///Wanita & warisan imannya

Wanita & warisan imannya

 

Keteladanan ibu memang sangat dekat dengan kehidupan seorang anak. Satu keteladanan ibu lebih berdampak dibandingkan seribu kata-kata yang dilontarkannya. Itu sebabnya, ibu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan anak, entah itu berupa keteladanan yang negatif maupun positif. Nah, keteladanan apakah yang ingin Anda tinggalkan? Mari kita belajar dari kehidupan seorang janda dan kedua anaknya di 2 Raja-Raja 4:1-7.

Suatu hari isteri seorang nabi datang menghampiri Elisa. Ia menyampaikan keluhannya, “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan Tuhan. Tetapi sekarang, penagih utang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” Seperti kita ketahui bersama, penghasilan seorang nabi didapat dari persembahan tiap-tiap suku Israel (Ul. 18:1-8), mereka tak memiliki warisan pusaka di tanah Israel karena Tuhan sendirilah yang menjadi milik pusaka mereka. Status wanita ini sebagai janda dengan dua orang anak tanpa peninggalan harta bukanlah perkara yang mudah, apalagi ia juga harus menghadapi para penagih utang.

Sebagai isteri dari seorang nabi, ia tahu ke mana harus pergi untuk mendapatkan pertolongan. Perkara mujizat bisa jadi sudah menjadi makanannya sehari-hari. Itu sebabnya, kala itu ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju Elisa. Elisa pun menjawabnya, “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kau punya di rumah.” Berkatalah wanita itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apa pun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” Sadarkah Anda bahwa Tuhan sering kali menjawab pergumulan kita melalui sumber-sumber daya yang kita miliki? Sekalipun itu terlihat kecil di mata kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Ada banyak cerita dalam Alkitab yang menggambarkan hal ini: tongkat di tangan Musa, umban Daud yang mengalahkan Goliat, hingga lima roti dan dua ikan milik seorang anak kecil yang memberi makan 5.000 orang, dsb.

Selanjutnya, Elisa memberikan perintah agar janda itu mengumpulkan bejana-bejana sebanyak mungkin yang ia mampu. “Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” Dan, janda itu taat melakukan apa yang diperintahkan Elisa. Ia beserta anak-anaknya mengumpulkan bejana-bejana sebanyak mungkin dari para tetangganya, membawanya masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan menuangkan minyak dalam buli-buli itu ke dalam bejana-bejana penampungan. Satu per satu bejana itu mulai penuh terisi, lalu mujizat pun terjadi hingga bejana terakhir terisi penuh dan lunaslah utang-utangnya, bahkan ia dapat hidup dari lebihnya.

Catatan penting yang patut kita cermati secara saksama adalah bahwa wanita ini senantiasa melibatkan anak-anaknya. Tentu, setiap tindakan yang diambilnya dalam menghadapi persoalan menjadi teladan iman bagi kedua anaknya, mulai dari keputusannya untuk melangkah mencari pertolongan kepada orang yang tepat, hingga langkah imannya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin bejana. Peristiwa mujizat ketika minyak dalam buli-buli itu dituang ke dalam masing-masing bejana sudah pasti terjadi di depan mata anak-anaknya. Janda ini mempertontonkan kuasa Tuhan secara langsung di hadapan mata kedua anaknya. Sekalipun kesulitan menghadang, ia tak ragu mengajak anak-anaknya untuk tetap memercayai Allah. Sehingga, meski Allah tak terlihat, kehadiranNya sangat nyata dalam kehidupan mereka.

Memercayai Tuhan yang tak terlihat namun nyata dalam kehidupan ini membutuhkan iman, seperti yang tercatat dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Oleh sebab itu, warisan terbesar yang dapat diberikan seorang ibu kepada anaknya adalah imannya. Ini berlaku pada anak jasmani maupun anak rohani. Kita bisa saja menyediakan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan (termasuk kebutuhan rohani) anak, tetapi tanpa keteladanan iman kita sendiri, iman seorang anak tidak akan bertumbuh. Jangan menyerah akan pergumulan/kesulitan yang sedang Anda hadapi hari ini. Teruslah berpegang pada iman akan janji-janji Tuhan sampai setiap janji itu digenapi. Apa yang Anda alami hari ini akan menjadi warisan iman yang tak terlupakan bagi anak-anak Anda kelak.

 

Refleksi:

1. Bagaimana Anda selama ini melibatkan Tuhan dalam kehidupan Anda sehari-hari?

2. Apakah yang Anda suguhkan dalam kehidupan anak Anda? Kuasa Tuhan ataukah kekuatan pribadi yang dilihatnya dari hidup Anda?

3. Ambillah komitmen di awal tahun ini untuk mempertontonkan semaksimal mungkin kuasa Tuhan dalam kehidupan anak-anak Anda.

2019-10-11T12:37:55+07:00