/, Bible & Science/Umur alam dan ukuran radiometrik

Umur alam dan ukuran radiometrik

Dalam edisi-edisi yang lalu kita telah mengemukakan pentingnya memahami perbedaan antara evolusi mikro dan evolusi-makro. Ingatlah bahwa evolusi mikro adalah perubahan kecil-kecilan berdasarkan kapasitas bervariasi menurut isi DNA (kode genetika) dalam sel-sel kita dan evolusi makro adalah filsafat dan teori bahwa bila ada waktu yang cukup panjang, perubahan-perubahan kecil selama milyaran tahun dapat menghasilkan jenis-jenis (genera) yang baru. Evolusi mikro sungguh nyata dan nampak di mana-mana dan sejalan dengan Alkitab, sedangkan evolusi makro tidak pernah dapat diamati dalam dunia fosil atau dunia hidup. Para ilmuwan pendukung Darwinisme biasa menggunakan fosil-fosil mikro sebagai bukti proses makro tetapi hal ini adalah penipuan besar. Para ilmuwan yang menolak Darwinisme menunjukkan bahwa ilmu genetika membuktikan kemustahilan mengkaitkan evolusi mikro dengan evolusi makro. Evolusi mikro adalah sesuai ilmu genetika dan menghasilkan perubahan-perubahan menurut kolam genetikanya (perbedaan yang kecil dalam satu jenis mahkluk hidup yang sama). Misalnya, kolam genetika anjing dapat menghasilkan banyak variasi anjing, tetapi dari awal sampai akhir anjing adalah tetap anjing! Sebaliknya, evolusi makro adalah berlawanan dengan bukti ilmu genetika dan tidak pernah diamati di alam nyata ataupun di kolom geologis dengan semua fosilnya.

Bulan ini kita akan menyelidiki sebuah masalah besar dalam cara yang paling diandalkan dunia ilmuwan untuk menafsirkan umur Bumi dan Alam Semesta yang dianggap metode yang “paling akurat” di dalam dunia akademi dan dunia ilmu pengetahuan, yaitu metode radiometrik.

Metode Radiometrik
Metode radiometrik adalah metode mengukur merosotnya bahan radioaktif yang berubah secara alamiah menjadi bahan non-radioaktif. Penghitungan umur secara radiometrik (radioactive dating) adalah teknik yang dipakai untuk mengukur umur bahan-bahan karbon dan batu-batuan. Caranya adalah untuk membandingkan cepatnya proses pemerosotan isotop radioaktif dengan bahan yang dihasilkannya.

Proses ini pertama kali dilakukan pada tahun 1907 oleh seorang ilmuwan yang bernama Bertram Boltwood dan kini merupakan cara yang paling diandalkan untuk menentukan umur absolut dari batu-batuan dan berbagai bentuk geologis bahkan sampai menentukan umur bumi. Di antara cara-cara yang paling diandalkan, ada cara penanggalan radiokarbon (radiocarbon dating – C14), penanggalan potassium-argon (potassium-argon dating) dan penanggalan uranium-timah (uranium-lead dating). Dengan menggunakan sistem kepercayaan “kolom geologis” dengan skala zaman yang ditentukan oleh faham evolusi Darwinisme sebagai dasar, kemudian cara radiometrik dipakai untuk mengkonfirmasi. Masalahnya adalah pola radiometrik disetel menurut kolom geologis dan kolom geologis disetel menurut pola radiometrik. Ini disebut “lingkaran setan”. Mengapa? Bagaimana kita tahu A adalah benar? Karena A dibuktikan oleh B. Baiklah, tetapi bagaimana kita tahu B adalah benar? Karena B dibuktikan oleh A! Lalu, bagaimana kita tahu bahwa baik A maupun B, keduanya benar? Inilah “lingkaran setan”!


Apa ada masalah dengan metode penghitungan radiometrik?

