//Waktunya Upgrade!

Waktunya Upgrade!

Kudengar, belum lama ini Bu Vero mendapat smartphone baru dari anaknya. Ponsel pintar. Menurut anak Bu Vero, ponsel lamanya sudah “tidak kuat”, jadi perlu diganti dengan yang baru. Bu Vero tidak paham perbedaannya tepatnya apa, tetapi beliau memang sudah sering kesal dengan ponsel lamanya, yang sering tiba-tiba diam alias gagal berfungsi dan baterainya sudah “bocor”. Itulah sebabnya, dengan senang hati Bu Vero menerima hadiah smartphone tersebut, yang pengaturannya sudah disesuaikan dengan pemakaian lansia.

Berbagai aplikasi yang digunakan di ponsel lama diunduhkan dan dipasang di ponsel baru, demikian pula data dari ponsel lama kini dipulihkan di ponsel baru. Asyiknya, karena ponsel yang sekarang lebih up-to-date, Bu Vero jadi bisa melakukan panggilan video dengan anak-anak dan cucu-cucunya, meskipun tidak bertemu langsung. Apalagi di masa pandemi seperti ini, mengobrol lewat video cukup mengobati rasa kangennya kepada keluarga.

Ternyata, kebahagiaan Bu Vero tidak sampai di situ saja. Smartphone baru membawanya masuk ke dunia yang baru, terutama sejak anaknya memperkenalkannya dengan kegiatan unduh-mengunduh aplikasi. Mau menonton film, unduh saja aplikasi streaming. Mau mencari resep masakan, unduh saja aplikasi berbagi video dan aplikasi resep masakan. Mau mendengarkan musik, unduh saja aplikasi pemutar musik daring. Tidak lupa, kegiatan bersaat teduh sehari-hari juga sangat terbantu oleh aplikasi Alkitab, yang menyediakan Firman Tuhan dalam berbagai bahasa dan berbagai versi terjemahan. Bu Vero girang sekali! Maklum, ponsel lamanya tidak memiliki kapasitas untuk semua fitur ini…

Akibat upgrade besar-besaran ini, sekarang Bu Vero memiliki kebiasaan baru. Setiap pagi dia membaca dan menerenungkan Firman Tuhan di aplikasi Alkitab, lalu mencatat perenungannya di aplikasi catatan, dua-duanya di ponsel saja. Dulu, matanya sering lamur karena membaca Alkitab fisik yang hurufnya kecil-kecil lalu mencatatnya di buku. Setiap awal bulan, Bu Vero kini membuka aplikasi marketplace untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, sebagai ganti kebiasaan pergi ke pasar swalayan untuk berbelanja bulanan. Selain itu, kadang Bu Vero teringat jajanan atau kudapan yang sudah lama tidak dia nikmati, lalu alih-alih membolak-balik buku resep, dia membuka ponsel dan mencari resepnya. Dengan tekun, setiap hari Bu Vero mempelajari berbagai aplikasi dan fitur di ponsel barunya yang pintar itu, sehingga kebiasaan-kebiasaan barunya terbentuk. Memang prosesnya cukup lama, mengingat ada banyak sekali kebiasaan lama selama puluhan tahun sebelumnya, yang harus diganti demi mengejar ketertinggalan dengan masa kini. Kubayangkan, yang jelas, sekarang Bu Vero sangat menikmati kehidupannya, yang makin menyenangkan dan ringan dengan bantuan ponsel pintar.

——————————————–

Kita memang mungkin tidak punya pengalaman yang sama dengan kisah Bu Vero, karena bagi kita yang masih muda, hal-hal di atas sudah jadi bagian dari hidup dari kita sehari-hari. Namun, sebenarnya kehidupan rohani kitalah yang perlu belajar dari kisah ini. Ya, kehidupan rohanimu dan kehidupan rohaniku sendiri.

Waktu kita lahir baru dan memutuskan untuk mengikut Yesus, kita seperti Bu Vero yang baru saja meng-upgrade ponsel, dari ponsel lama ke ponsel baru yang pintar. Manusia lama sudah berlalu, yang sering kali gagal berfungsi dan kesulitan untuk memahami arah yang benar, diganti menjadi manusia baru, yang punya akses bebas dan langsung untuk berkoneksi dengan Allah. Baterai yang cepat habis karena bocor diganti dengan baterai baru yang berkapasitas besar, sehingga energi kehidupan pun berbeda: berlari tidak menjadi lesu dan berjalan tidak menjadi lemah. Peringatan seperti di ponsel lama, “Ruang penyimpanan hampir habis. Apakah Anda yakin untuk melanjutkan?” tidak lagi muncul dalam hati saat kita kelelahan menghadapi pergumulan hidup, karena ada kapasitas surgawi dan kasih karunia Tuhan yang selalu cukup untuk kita menanggung segala sesuatu. Bahkan, serupa tetapi lebih dari yang disediakan aplikasi marketplace, kita sekarang punya akses langsung ke persediaan Allah bagi kita, yang segala sesuatunya telah dipersiapkan menurut rencana-Nya yang sempurna bagi kita, bahkan sejak sebelum kita tahu bahwa kita membutuhkannya.

