//Tokoh-tokoh berpengaruh : Musa

Tokoh-tokoh berpengaruh : Musa

HORMATILAH KEKUDUSAN TUHAN

Image

Selama ini kita hanya mengenal Musa sebagai orang yang paling lembut hatinya di bumi. Namun pernahkah Anda bertanya, mengapa Musa tidak masuk ke Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada Musa dan segenap orang Israel. Jikalau kita membaca Bilangan 20:1-13, maka kita akan menemukan akar penyebabnya. Daud mengungkapkan akar penyebab dosa tersebut demikian, “Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan kata-katanya,”(Mazmur 106:32-33). Jadi, dosa keteledoran Musa sebagai tidak memberi rasa hormat kepada Tuhan. Mengapa Musa teledor? Karena segenap umat Israel menggerutu, "Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?" (Bil 20:3-5).
Apa yang dimaksudkan dengan teledor? Marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Musa berkata dengan emosi, "Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?"(ayat 10). Kata-kata ketidakpercayaan Musa berbuntut dalam tindakan. Musa mengangkat tangan dan memukul bukit batu dengan tongkat dua kali, sampai keluarlah banyak air. Namun, mukjizat tidak menjadikan Musa seorang yang berkenan kepada Allah. Karena,”TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, maka kamu tidak akan masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka." (ayat 12). Kita melihat bahwa betapa seriusnya Tuhan terhadap apa yang kita sebut sebagai sikap rasa hormat. Jangan pernah memiliki sikap yang tidak memberi rasa hormat kepada Tuhan atau kepada yang lain, karena akan berakibat fatal. Untuk itu, kita perlu mengembangkan sikap saling mendahului dalam memberi hormat kepada yang lain. Kita akan menuai kembali apa yang telah kita taburkan. (ayub).

2019-09-24T20:26:37+00:00