Cara penghitungan radiometrik mempunyai kecepatan menghancur yang berbeda antara satu bahan dengan bahan yang lain, sehingga sering terjadi perbedaan hasil pada bahan yang satu dengan bahan yang lain.  Apakah variasi hasil itu menimbulkan masalah? Ternyata ada banyak masalah dengan metode radiometrik sehingga hasilnya sering dipertanyakan. Namun demikian, ada kekompakan antara para ilmuwan evolusioner untuk melindungi masyarakat umum dari masalah-masalah itu. Karena mereka begitu “percaya” pola mereka, maka mereka mau melindungi masyarakat dari pengetahuan yang mungkin membingungkannya. Oleh karena itu, hasil-hasil yang diumumkan selalu dikemukakan sebagai kepastian dan “bukti”, sehingga masyarakat yang bukan ilmuwan, mudah diyakinkan tentang klaim-klaim seolah-olah semua sudah terbukti. Padahal ini adalah jauh dari benar! Dalam artikel ini, kita akan melihat bahwa yang disebut “bukti-bukti” kepastian proses-proses menghitung umur justru membuktikan bahwa prosesnya sangat kurang akurat dan justru dapat dipakai untuk mendukung umur bumi yang masih relatif muda, bukan umur bumi yang sudah sangat tua.

Pencatatan Data secara Radiometrik
Ini merupakan proses pengukuran jumlah substansi radioaktif yang telah mengalami kemerosotan selama sejumlah tahun tertentu. Oleh karena kadar substansi radioaktif mengalami kemerosotan itu dapat diketahui melalui perkiraan, maka pada prinsipnya, adalah mungkin untuk menghitung berapa lama substansi itu telah mengalami kemerosotan dalam suatu contoh tertentu. Hal inilah yang bisa dijadikan patokan umur dari contoh tersebut. Di dalam alam terdapat kurang lebih 65 isotop radioaktif, yang kurang lebih 22 di antaranya dapat digunakan sebagai tujuan pencatatan data. Di antaranya, Potasium-40 (K-40) yang mengalami kemerosotan sampai separuh nilai aslinya (half-life) dari tiap 1.28 x 109 tahun yang dapat digunakan untuk mengukur contoh-contoh yang sangat tua usianya. Di pihak lain, carnon-14 mengandung separuh usia (half-life) kurang lebih 5730 tahun, sehingga hanya cocok untuk pengukurn dan pencatatan data contoh-contoh yang relatif muda.

Bagaimana caranya mengukurnya?
Saya menyadari artikel ini bisa sulit diikuti sebagian orang, namun adalah penting kita menggalinya supaya kita menyadari kelemahan di dalam sistem radiometrik karena justru sistem itu yang dipakai untuk mengumumkan umur-umur bumi dan isinya yang sangat tua sampai milyaran tahun!

Adalah penting untuk kita berusaha memahami bagaiomana caranya ilmuwan dapat mengukur bagian substansi radioaktif yang telah mengalami kemerosotan di dalam sebuah contoh batu-batuan. Tiliklah metode potasium-40/argon-40 yang sering dipakai untuk mencatat data fosil hominid (yang serupa manusia). Misalnya, mengukur umur sebuah fosil. Memang kita harus ketahui bahwa kita tidak dapat menemukan umur fosil itu karena bahan aslinya telah mengalami pergantian bentuk selama berlangung hempasan cuaca, sehingga orang terpaksa harus mencatat data tentang sekeping batu-batuan dari lapisan sebelah atasnya.

Batu-batuan gunung berapi yang bersifat seperti kaca sering kali dipilih untuk tujuan ini oleh karena batu-batuan itu dipandang tidak dapat ditembus oleh gas dan mempunyai daya tahan yang mantap terhadap pengaruh cuaca. Asumsi pertama ialah bahwa apabila batu-batuan gunung berapi itu telah menjadi keras dan tidak lagi lumer, maka ia hanya memuat bahan radioktif K-40 dan tidak mengandung gas Ar-40, oleh karena gas Argon-40 pasti telah lolos pada waktu terjadi pembekuan batu itu. Lalu selang waktu tertentu, K-40 akan mengalami kemerosotan dan membentuk Ar-40 yang tidak lagi dapat lepas. Maka, dengan mengukur jumlah K-40 dan Ar-40, terbukalah kemungkinan untuk memperkirakan berapa lama waktunya sejak terjadi pembekuan batu-batuan itu. Tetapi, tetap ada masalah kontaminasi. Apa kita bisa pastikan semua Ar-40 telah lepas waktu awal proses pembentukan? Apakah tidak mungkin ada sebagian Ar-40 lepas sesudahnya? Atau apa tidak mungkin ada sesuatu proses atau bahan yang lain yang dapat mempengaruhi kecepatan pemerosotan bahan radioaktif (K-40) itu? Karena tidak ada saksi mata yang hadir (selain Tuhan), maka kemungkinan ada kesalahan dalam penghitungan data yang memberi umur yang sangat tua sedangkan sesungguhnya umurnya hanya sangat muda sekali.

