///Transaksi yang batal

Transaksi yang batal

Menurut hukum dunia, transaksi jual beli adalah sebuah tindakan hukum, sehingga yang berhak melakukan transaksi adalah seseorang yang telah cakap hukum. Jika masing-masing pihak yang akan bertransaksi sudah dinyatakan cakap hukum, proses berikutnya adalah masing-masing pihak harus menyelesaikan kewajiban yang menjadi bagiannya. Jika kedua hal ini tidak terpenuhi, hak atas transaksi itu tidak akan bisa diterima, dan dengan kata lain transaksi dinyatakan batal.

Analogi proses transaksi ini mirip dengan mujizat Tuhan atas hidup kita. Mujizat Tuhan memang tidak terjadi secara transaksional. Tetapi kalau kita melihat kisah mujizat Tuhan dalam Alkitab, kita bisa menemukan bahwa mujizat Tuhan terjadi karena mereka memang “cakap” menerima mujizat. Orang-orang ini kita sebut “cakap” menerima mujizat karena setia dan taat melakukan kewajiban yang menjadi bagian mereka.

Mujizat-mujizat Tuhan yang diceritakan dalam kisah di Alkitab pun melalui proses ini. Tokoh-tokoh dalam Alkitab ini adalah mereka yang “cakap” menerima mujizat. Masing-masing dari mereka juga telah melakukan bagian mereka, sehingga mujizat bisa terjadi. Musa adalah orang yang dipilih Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, karena ia adalah orang yang “cakap” di mata Tuhan. Selanjutnya, Musa juga melakukan bagiannya untuk percaya dan taat dengan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir, dan mujizat banyak terjadi di antara bangsa Israel selama perjalanan mereka keluar dari Mesir menuju Tanah Kanaan. Daniel adalah orang yang setia pada Tuhan, serta dianggap “cakap” di mata Tuhan. Daniel melakukan bagiannya untuk taat beribadah dan tidak meninggalkan iman, hingga mujizat dapur api dan gua singa terjadi pada dirinya. Maria ibu Yesus adalah perawan suci yang dipilih Allah Bapa untuk mengandung bayi Yesus. Maria “cakap” melakukan bagiannya dengan percaya dan taat bahwa ia akan mengandung bayi Yesus, lalu ia menerima mujizat itu. Mereka semua “cakap” untuk menerima mujizat, dan mau melakukan bagian mereka.

Saya teringat suatu pernyataan dalam salah satu artikel di majalah build! bulan lalu, bahwa  mujizat adalah sebuah proses tuntunan kuasa Tuhan yang menyatu dengan ketaatan manusia. Ini berarti, mujizat adalah sebuah “transaksi” kuasa Tuhan yang terjadi pada anakNya yang “cakap” menerima mujizat dan melakukan bagiannya.

“Cakap” menerima mujizat adalah syarat bahwa anak Tuhan harus mampu dan taat untuk menerima mujizat. Banyak anak Tuhan yang kesulitan untuk melakukan bagiannya dalam menerima mujizat. Sering kali, kita kesulitan karena kurang beriman, sehingga kita tidak percaya bahwa mujizat Tuhan bisa terjadi. Atau, kita menjadi kurang beriman karena kita terlalu ‘pandai’ di mata dunia, sehingga kita hanya melihat dari cara pandang manusia, bukan dari cara pandang Alah. Padahal, kebenaran Firman Tuhan jelas, bahwa “Apa yang tidak pernah dilihat atau didengar oleh manusia, dan tidak pernah pula timbul dalam pikiran manusia, itulah yang disediakan Allah untuk orang-orang yang mengasihiNya,” (1 Kor. 2:9). Menjadi orang yang “cakap” untuk menerima mujizat adalah sama dengan menjadi “orang-orang yang mengasihiNya”.

Dalam seluruh proses mujizat, saya melihat sedikitnya ada tiga tahap/syarat yang harus terjadi:

1. Mengasihi Tuhan

2. Taat melakukan bagian kita

3. Menerima mujizat Tuhan

Saat menerima pesan malaikat Tuhan bahwa dirinya akan mengandung bayi Yesus, awalnya Maria ibu Yesus tidak percaya. Namun, malaikat Tuhan mengingatkan kepadanya bahwa “tidak ada yang mustahil bagi Allah”. Maria langsung taat menanggapi pesan itu persis seperti yang dikehendaki Tuhan.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanMu itu.” (Luk. 1:38)

Untuk menerima mujizat Tuhan, marilah kita berespons seperti yang Maria katakan pada malaikat Tuhan, kemudian taat melakukan hal-hal yang menjadi bagian kita. Mujizat pasti terjadi atas hidup kita. Tuhan memberkati.

2019-10-17T14:05:18+07:00