///“Tuhan,..Engkau ada di mana…??”

“Tuhan,..Engkau ada di mana…??”

Siang itu terlihat kesibukan yang tidak biasanya terjadi di sebuah apartemen mewah di area perumahan berkelas di Jakarta. Malcom, seorang anak muda dari keluarga yang berada baru saja dimakamkan karena kemarin ditemukan tidak bernafas karena terjatuh dari apartemennya di lantai 23. Sementara apartemen tersebut sedang dibereskan semua barang-barang yang ada di dalamnya, sepasang mata melihat dengan penuh penyesalan dari tempat yang sangat jauh.  Itu adalah mata Malcom.

Sebuah tangan dengan lembut mengusap pundaknya, “Malcom….” Terdengar suara Sahabatnya, Juruselamat dan Tuhannya memanggil namanya. Mata Malcom yang berkaca-kaca itu bertemu dengan mata Yesus yang memandangnya dengan penuh kasih. Memang saat itu ia sudah tidak lagi berada di rumahnya yang seperti neraka itu, ia sudah berada di surga tempat yang bahagia; tapi selama ini masih ada sesuatu hal yang mengganjal hatinya.  Maka tanpa menunda waktu lagi Malcom (M) memulai diskusinya dengan Tuhannya, Yesus Kristus (YK):

M : “Tuhan…Engkau ada di mana, saat aku mulai menjadi manusia di dalam rahim ibuku ? karena saat itu aku sangat menderita. Banyak sekali cairan-cairan yang membuat jantungku yang baru terbentuk berdetak terlalu cepat, aku sering lelah dan kehausan.  Karena ibuku tidak menghendaki kelahiranku.  Aku begitu takut dan kesepiaan, karena waktu itu aku tahu persis ibu dan ayahku membenci aku. Engkau ada di mana, saat itu…Tuhan ?” (mata Malcolm kembali berkaca-kaca karena emosi)
YK : Aku tidak pernah jauh dari dirimu, anakKU; bahkan tubuhmu TanganKUlah yang menenunnya sehingga bisa tercipta dalam rahim ibumu (Maz 139:13) MataKU tidak pernah lepas dari dirimu setiap detik (Maz 139:16). HatiKUpun ikut sedih melihat penderitaanmu. TanganKUlah yang membuat dirimu dapat bertahan melalui bulan-bulan yang penuh penderitaan itu.

M : Tapi….Tuhan, kenapa aku waktu itu tidak bisa menyadari adanya kasih dan perlindunganMU?
YK : Untuk bagian itulah yang seharusnya ayah dan ibumu lakukan terhadap dirimu.  Seharusnya mereka menceritakan kasihku dan perhatianKU kepada dirimu, karena semuanya itu sudah tertulis dalam Alkitab. Dan bukankah kamu dapat mendengarnya sekalipun dalam kandungan?

M : Ya, betul sekali…bahkan detak jantung ibuku, kejengkelan ibuku kepada ayah dapat kurasakan dengan sangat jelas, dan mereka tidak sadar bahwa semuanya itu membuatku mulai membenci diriku sendiri.
YK : Sebenarnya kalau kamu menyadari kehadiranKU, sekalipun masih dalam kandungan, kita bisa mengalami persekutuan yang indah dan kamu akan menghargai kehadiran dirimu sendiri.

M : Saat aku usia 4 tahun, waktu itu selama hampir setahun aku menderita ketakutan, karena mendengar suara halilintar di malam hari yang seringkali membuatku menangis dan tidak bisa tidur.  Suster yang menemaniku di kamar, selalu tidak terbangun karena sudah pulas. Ayah dan ibuku, apalagi tidak mendengar sama sekali tangisanku, karena berada di lantai yang berbeda. Boneka yang banyak mengelilingi tempat tidurku tidak membuat takutku hilang. Engkau ada di mana, Tuhan, saat itu ?
YK : Aku tidak pernah meninggalkan kamu, bukankah Aku sudah berjanji bahwa “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”?

M : Tapi, Tuhan…bukankah itu janjiMu kepada orang-orang dewasa saja?
YK : Oooh, tentu tidak, masih ingatkah kamu; bagaimana murid-muridKu pernah melarang anak-anak kecil datang menemuiKu?

M : Ya…itu aku ingat..
YK : Ingat,…apa yang Aku lakukan saat itu?

