//Tuhan yang kelihatan

Tuhan yang kelihatan

Iman yang kecil! Begitu sebutan Tuhan Yesus untuk mereka yang telah ditebus namun “sibuk” memikirkan keperluan hidup, bukannya Kerajaan Allah (Mat. 6:30, KJV). Perkara makanan, minuman, pakaian (silakan tambahkan lagi) memang bisa jauh lebih nyata ketimbang soal Kerajaan Allah. Ketika pemerintahan Allah dibatasi pada dinding gereja dan seremoni ibadah, Kerajaan Allah dapat menjadi begitu abstrak dan tak terjangkau oleh langkah hidup kita sehari-hari. Bagaimana Anda dan saya mendatangkan Kerajaan Allah dalam hidup yang singkat ini? Berikut adalah kisah seorang teman, tentang bagaimana ia mengejar panggilan Tuhan untuk mendatangkan Kerajaan Allah di hidupnya dan di bangsa ini.

“Kamu Cina, kenapa mau jadi PNS?” Itulah kira-kira pertanyaan yang paling sering ditanyakan pada saya, seorang perempuan Tionghoa yang baru saja tiga bulan bekerja sebagai calon pegawai negeri sipil di sebuah kementerian negara—suatu hal yang mungkin masih jarang terjadi di republik ini.

Bagi kebanyakan orang keturunan Tionghoa, mengabdi pada negara memang belum menjadi pilihan. Tapi bagi saya, ikut berkarya dan memberi sumbangsih baik bagi bangsa lewat pemerintahan adalah sebuah panggilan hidup yang ditorehkan oleh Sang Pencipta di loh hati saya.

Semua keseruan tentang panggilan hidup ini dimulai sejak saya mengenal Yesus. Saya dibesarkan di lingkungan gereja sedari kecil dan bertumbuh menjadi aktivis gereja. Meski melakoni banyak pelayanan di gereja, pertemuan pribadi saya dengan Tuhan baru betul-betul terjadi saat saya kelas 2 SMA di sebuah persekutuan di sekolah. Dari pertobatan itu lalu saya dimuridkan dan dibimbing untuk tak hanya sekadar menjadi “aktivis-gereja”, tetapi benar-benar mengenal Yesus secara pribadi.

Tak lama setelah itu, saya harus memutuskan akan kuliah di jurusan apa. Sebagai aktivis gereja, saya sempat berpikir bahwa kalau sungguh-sungguh ingin ikut Tuhan sebaiknya masuk sekolah teologia dan menjadi hamba Tuhan, atau minimal masuk jurusan yang bisa berguna untuk pelayanan gerejawi misalnya konseling. Pada Desember 2006, akhirnya saya diterima di jurusan psikologi sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Tetapi Tuhan punya rencana lain—dan Dia tidak membiarkan saya salah jalan!

Suatu pagi di bulan Maret 2007, ketika saat teduh (saat itu baru belajar membaca Alkitab setiap hari), sebuah ayat di 2 Tawarikh 19:6-7 seolah-olah “melompat keluar” dan menyentuh sampai ke kedalaman hati saya. Ayat itu berbicara tentang keadilan dalam memutus hukum. Ayat itu terngiang-ngiang sepanjang hari, bahkan sampai beberapa hari kemudian. Ayat itu seperti “memanggil-manggil” saya! Ayat itu berbicara begitu kuat sampai akhirnya saya ingin mencoba tes masuk Fakultas Hukum (FH) sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN), padahal saya mengambil jurusan IPA sementara tes masuk FH harusmengambil tes jurusan IPS!

Di sinilah perjalanan iman saya dimulai: jika memang Tuhan mau saya masuk, maka saya akan masuk. Saya hanya perlu melakukan bagian saya: belajar yang terbaik. Sampai di sini, peperangan saya adalah melawan diri sendiri—dan saya memutuskan untuk menerobos  segala keraguan dengan iman dan tindakan!

Ternyata pada bulan Agustus saya dinyatakan lulus tes! Hal tersebut membuka babak baru perjuangan yang harus saya hadapi. Pertama-tama, keluarga tidak terlalu mendukung saya masuk PTN (jurusan Hukum pula! Mau jadi apa?). Kedua, ada banyak orang tetiba menghimbau saya untuk tidak masuk FH karena dunia hukum itu kotor dan jahat, “Nanti kamu ‘kebawa’, lho!” (Saya selalu menjawab: justru karena itu dunia yang kotor dan jahat, maka kita yang adalah “terang dunia” perlu datang ke sana!)

Semua kendala itu sempat menciutkan hati saya, tetapi Firman yang saya dapatkan sebelumnya bersuara lebih keras dari semuanya dan selalu memberikan kekuatan baru bagi saya untuk tetap maju dalam iman—dan ya, saya memutuskan untuk tetap maju, apapun tantangannya!

Di masa-masa itu, memang saya merasa seperti “sendirian”, tetapi justru dalam kesendirian itu saya dibentuk untuk mengandalkan Tuhan dan mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Selama kuliah jugalah Tuhan membukakan hal yang lebih besar mengenai panggilan hidup saya yakni untuk memberkati bangsa melalui pemerintahan. Jujur saat itu saya sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana saya bisa sampai “ke sana”. Tetapi saya selalu diingatkan bahwa Tuhan sudah lebih dulu menunjukkan keajaiban dan penyertaanNya ketika membawa saya masuk FH.

Kini di sinilah saya berdiri: di ladang yang harus saya kelola di atas muka bumi ini. Berjalan mengerjakan panggilan tidaklah mudah, tetapi saya percaya jika Tuhan yang memanggil, Tuhan yang akan mengajar, memperlengkapi, dan membukakan jalan bagi saya. Bagian saya hanya merendahkan hati, mau menjadi peka dengan suara Tuhan dan melakukannya—apapun tantangannya. Selama saya melekat pada Tuhan, Tuhan akan membawa bahkan menarik saya masuk dalam pusat rencanaNya!”

Anda dan saya tentu juga punya cerita yang spesial dari Tuhan. Kita punya jalan yang unik untuk mendatangkan Kerajaan Allah itu ke dalam dunia kita masing-masing. Pertanyaannya, sudahkah Tuhan sendiri nyata di mata kita setiap bangun di pagi hari sampai malam datang kembali? Daniel punya Darius, Yusuf punya Firaun, Anda dan saya memiliki pula orang-orang yang menunggu untuk Tuhan menjadi nyata di mata mereka. Ayo, jangan gagal fokus dari Kerajaan Allah, mari dengar kesaksian mereka atas Allah yang nyata di dalam hidup kita! 🙂

Daniel 6:27
“Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahanNya tidak akan binasa dan kekuasaanNya tidak akan berakhir.”

Kejadian 41:38-39 “Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?”.Kata Firaun kepada Yusuf: “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu,tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.”

2019-11-01T11:09:44+07:00