dalam mulut untuk dimakan. Dengan urutan itu, kita akan merasakan nikmatnya mi instan (titik dua tanda kurung tutup). Namun, bila urutan kedua hal tersebut dibalik, kita makan seduhan mi ke dalam mulut, lalu baru merendam sisa mi dengan air panas, tentu tidak ada kenikmatannya, bahkan kita akan menderita rasa tak enak luar biasa (tanda kurung tutup titik dua).

 

Di dalam Alkitab tertulis, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya, ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam,” (Pengkhotbah 3:1-2). Kita bisa mendapatkan hasil yang baik bila kita melakukan semua sesuai dengan waktunya atau urutannya. Tentu saja kita tidak mungkin memanen tanpa sebelumnya menanam.

Apa saja contohnya?

 

Sebaiknya kita mengumpulkan uang dulu, lalu barulah berwisata ke luar negeri. Kalau kita nekat mengubah urutannya, kita bisa jadi mengajukan pinjaman online, lalu kita menikmati perjalanan wisata ke luar negeri dengan uang hasil pinjaman, kemudian baru mengumpulkan uang untuk membayar cicilan pinjaman itu, tentu kita akan menderita dengan membayar bunga yang tinggi dan pengetatan gaya hidup yang tak nyaman. Tanda kurung tutup titik dua.

 

Sebaiknya kita menyelesaikan studi terlebih dahulu, lalu barulah membangun hubungan serius untuk menikah dengan calon pasangan hidup, supaya kita maksimal dalam studi. Namun, bila kita terlalu bucin, memaksakan diri untuk “resmi” membangun hubungan pasangan lebih dahulu, ada kemungkinan besar kita tidak akan bertahan dalam fokus studi. Pada akhirnya ketika kita lulus dan dihadapkan pada kesempatan mendapatkan karier yang bagus, kompetensi kita tidak siap karena tidak maksimal dilatih dan diasah saat sekolah atau kuliah. Akhirnya kita mengalami situasi tanda kurung tutup titik dua.

 

Dalam Alkitab, Daud adalah salah satu pribadi yang taat dengan proses dari Tuhan. Setelah dia diurapi oleh Nabi Samuel menjadi raja Israel, Daud harus hidup dalam pelarian dan pengasingan terlebih dahulu, sehingga karakternya semakin terbentuk, lalu kemudian barulah menjadi raja pada waktunya. Bayangkan kalau saat itu Daud memaksakan diri mengubah urutannya menjadi raja dengan pemberontakan, Daud pasti tidak akan pernah menjadi raja yang diberkati Tuhan.

 

Perihal mengganti urutan ): menjadi :), kita bisa menekan tombol backspace dan mengetik ulang, tetapi tidak demikian halnya dengan konsekuensi ketidaktaatan; kita tidak bisa lari dari hal tersebut. Seperti Daud yang tidak bisa lari dari konsekuensi saat dia tidak patuh dengan proses, kita pun harus menghadapi konsekuensi pilihan kita masing-masing. Di saat pasukannya berada di medan perang, Daud sang panglima perang tertinggi justru leyeh-leyeh di istana, melihat wanita mandi di atap rumah tetangga dari sotoh istana, sehingga akhirnya dia jatuh dalam dosa perzinahan. Seandainya, Daud ikut berperang, mungkin dia tidak akan punya tenaga lagi untuk berjalan-jalan di sotoh istana. “Beruntung”-nya Daud, ada Nabi Natan yang kemudian dipakai Tuhan untuk menegur dosa Daud, sehingga Daud mendapat kesempatan bertobat, meski tetap menanggung konsekuensi dari pilihan dosanya itu.

 

Dengan segala kelemahan kita, seperti Daud, kita bisa dengan mudah tidak taat dengan proses. Kita bisa mengambil jalan pintas tanpa berpikir panjang sehingga kemudian merasakan kejatuhan. Solusinya, kita perlu hidup dijaga dalam komunitas pemuridan. Memiliki pemurid dan membangun gaya hidup pemuridan akan sangat menolong kita untuk tetap setia dalam proses. Tentu saja yang dimaksud bukanlah pemuridan yang hanya sekadar status atau program, melainkan pemuridan yang memiliki keterbukaan dan akuntabilitas sejati.

 

Berkaca dari kejatuhan Daud, daripada Nabi Natan datang kepada dia setelah semuanya terjadi lalu baru dia mengaku dosa dan bertobat, akan jauh lebih baik jika urutannya adalah Daud datang kepada Nabi Natan dahulu untuk mengaku dosa ketika dia mulai tergoda untuk berzinah dengan istri orang lain. Hal itu tentu menolong Daud untuk tercegah dari berbuat dosa lebih lanjut. “Sial”-nya Daud, dia tidak bisa menekan backspace dan mengganti urutannya.

 

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki seorang “Nabi Natan” di dalam hidup kita? Apakah hidup kita terjaga dalam keterbukaan dan akuntabilitas dalam pemuridan? Kalau belum, berdoalah memintanya kepada Tuhan. Kalau sudah, bangunlah kehidupan pemuridan yang terbuka dan transparan; jangan tunggu rasa mentok lalu baru mencari pemurid. Ingat, sama seperti Daud, kita juga tidak punya tombol backspace. 🙂

2024-05-29T12:14:19+07:00