Tough Love

Beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat satu episode dari sebuah program televisi yang berjudul Dog Whisperer. Program itu menayangkan pengalaman seorang pelatih anjing yang membantu pemilik-pemilik anjing yang bermasalah agar mampu menjinakkan anjing mereka. Dalam episode yang saya lihat, kliennya adalah seorang doktor dalam bidang psikologi. Dia mengatakan bahwa salah satu anjingnya tiba-tiba menjadi sangat agresif dan tidak dapat diatur begitu ia membeli seekor anjing lain yang sebenarnya bertubuh lebih besar.

Ketika sang pelatih menanyakan apakah ia pernah mendisiplin anjingnya yang bermasalah itu, ia berkata bahwa kompetensinya di bidang psikologi membuatnya percaya bahwa pendisiplinan bukanlah cara yang efektif dalam mendidik manusia; dan hal itu ia terapkan kepada anjingnya.

Sayang, hal ini sangat bertentangan dengan apa yang Firman Tuhan ajarkan. Ini justru adalah kesalahan klasik yang sering kali menciptakan generasi muda yang tidak berintegritas dan tidak memiliki daya juang yang tinggi. Dalam istilah bahasa Inggris, pendisiplinan yang berdasarkan kasih ini sering dikenal dengan istilah tough love (artinya, “kasih yang tegas”). Kasih yang tegas bukan hanya diperlukan dalam mendidik seseorang, tetapi juga merupakan salah satu pilar kasih dan pendidikan yang utama. Dalam mendidik orang-orang yang dipilih-Nya sebagai pemimpin, Tuhan tidak hanya menggunakan anugerah/soft love, namun juga melengkapinya dengan tough love.

Tough love: “Kaki kanan” dari kasih sejati

Jika Anda mempelajari Alkitab dengan teliti, Anda akan menemukan bahwa Alkitab selalu mendidik kita dengan menggunakan disiplin dan anugerah sekaligus. Dalam masa Perjanjian Lama, di balik ketatnya hukum yang Tuhan berikan, Ia berkali-kali menekankan bahwa bangsa-bangsa lain harus berusaha mencari apa yang Tuhan inginkan, sedangkan bangsa Israel mendapatkan anugerah dipilih secara langsung oleh Tuhan dan secara gamblang diberi tahu mengenai keinginan-keinginan Tuhan yang akan mendatangkan berkat. Di Perjanjian Baru kisah pengorbanan Kristus begitu menonjol, tetapi Kristus juga berkali-kali mengatakan bahwa jika manusia tidak bertobat, mereka pasti akan binasa.

Melalui perspektif karakter, saya mengamati bahwa setidaknya 72% orang-orang dengan karakter tertentu cenderung lebih mudah mempelajari sesuatu jika mereka telah mengalaminya dengan sebuah impresi yang kuat; dan impresi yang dimaksud adalah impresi yang menyenangkan sekaligus impresi yang menyakitkan. Dengan kata lain, jika Anda benar-benar mengasihi seseorang dan menginginkan perkembangan terjadi di dalam dirinya, Alkitab mengajarkan agar Anda menggunakan baik anugerah yang menyenangkan maupun disiplin yang menyakitkan.

Tough love: Awal dari pertumbuhan

Sungguh menarik bahwa Kristus mengajarkan konsep ini berulang-ulang melalui cara yang berbeda-beda. Ketika hendak memultiplikasi pekerjaan-Nya di dunia melalui kematian-Nya dan turunnya Roh Kudus ke atas para murid, Ia mengatakan bahwa sebuah biji gandum haruslah mati terlebih dahulu sehingga ia dapat bertumbuh dan berbuah banyak (Yoh. 12:24). Ketika berbicara mengenai pertobatan, Ia mengatakan bahwa hanya orang-orang yang merasa dirinya bersalah yang akan lebih mudah bertobat (Mrk. 2). Kita pun dapat melihat karakter Petrus bertumbuh ketika ia telah “didisiplin” Tuhan dengan mengizinkan ia merasa malu karena telah menyangkal Tuhannya sebanyak tiga kali. Karakter Musa berkembang setelah ia didisiplin Tuhan di padang gurun Midian; dan karakter Yusuf berkembang dengan sangat luar biasa setelah ia mengalami tough love dari Tuhan dengan dibuang ke Mesir ketika remaja.

Melalui perspektif karakter lagi, saya mengamati bahwa setidaknya 80% orang dengan karakter tertentu cenderung baru mulai melangkah ketika didesak dengan tekanan yang tidak menyenangkan. Dengan kata lain, Alkitab mengajarkan bahwa orang-orang yang mengalami perkembangan tercepat sebenarnya adalah mereka yang benar-benar merasa bahwa membutuhkan perkembangan itu. Hal ini tidak dimulai dari pikiran, melainkan dari hati yang telah ditaklukkan oleh kebenaran.

Sebagai seorang spesialis di bidang karakter, saya juga mengamati bahwa alasan terbesar mengapa banyak di antara generasi muda dalam satu dekade terakhir ini tidak memiliki semangat juang dan integritas yang tinggi adalah karena kurangnya tough love dalam proses pendidikan yang dilakukan oleh orang tua mereka. Namun, hal ini tidak seharusnya membuat Anda menjadi kecil hati. Tough love hanya perlu dimulai dari ketaatan akan kebenaran, lalu dilanjutkan dengan kekonsistenan dalam menerapkan kebenaran dan disempurnakan dengan kasih dan anugerah. Alkitab mengatakan jika Anda konsisten mendidik seseorang dalam jalan kebenaran, ia akan memiliki masa depan yang cerah (Ams. 22:6).

Responding Tip : “Siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”
(Amsal 13:24)

2019-10-17T10:46:18+07:00