Ujian Iman

Pagi itu, saya baru saja menyelesaikan penyampaian materi pengajaran di sebuah gereja. Materi pagi itu adalah prinsip kebenaran Firman Tuhan di Kolose 3:23, tentang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa mengharapkan pamrih.

Rupanya, salah seorang dari mereka yang mendengarkan memberi respons langsung terhadap pengajaran tersebut. Pria itu bertanya kepada saya, “Apakah Bapak serius menyatakan bahwa Bapak hanya bekerja untuk Tuhan bukan bekerja untuk uang?”

Saya menjawabnya, “Ya, benar.”

Seketika saja, pria yang ternyata pengusaha itu meminta saya untuk datang ke kantornya pada hari Senin berikutnya.

 

Saat hari Senin tiba dan saya datang, ternyata saya mendapatkan sebuah kepercayaan berupa tugas atau tanggung jawab yang besar, yang wajarnya bernilai tarif cukup mahal. Sebagai langkah awal, saya menyusun proposal proyek dan rencana jadwal kerja, yang secara keseluruhan akan membutuhkan waktu sekitar enam bulan sampai tuntas.

Pengusaha tersebut setuju, tetapi dia berkata dengan tegas, “Kalau memang Bapak ingin membuktikan apakah pengajaran Bapak itu benar,  saya ingin Bapak mengerjakannya tanpa ada bayaran apa pun dari saya.” Jujur saja, saya tertegun, lalu jadi berpikir keras tentang potensi kerugiannya serta dampaknya bagi keluarga saya.

 

Di rumah, saya berunding dengan istri saya. Saya juga berdiskusi dengan tim kerja saya di kantor. Saya ceritakan kepada mereka semua apa yang terjadi, bahwa setelah saya menyampaikan pengajaran Firman Tuhan pada hari Minggu, ada satu orang yang menantang kebenaran itu untuk saya sendiri praktikkan. Syukurlah, istri dan tim saya setuju untuk membuktikan pengajaran itu benar. Kami semua sepakat bahwa kebenaran itu perlu dibuktikan.

 

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, saya akhirnya melakukan langsung apa yang saya ajarkan. Saya mengerjakan proyek yang dipercayakan menjadi tanggung jawab di kantor itu selama enam bulan, termasuk mengeluarkan modal tidak kurang dari 60 juta rupiah selama enam bulan itu, bersama tim kerja saya.

 

Puji Tuhan, hasilnya sangat baik dan pengusaha itu sangat puas dengan hasil kerja kami. Lalu, dia segera menulis pada sebuah cek, nilai sebesar 200 juta rupiah. Hati saya gembira melihatnya… tetapi tiba-tiba dia berkata sambil memberikan lembaran cek itu, “Serahkan uang ini untuk gereja. Ini bukan bayaran untuk kamu.”  Saya kembali tertegun, bahkan kali ini saya merasa  dipermainkan. Bukan main kesalnya hati saya. Namun, di dalam diam saya berusaha tenang dan menguasai diri kembali.

Sambil menghela napas, saya berkata, “Baiklah.”

 

Kemudian dengan perasaan yang sangat kecewa, saya bergegas pulang dan menyerahkan cek tersebut pada salah satu pimpinan di gereja. Saat itu, resmilah seluruh nilai uang pada cek tersebut menjadi sepenuhnya milik gereja. Bukan hak saya sama sekali.

Saudara-saudariku, tanpa saya duga sama sekali, sebuah kenyataan ajaib terjadi setelah peristiwa itu. Sebulan berlalu, dan saya menerima permintaan pekerjaan dari sebuah perusahaan besar, berupa proyek yang cukup sederhana untuk dilaksanakan selama masa satu bulan, dengan dua kali pekerjaan saja. Namun, pekerjaan itu akan berulang dalam jangka panjang. Kami menerima kontrak proyek tersebut dengan kompensasi sebesar 50 juta rupiah per bulan selama masa lima tahun. Total nilai kontrak itu tidak kurang dari 3 miliar rupiah, yang adalah 15 kali dari jumlah yang sebelumnya kami serahkan, sebagai pembuktian kebenaran Firman Tuhan.

 

Sungguh, saat itu saya jadi mengerti, itulah ujian iman dari Tuhan atas pribadi saya. Tuhan telah menguji hati saya, dan kemudian mengganjar kesetiaan saya dalam melakukan kebenaran Firman-Nya. Sampai hari ini, saya tidak pernah melupakan pelajaran itu, bahwa Tuhan tidak pernah berutang. Dari pengalaman ujian iman itulah, saya menjadi teguh percaya bahwa kalau kita taat kepada Tuhan dan kita sungguh-sungguh mengikuti perintah-Nya, tidak ada yang mustahil bagi Dia untuk dilakukan-Nya atas kita.

“Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.” – Roma 11:35-36

 

Segala sesuatu berasal dari-Nya. Tidak ada manusia yang dapat memberi kepada Tuhan sesuatu, yang membuat Tuhan berutang balasannya. Saya belajar langsung kebenaran tersebut, setelah mengajarkannya. Semoga kita semua pun mengalami kebenaran yang indah ini.

2024-10-30T10:49:56+07:00