Perbedaannya tentu jelas, kita bukanlah ponsel. Ponsel, meskipun pintar, tidak bisa menolak atau memilih aplikasi apa yang mau diunduh dan dipasang pada dirinya. Apa pun yang dilakukan oleh sang pengguna kepadanya, dia tidak akan protes. Dia tidak punya kehendak sendiri dan tidak bisa menikmati hasil pengaturan dari penggunanya, karena dia hanyalah sebuah benda. Berbeda halnya dengan kita. Allah tidak menciptakan, menyelamatkan, dan memperbarui kita hanya untuk jadi benda yang tidak punya kehendak. Allah tidak berniat untuk memperalat kita hanya untuk memuaskan keinginan-Nya. Kita, anak-anak-Nya, hidup disertai pilihan yang bisa kita ambil dan alami hasilnya dan konsekuensinya. Allah sendiri telah menyiapkan dan merancang segala hal yang terbaik yang bisa terjadi dalam hidup kita, tetapi Dia menyediakan kemerdekaan bagi kita untuk mengambil pilihan demi pilihan hidup. Dia menyediakan penyertaan, penghiburan, perlindungan, jaminan masa depan, kekuatan, pengharapan, bahkan diri-Nya sendiri, Roh Kudus-nya, untuk tinggal dan hidup di dalam kita. Bagaimana caranya kita dapat mengakses semua ini? Tak lain dan tak bukan, hanya ketika kita setuju untuk memberikan hidup kita dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, – dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” – 1 Korintus 6:19-20

Menyerahkan diri kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus berarti bukan lagi kita yang memegang kendali atas hidup kita. Respons dan kapasitas kita bukan lagi kita yang menentukan, melainkan Kristus yang tinggal di dalam kita. Akibatnya, seluruh hidup kita berubah—yang tadinya kita dikuasai emosi, pengaturan otomatis oleh emosi ini dinonaktifkan karena ada damai sejahtera yang sekarang aktif mengendalikan; kalau dulu kita rajin bersungut-sungut setiap mengalami hal yang tidak menyenangkan, kini makin mudah keluar puji-pujian dan ucapan syukur dari hati kita; kebiasaan lama yang merusak tetapi sulit dihilangkan, sekarang dapat kita kuasai dan kita ganti dengan kebiasaan baru yang membangun dan berasal dari kebenaran.

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” – Roma 12:1-2

Masalahnya, menyerahkan hidup kita pada kepemimpinan Roh Kudus memang tidak semudah berganti ponsel. Kita cenderung melanjutkan kebiasaan dan respons lama, yang berakar dalam dari trauma dan masa lalu yang penuh luka serta kesalahan. Kita membawa kehendak pribadi dan hawa nafsu yang sudah begitu lama memerintah hidup kita. Kita terlalu lama juga percaya pada tipuan Iblis yang kita terima sebagai kebenaran. Kini, semua ini harus kita serahkan kepada Allah, kita tundukkan di bawah kaki Kristus, supaya hanya Kebenaran sejatilah yang memerdekakan kita. Proses pemindahan kekuasaan dari diri sendiri ke Kristus akan terasa menyakitkan bagi daging kita, tetapi sangat menyegarkan bagi roh kita. Roma 12 menjelaskan bahwa penyerahan ini adalah persembahan, bukan untuk melukai dan melemahkan kita, melainkan untuk memulihkan dan memperbarui kita. Proses ini memerlukan ketekunan dan konsistensi, tetapi makin sering dan makin terbiasa kita mempersembahkan hidup kita, makin besar pula ruang kehendak Allah untuk terjadi atas dalam hidup kita. Bayangkan, kita akan merdeka! Kita tidak lagi harus berjibaku dengan intimidasi dan dosa, karena Iblis tidak lagi berkuasa atas kita; kita tidak perlu lagi ketakutan berusaha menjamin berbagai macam strategi untuk masa depan, karena Tuhan kini memegang masa depan kita; dan yang terpenting adalah, saat seluruh kendali hidup kita ada di tangan-Nya, kita dapat berfokus menikmati kasih-Nya yang berlimpah-limpah setiap hari.

Sahabat, mempersembahkan tubuh, jiwa, dan roh kita supaya Roh Kudus memimpin semuanya adalah sebuah kebutuhan bagi kita yang hidup di dunia ini. Roh Kudus jauh lebih sanggup dan lebih sempurna mengendalikan hidup kita, daripada kita sendiri. Kita perlu untuk selalu bertekun menyadari hadirat Tuhan dan menyatakan kedaulatan-Nya setiap saat atas diri kita, supaya bukan lagi kita yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Maukah kamu melakukannya bersamaku? Maukah kita bersama-sama hidup maksimal dan dipimpin oleh Roh Kudus?

2021-10-06T14:48:51+07:00