//Ukuran kasih dan mengasihi

Ukuran kasih dan mengasihi

Saya menuliskan perenungan ini pada masa-masa menjelang perayaan Paskah, dan Paskah selalu membawa diri saya pada esensi yang menjadi inti pengenalan kita akan Tuhan: kasih. Kasihlah yang membuat Tuhan menjangkau kita, dan kasih pulalah yang diingini-Nya agar kita kembalikan kepada Dia. Bagi saya, Markus 12:30 (“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”) adalah ukuran yang paling utuh dan lengkap yang menjadi patokan bagaimana saya harus mengasihi Tuhan.

Bagi banyak orang Kristen dan bagi saya sendiri, ukuran ini sering kali tampak terlalu sulit untuk dicapai. Bagaimana mungkin seseorang bisa mencapai ukuran mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, segenap jiwanya (yang berarti segenap pikiran, perasaan, dan kehendak), segenap akal budinya, dan segenap kekuatannya? Ini berarti kita harus seratus persen, total, sepenuh-penuhnya, mengasihi Dia saja! Bagaimana mungkin Anda dan saya bisa melakukannya dengan sempurna? Apakah kita sudah pasti gagal dalam usaha mengasihi Dia?

Syukurlah, Dia bukanlah Tuhan yang lalim, yang memberikan perintah lalu menghukum kegagalan dan dosa kita begitu saja. Dia adalah Tuhan yang telah melakukan segala yang diperintahkan-Nya lebih dahulu dan memberikan teladan kepada kita. Demikian juga dalam hubungan kasih kita dengan Dia. Salib adalah teladan sekaligus bukti sempurnanya kasih-Nya di dalam Yesus.

  • Tuhan mengasihi kita dengan segenap hati-Nya: Meskipun kita orang berdosa yang selalu menyakiti hati-Nya, Dia memilih untuk tetap dan lebih dahulu mengasihi kita. Yesus tidak menunggu kita kudus dahulu untuk mati bagi kita.
  • Tuhan mengasihi kita dengan segenap jiwa-Nya: Seluruh jiwa, yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak-Nya, tidak goyah dalam mengasihi kita. Yesus tidak mundur karena berbagai alasan demi diri-Nya sendiri, sampai karya kasih-Nya tuntas di kayu salib.
  • Tuhan mengasihi kita dengan segenap akal budi-Nya: Skenario penyelamatan kita dan penyatuan kembali kita dengan-Nya telah Dia rancang dengan sempurna dalam kekekalan. Dari pihak diri-Nya, sama sekali tidak ada celah kegagalan atau meleset pada skenario yang sempurna itu.
  • Tuhan mengasihi kita dengan segenap kekuatan-Nya: Sebagai Manusia, Yesus memberikan diri bagi kita. Kasih-Nya bagi kita dibuktikan kepada manusia sekaligus kepada seluruh makhluk lain dan kepada kerajaan kegelapan melalui tubuh yang tercabik-cabik, darah yang tercurah, dan nyawa yang diserahkan-Nya ke tangan Bapa.

Saat tulisan ini sampai ke tangan Anda dan mulai Anda renungkan, perayaan Paskah memang telah berlalu. Namun, di dalam Kerajaan Allah, kasih yang sempurna yang terbukti di kayu salib itu tetap dan selalu berlaku. Dari salib itulah, anugerah selalu mengalir dengan limpah. Janji-Nya jelas, bahwa di dalam diri kita sudah tertanam benih ilahi untuk kita menjadi serupa (sempurna) seperti Dia sendiri, dan bahwa kita akan menerima rahmat serta pertolongan tepat pada waktunya ketika datang ke takhta kasih karunia (anugerah) itu. Mari selalu kembali kepada salib dan menerima kasih karunia-Nya setiap saat, agar kita pun bertumbuh dan dimampukan setiap saat untuk mengasihi Dia sepenuh-penuhnya.

  • Mari kita belajar mengasihi Dia dengan segenap hati, tanpa menetapkan “syarat” apa pun, tanpa berdalih atau mundur atau menyimpang, meskipun ada hal-hal yang sulit atau tidak enak yang Dia izinkan untuk kita alami.
  • Mari kita belajar mengasihi Dia dengan segenap jiwa, dengan mempersembahkan ketaatan kita dan menundukkan pikiran, perasaan, serta kehendak kita kepada Dia setiap saat, walaupun terasa sakit.
  • Mari kita belajar mengasihi Dia dengan segenap akal budi, dengan memperkaya dan mengasah akal budi kita oleh Firman-Nya dan melalui berbagai pembelajaran. Kita selalu mengejar untuk melakukan yang terbaik dalam segala hal yang kita kerjakan, sehingga kemuliaan-Nya menjadi nyata melalui kualitas diri kita.
  • Mari kita belajar mengasihi Dia dengan segenap kekuatan, dengan mempersembahkan seluruh tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Dia. Kita menjaga kekudusan tubuh kita sebagai bait-Nya dari hal-hal yang cemar dan yang tidak sehat, sehingga seluruh kekuatan dan sepanjang umur kita bisa digunakan secara maksimal bagi penggenapan panggilan-Nya.
2019-10-17T11:41:07+00:00