M : Ya…Engkau marah kepada perbuatan murid-muridMu dan justru memeluk anak-anak kecil itu (Mark 10:13-16)
YK : Itu artinya sekalipun engkau masih kecil bahkan masih dalam kandungan ibumu atau engkau sudah dewasa, janji kehadiranKU tidak berubah.

M : Tapi mengapa waktu itu aku tidak bisa menyadari hal ini?
YK : Karena ayah dan ibumu melupakan janji nikah mereka di hadapanKu.

M : Maksud….Tuhan??
YK : Saat ayah dan ibumu diberkati dalam pernikahan, mereka berdua mengucapkan janji nikah kudus, dan ada kalimat yang diucapkan oleh mereka sebagai berikut “…menjadi Bapa (dan Ibu) yang bijaksana untuk anak-anak yang Tuhan percayakan dan mendidik dalam jalan Tuhan, janji ini akan saya lakukan baik dalam keadaan suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit dan dalam keadaan apapun juga,  sampai kematian memisahkan kita berdua” . Kamu tahu artinya?

M : Ayah dan ibu sudah berjanji di hadapanMu untuk mengajar aku supaya bisa mengenal pribadiMu dalam keadaan apapun.
YK : Ya,.seharusnya saat engkau sedang takut karena bunyi halilintar, mereka mengajakmu berdoa dan mengenal kasihKu, tapi sayang sekali mereka melupakan janji mereka kepadaKu, padahal Aku tidak pernah melupakan seluruh janji-janjiKu kepada mereka.

M: Menderita ketakutan tanpa ada yang mau mendengarkan diriku, membawaku berkenalan dengan minuman keras saat aku masih SD kelas 5.  Karena kalau aku sedang mabuk, aku tidak merasakan takut dan merasa hebat.  Tapi itu semua segera hilang kalau aku sudah sadar kembali. Engkau ada di mana sich waktu itu, Tuhan?…karena saat itu aku betul-betul kesepian.  Papa dan mama tidak pernah punya waktu, hari-hariku dipenuhi hanya oleh kursus, kursus dan kursus.
YK: Aku tidak pernah berubah, anakKu. Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau! (Ibr 13:5b)

M: Tapi…kenapa aku tidak bisa menyadari itu? Aku hanya tahu saat ikut ibadah KEGA, tapi hanya itu saja, hanya 1 jam lebih dalam seminggu.
YK : Memang tugas utama untuk membawamu mengenal Aku bukanlah para pembina KEGA, tapi ayah dan ibumu (Ams 1:8).  Merekalah yang seharusnya mengulang semua cerita Firman Tuhan yang kau dengar saat mengikuti ibadah KEGA, lagipula bukankah juga sudah diberikan bahan-bahan untuk orang tua dapat menolong anaknya melakukan renungan setiap hari.

M: Ya…rasanya aku pernah melihatnya. Satu lagi, Tuhan, saat aku remaja hidupku begitu rusak dan aku tidak pernah tahu bahwa ada Engkau Tuhan yang hidup dan begitu mengasihi diriku sampai akhirnya aku begitu mabuk dan terjatuh dari lantai 23 dan meninggal.
YK: Ya, Aku tahu itu dan memang sangat disayangkan kedua orang tuamu seharusnya menjadi contoh hidup bagaimana bisa mengalami kasihKu senantiasa.  Tapi memang mereka hanya beragama Kristen tapi sesungguhnya tidak mengenal diriKu.

M: Betul, Tuhan. Hanya satu hal yang aku syukuri dihidupku di dunia, karena aku sempat hadir di ibadah KEGA; karena di sanalah aku pernah mendengar adanya Tuhan yang hidup dan mengasihiku. Dan saat aku sudah tergeletak di jalan raya setelah terjatuh dari lantai 23, di tengah kesakitanku, aku mencoba memanggil namaMu, mengakui bahwa engkaulah Yesus satu-satunya Tuhan yang dapat menolong aku.  Hanya dengan kepercayaan itu saja, sekarang aku bisa berada di sini.  Terima kasih, Tuhan Yesus!

Malcom memeluk Tuhan Yesus yang menyambutnya dengan kasih.

Mari kita lakukan janji nikah kita untuk mendidik anak-anak kita di dalam Jalan Tuhan sampai mereka menjadikan Yesus Tuhan dan Sahabat Setia mereka senantiasa!

 

2012-11-28T08:49:11+00:00