Perhatikan sejumlah kekeliruan yang bisa saja terjadi:
–  Jumlah kelimpahan K-40 di dalam lapisan kulit Bumi hanyalah 4 bagian setiap jutanya. Bahan radioktifnya akan sulit diukur karena bahan tersebut sudah mengalami kemerosotan pada jumlah kadar yang sangat rendah.
– Setiap ada lepasnya K-40 dari bahan asli atau ke dalam bahan asli dari batu-batuan sekitarnya akan sangat mempengaruhi ketepatan penghitungan perkiraan umur.
– Dari setiap sembilan atom dari K-40 yang mengalami kemerosotan hanya ada satu atom Ar-40 yang terbentuk, maka jumlah argon yang harus dijajaki secara kimiawi akan sangat kecil jumlahnya.
– Ar-40 lazimnya terdapat secara alamiah di udara di mana jumlahnya 1% (33 kali lebih tinggi dari jumlah konsentrasi karbon dioksida yang terdapat di udara).
– Apabila sejumlah kecil argon dari udara bocor masuk ke dalam batu-batuan maka umur batu-batuan itu akan menghasilkan perkiraan umur terlalu tinggi.

Masalah kontaminasi data itu merupakan gejala universal bagi semua teknik dan metode pencatatan data radiometrik. Mari kita melihat contoh nyata dalam penghitungan batu-batuan di mana Dr. Richard Leakey di Afrika menemukan fosil hominid (yang serupa manusia). Kita ambil 1 kg batu-batuan yang mengandung 0.004 gram K-40. Dalam 3 juta tahun yang adalah umur perkiraan fosil tersebut, hanya 1/9 yang beralih menjadi Ar-40. Padahal, jumlah argon yang mestinya terkumpul dalam masa 3 juta tahun dalam 1 kg batu-batuan adalah:
0,004 x 0.00016 x 1/9 = 0.0000007 gram

Oleh karena itu, sudahlah jelas bahwa jika perpindahan argon dari udara ke dalam fosil itu akan menyebabkan perkiraan umur batu-batuan dan fosil itu, yang sesungguhnya hanya beberapa ribu tahun saja menjadi berjuta-jutaan tahun umurnya. Hal-hal seperti ini sering sekali terjadi sehingga adalah mustahil untuk memastikan tidak terjadinya kontaminasi.

Pencatatan data tentang kerangka manusia yang ditemukan dalam sebuah gua kuburan, dengan tulang-tulang yang belum mengalami mineralisasi, akan menghasilkan ketidakcocokan umur yang diukur dengan umur yang sesungguhnya. Perhatikan bebarapa contoh berikut:

– Kerangka manusia yang ditemukan di Sunnyvale, California, diperkirakan berusia 70.000 tahun berdasarkan teknik aspartic acid racemization (Lihat di World Archeology, jilid 7, 1975, hal.160). Pada tahun 1981, umurnya ditinjau kembali dengan metode uranium-lead yang menghasilkan umur hanya 8300-9000 tahun (Lihat di Science, jilid 213, 28 Agustus 1981, hal.1003). Kemudian pada tahun 1983 lagi ditinjau kembali ketika metode carbon-14 memeriksa empat kerangka lain dari lapisan batu yang sama yang menghasilkan umur 3500-5000 tahun saja (Lihat Science, jilid 220, 17 Juni 1983, hal.1271).

