///Wanita & Penginjilan

Wanita & Penginjilan

Namun, pengaruh sosial dan budaya mengaburkan kebenaran Firman Tuhan ini. Sering kali, fungsi penolong diartikan sebagai “pekerjaan” seorang pembantu, sehingga muncullah beragam gerakan-gerakan yang mengatasnamakan persamaan derajat antargender.

Allah sendiri tidak pernah mengatakan bahwa wanita lebih rendah dibandingkan pria. Alkitab dalam Perjanjian Lama mencatat bagaimana Allah menjunjung peranan wanita sebagai penolong. Seorang wanita diberi hak untuk memberikan nama kepada anak-anak dan mengajar mereka (Kej. 29:31-35; 1 Sam. 1:20); wanita diberi kesempatan untuk memimpin sebagai hakim (Hak. 4:4); Tuhan memakai seorang wanita yang berprofesi sebagai ratu untuk menyelamatkan nasib satu bangsa (Est. 4:13-14). Selanjutnya, dalam Perjanjian Baru pun kita dapat melihat bagaimana Yesus sendiri memperlakukan wanita. Yesus mengizinkan kaum wanita mengikuti-Nya dan melayani-Nya , "Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana, dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka” (Luk. 8:1-3); menjelang kematian Tuhan Yesus di kayu salib, para wanita tetap mengiring Dia, "Ada juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome. Mereka semuanya telah mengikut Yesus dan melayani-Nya waktu Ia di Galilea. Dan ada juga di situ banyak perempuan lain yang telah datang ke Yerusalem bersama-sama dengan Yesus" (Mrk. 15:40-41); bahkan berita kebangkitan Kristus pertama kali disampaikan kepada para wanita (Mrk. 16:1). Di balik rentetan kisah yang indah ini, jelas terlihat bahwa Allah mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh wanita dalam menyebarkan kabar Injil keselamatan.

Tugas penginjilan diberikan Allah kepada setiap orang percaya, pria maupun wanita. Penginjilan merupakan suatu perintah yang disertai dengan kuasa dan tanda-tanda ajaib dari Tuhan (Mrk. 16:15-18, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh"). Alkitab mencatat peranan besar wanita dalam melakukan penginjilan, di antaranya Lidia. Ia berasal dari Filipi (Kis. 16:13-40); ia pengikut Kristus yang pertama dari Eropa, dari latar belakang bukan Kristen; setelah ia dibaptis, ia membuka rumahnya bagi Tuhan, dan dari rumah Lidia inilah terbentuknya jemaat Filipi. Tokoh wanita selanjutnya adalah Priskila (Kis. 18). Bersama dengan Akwila suaminya, Priskila mempertaruhkan nyawa mereka bagi penginjilan (Roma 16:4). Selanjutnya, kita pun tahu kisah Febe yang melayani di jemaat Krengkea sebagai pengantar surat Paulus kepada jemaat di Roma dari Korintus (Roma 16:1-2).

Melalui kisah tokoh-tokoh wanita di atas kita dapat melihat bahwa peranan khusus wanita dalam penginjilan sangat penting. Apa pun profesi yang sedang kita jalani saat ini dapat menjadikan kita sebagai pembawa kabar Injil yang efektif. Sebagai seorang ibu rumah tangga, kita dapat mengabarkan Injil keselamatan kepada suami maupun anak-anak kita serta lingkungan keluarga kita melalui apa yang kita lakukan sehari-hari. Sebagai seorang wanita bekerja, profesi kita adalah ladang penginjilan sehingga orang-orang yang ada di sekitar kita dapat memiliki kerinduan untuk mengenal Kristus yang terpancar melalui kepribadian kita sebagai wanitanya Allah. Sebagai wanita lajang, hidup kita harus menunjukkan berita Injil itu kepada lingkungan pergaulan dan komunitas kita. Mari, kita terus terlibat dan berkarya dalam ladang penginjilan tanpa berhenti, apa pun fase hidup dan status kita sebagai wanita, sampai kita pulang ke rumah Bapa kelak.

Pertanyaan refleksi:
1. Apakah yang selama ini membuat Anda sulit melakukan penginjilan?
2. Sudahkah Anda menjadikan profesi Anda sebagai ladang penginjilan?
3. Langkah apakah yang akan Anda ambil untuk mulai melakukan penginjilan?

 

 

 

2019-10-11T12:29:02+07:00