Ukuran Tuhan

Seberapa sering kita salah menilai, atau salah mengukur, kualitas sesuatu atau seseorang? Dalam penilaian atau ukuran kita, hal atau orang itu lebih baik atau lebih buruk daripada kualitas aslinya. Kali ini, kita akan belajar dari cara Tuhan menilai atau mengukur, yang tepat dan sempurna menunjukkan kualitas setiap hal/orang.

Menilai atau mengukur sesuatu/seseorang hingga menghasilkan suatu kesimpulan yang positif biasanya membuat kita kagum, atau takjub. Dalam bahasa aslinya, kata “takjub” berarti suatu rasa terkejut karena pencerahan baru atau karena sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Ukuran Tuhan dalam menilai segala sesuatu dan setiap orang ialah ukuran, cara, dan metode yang baru bagi kita, yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya. Mari melihat beberapa kriteria ukuran Tuhan, yang semuanya menunjukkan kepada kita isi hati Tuhan, kehendak Tuhan, karakter Tuhan, pikiran Tuhan, dan kualitas Tuhan sendiri.

  1. Ukuran Tuhan adalah apa yang ada di hati, bukan di tampilan luar (1 Sam. 16:7).Samuel, seorang nabi, ternyata sempat terkecoh dengan penampilan kakak-kakak Daud yang penuh pesona. Menurut ukuran penilaian manusia pada umumnya, kakak-kakak Daud memang berkualitas unggul dan layak dikagumi: secara fisik tegap dan sehat, berwajah rupawan, mahir dalam keterampilan militer, dan berperilaku baik. Namun, Tuhan justru menilai Daudlah yang paling unggul dan yang diperkenan oleh-Nya untuk menjadi raja atas Israel. Manusia selalu melihat tampilan luar, tetapi Tuhan melihat hati; hati Daud yang tulus itulah yang Tuhan hargai lebih daripada semua keunggulan kakak-kakaknya. Mari kita belajar menggunakan hati sebagai ukuran; menghadap Tuhan dengan ketulusan dan kerinduan hati serta memandang orang lain dari hatinya.
  2. Ukuran Tuhan adalah pengenalan, bukan pengetahuan belaka atau perbuatan yang ditunjukkan (Hos. 6:6; Mat. 7:23).Yang Tuhan pentingkan bukanlah apa yang kita tahu atau yang kita perbuat, melainkan seberapa kita mengenal Tuhan dan apa yang dikenal Tuhan pada diri kita. Pengenalan bukanlah teori pengetahuan atau praktik perbuatan yang ditunjukkan saja. Pengenalan adalah pengalaman nyata yang lahir dari hubungan yang terus-menerus secara pribadi. Setiap tahap dan titik pengenalan pasti lahir dari suatu pengalaman melalui hubungan pribadi, termasuk pengalaman yang tidak enak atau menyakitkan. Demikian pula, kadang Tuhan mengizinkan kita tidak berdaya dan seolah hilang pengharapan, demi Dia menyatakan diri-Nya kepada kita sehingga kita jadi makin mengenal-Nya.

  3. Ukuran Tuhan adalah prosesnya, bukan semata-mata hasilnya (2 Kor. 9:6).Hasil adalah tanggung jawab Tuhan, tetapi proses merupakan tanggung jawab kita. Firman mengajar bahwa Tuhanlah yang memberi tuaian (Gal. 6:8), hingga kita dapat menuai. Target merupakan arah, bukan tujuan itu sendiri, dan kita harus tetap berfokus pada proses dengan arah yang benar untuk mencapai target itu (Kol. 3:23-24). Tuhan jauh lebih mementingkan proses daripada hasil, seperti Firman-Nya juga berkata orang yang menabur sedikit (sedikit berproses) akan menuai sedikit (sedikit mendapat hasil) pula.
  4. Ukuran Tuhan ada pada kedewasaan pribadi, bukan skor menurut peraturan atau doktrin (Ibr. 6:1).Tuhan ingin kita meningkat dalam hal pengalaman dan kedewasaan pribadi. Dia rindu kita senantiasa bertobat menjadi makin baik dan makin kudus, karena Dia ingin kita menjadi makin serupa dengan diri-Nya sendiri. Tuhan tidak melihat berapa kali kita jatuh atau gagal, atau menilai kita berdasarkan skor pelanggaran kita terhadap hukum-hukum-Nya, tetapi Dia sangat ingin melihat berapa kali kita mau bertumbuh dewasa dan hidup benar. Melalui proses pertumbuhan ini, Tuhan menginginkan dan mengerjakan kedewasaan di dalam diri kita, bukan sekadar menegakkan peraturan. Tuhan menginginkan pertobatan, bukan sekedar penyesalan atau penghakiman.
  5. Ukuran Tuhan memandang jauh ke masa depan, bukan mengungkit-ungkit atau berkubang di masa lalu (2 Kor. 5:17). Saat kita lahir baru, yang lama sudah berlalu, dan sesungguhnya yang baru sudah datang bagi kita. Firman menjamin bahwa meski dosa kita merah seperti kirmizi, kita akan diputihkan kembali seperti salju dan seperti bulu domba. Yang terpenting bukanlah apa yang telah terjadi atau masa lalu kita, melainkan bagaimana respons kita dalam langkah-langkah berikutnya, yaitu masa depan kita. Tuhan tidak pernah mengungkit masa lalu kita, karena Dia memandang jauh ke masa depan kita. Dia tahu rancangan-Nya atas kita yang akan terjadi di masa depan kita, dan itulah yang menjadi ukuran-Nya.
  6. Ukuran Tuhan adalah tentang apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita ketahui (Mat. 7:21). Meski kita tahu banyak tentang kebenaran, Tuhan mengukur apa yang kita lakukan dari apa yang kita tahu itu. Makin banyak kita melakukan kebenaran yang kita tahu, makin lebat pula kehidupan kita berbuah sesuai dengan kehendak Tuhan. Hasilnya, kita pun akan makin mengenal Tuhan serta kebenaran-Nya. Seiring dengan waktu dan kesetiaan kita melakukan kebenaran, kita akan makin kaya dengan pengalaman yang luar biasa indah bersama dengan Tuhan.

Nah, siapkah Anda dan saya menggantikan ukuran kita sendiri dengan ukuran Tuhan?

2022-05-27T13:19:20+07:00