– Batu-batuan yang terbentuk dalam letusan gunung berapi dan meluappnya lahar pada tahun 1801 di Hawaii hanya berumur 213 tahun, padahal pengukuran radiometrik menghasilkan umur antara 160 juta tahun sampai 3 milyar tahun. (Baca Science, jilid 162, hal.265; Journal of Geophysical Research, jilid 73, hal.4601; American Journal of Science, jilid 262, hal.154).

Sayang sekali, terlalu sering kita menemukan hasil janggal seperti ini. Namun, karena “iman” para ilmuwan pada paham Darwinisme, maka mereka lebih bersedia percaya pada data yang cacat daripada kesaksian saksi mata, Sang Pencipta, yang menyatakan bahwa semuanya muda. Ternyata perkiraan umur secara radiometrik sangat tidak dapat diandalkan, namun, metode ini masih dipakai dan masih diandalkan oleh ilmuwan pengikut Darwinisme.

Bagaimana dengan metode Radiocarbon C-14 / C-12?
Metode Carbon-14 sering dianggap metode paling akurat dalam penentuan umur fosil namun metode ini sangat peka terhadap pengaruh kontaminasi. Oleh karenanya hasilnya sering keliru. Misalnya, bahan kayu yang ditanam di dalam tanah yang mengandung zat-zat dari akar-akar lain atau yang mengandung mikro-organisme, dapat mengurangi jumlah umur dalam perhitungan. Atau jika radiasi kosmik, pengaruh yang menentukan kadar C-14 di udara, dan ratio C-14/C-=12 di udara ternyata tidak memperlihatkan keadaan yang konstan, maka usia bahan yang diukur dapat diperkirakan dengan umur secara berlebihan atau sebaliknya dapat diukur terlalu muda. Oleh karena itu, besar kemungkinan para ahli ilmu pengetahuan hanya akan memilih data dengan ukuran yang cocok dengan praduga awal mereka sehingga mereka menolak data yang menyimpang dari hasil yang mereka cari.

Berdasarkan alasan ini maka metode C-14 sangat tidak dapat diandalkan kalau melampaui 3000 tahun. Penelitian yang dilakukan Dr. W.F. Libby (Radio Carbon Dating), Dr. R.E.Lingenfelter (Reviews of Geophysics, jilid 1), Dr. H.E. Seuss (Journal of Geophysical Research, jilid 70), Dr. V.R. Switzur (Science, jilid 157) dan Dr. Melvin Cook (Creation Research Society Quarterly, jilid 5) telah berhasil memperagakan bahwa ratio C-14/C-12 tidak mencapai keadaan yang mantap dan pada hakekatnya masih terus mengalami pertambahan, sehingga dianggap kurang cocok untuk dapat diandalkan dalam perhitungan umur lebih dari 3000 tahun. Penelitian mereka juga menunjukkan bahwa dengan membuat perhitungan penelusuran kembali kepada saat kadar logam berada pada tingkat nol menyatakan bahwa umur bumi hanya sekitar 10.000 tahun dan tidak mungkin lebih dari 30.000 tahun.

Apa artinya?
Jangan kita tertipu dengan ucapan-ucapan seperti “menurut para ilmuwan, …”  Hal itu tidak terbukti. Banyak ilmuwan mempunyai tujuan khusus, justru karena tidak percaya adanya Tuhan. Kita harus belajar menggali dan memahami metode-metode dan praduga-praduga yang dipakainya. Apa sesungguhnya terbukti atau hanya merupakan teori atau hanya dugaan saja?
Kesimpulan yang kami kemukakan kepada para pembaca adalah bahwa yang disebut “bukti” seringkali bukanlah bukti, melainkan dugaan yang sesuai dengan keyakinan. Sesungguhnya, bukti-bukti yang sesungguhnya, lebih banyak mendukung bahwa umur bumi masih relatif muda dan bukan tua, dan bahwa manusia adalah ciptaan khusus Tuhan dan bahwa kita tetap bertanggungjawab kepada Tuhan.

2019-10-11T12:57:07+00:00