//Tuhan berbicara, Saya mendengar

Tuhan berbicara, Saya mendengar

 

Waktu itu, di kelas balita Kega (Gereja Anak), kami sedang membuat permainan pesan berantai. Adik-adik diminta menyampaikan pesan yang diberikan secara berantai dalam barisan, dengan cepat dan benar. Permainan dimulai, namun ada satu kelompok yang tersendat oleh karena seorang anak di dalamnya. Sebut saja namanya Romeo. Romeo ini memang anak yang sangat suka bercerita. Ia lucu dan pintar. Kebiasaannya adalah menghampiri Kakak Pembina yang sedang memimpin pujian atau membawakan firman Tuhan di depan kelas, untuk bercerita mengenai kesehariannya sepanjang minggu.

Kali itu, saat permainan dimulai, alih-alih menyampaikan pesan yang diterimanya dari Kakak Pembina di depan, Romeo sebagai orang pertama di barisan malah berusaha menyampaikan cerita pribadinya. Ia sama sekali tidak mengikuti instruksi permainan. Berkali-kali namanya dipanggil untuk bisa fokus kepada perintah yang diberikan, namun Romeo seperti mempunyai dunianya sendiri. Ia seperti tidak mendengar dan terus saja menyampaikan ceritanya. Melihat kejadian itu, awalnya saya tertawa geli karena melihat kepolosan Romeo dan bagaimana ekspresi bercerita bocah lima tahun ini yang ingin sekali didengarkan. Apa yang terjadi kemudian? Romeo tidak kunjung mendengarkan instruksi yang diberikan, tetapi tentu permainan harus terus berjalan. Karena kelompok lain sudah berhasil menyampaikan pesan yang mereka terima, maka untuk mengejar ketinggalan, Romeo terpaksa dibawa mundur ke urutan kesekian dalam barisan agar anak yang lain bisa mulai memainkan perannya.

Saat menyaksikan hal tersebut, tiba-tiba hati saya menjadi tertegun. Di situlah saya belajar betapa pentingnya memasang telinga kepada perkataan Tuhan. Berapa seringnya saya sibuk menyampaikan keluh kesah, berkomentar tentang banyak hal, mencurahkan serentetan pikiran dan perasaan, sampai Tuhan kesulitan untuk menyampaikan kehendakNya. Ketika fokus pembicaraan dengan Tuhan hanya tentang saya, saya, dan saya, sebenarnya saat itu saya tidak memberikan ruang kepada Tuhan untuk berbicara. Padahal, Tuhan punya pesan yang sudah dinantikan oleh mereka yang berada di lingkar kehidupan saya. Pesan Tuhan adalah pesan berantai!

Sebagai anak Tuhan yang berada di barisan depan, Anda dan saya punya keistimewaan untuk mendengar langsung isi hatinya Tuhan. Dalam peran kita yang istimewa ini, yang terutama adalah sungguh-sungguh mendengarkan pesan Tuhan, bukan menuntaskan daftar pokok doa kita ataupun memuaskan curhat kita. Jika berkali-kali Tuhan mencoba berkata-kata, namun kita tidak juga mendengarkan, jangan-jangan hal yang sama dengan Romeo bisa terjadi juga pada kita. Terpaksalah, Tuhan menaruh kita di barisan belakang, dan memilih orang lain untuk menjadi penyampai pesanNya. Bukan karena Tuhan tidak sayang lagi kepada kita, tetapi karena “permainan” harus tetap berjalan. Kehendak dan rencana Tuhan harus digenapi. Jika saya tidak siap, ada orang lain di urutan selanjutnya dalam barisan itu yang siap untuk menggantikan saya. Siapkah Anda menyampaikan pesan berantai dari Tuhan kepada orang lain? Yuk, belajar mendengarkan Dia!

“Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yak. 1:25)

(YPe)

2019-10-17T13:23:15+07:00