///Wanita dalam situasi kritis

Wanita dalam situasi kritis

Sejak hari itu, hidup kami tak sama lagi. Aku harus mengambil pekerjaan lebih untuk menutupi hutang-hutang kami. Selain bekerja, aku juga harus tetap berfokus mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Beban ini terlalu berat, tak sanggup lagi rasanya kutanggung. Semangatku dari hari ke hari semakin berkurang, keceriaan di rumah ini pun semakin pudar. Tanpa sadar, tuntutan demi tuntutan hadir dalam pernikahan kami sehingga berujung pada konflik yang tak ada habisnya.

Sebagai wanita, kita sering kali harus siap dan mampu menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi secara tiba-tiba. Itu sebabnya, wanita selalu punya beragam jurus untuk menghadapi situasi-situasi berat yang dialami. Namun, pada titik tertentu wanita pun bisa terpukul kalah dan kehilangan kontrol akan situasi. Pada saat seperti itulah kita membutuhkan jeda, yaitu kesenyapan atau perhentian sejenak.

Mengapa jeda diperlukan? Mengapa kita harus berhenti sejenak? Terkadang suara-suara bising di pikiran kita dapat membuat kita mengambil keputusan atau bertindak secara emosional. Jeda menolong kita mengambil keputusan atau bertindak dengan benar dan tenang, sehingga kita lebih mampu mengikuti kehendak Allah. Pemazmur Daud sering kali menulis kata ‘sela’ di dalam tulisannya. Sela juga memiliki makna yang sama, yaitu berhenti sejenak. Mari kita belajar dari Daud untuk mengambil jeda.

Sela menolong untuk kita dapat berhenti sejenak dan merenungkan kembali segala hal atau situasi yang telah terjadi dan setiap keputusan atau tindakan yang telah kita ambil. Mazmur 3:9, misalnya, jelas menunjukkan hal ini, “Dari Tuhan datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu. Sela.” Kita perlu berhenti sejenak untuk dapat mengerti dan merenungkan ayat ini dalam seluruh konteksnya. Mungkin saja kekhawatiran dan rasa takut merupakan respons pertama yang muncul dari diri kita ketika situasi yang tidak kita inginkan terjadi, meskipun kita berusaha berdoa atau mengucapkan kebenaran Firman; tetapi sela ini menolong kita untuk memahami segala yang telah terjadi dan menghayati keputusan kita untuk berkata dan bertindak benar.

Fungsi jeda atau sela adalah agar kita dapat melakukan dialog secara pribadi dengan Tuhan. Dalam ritme kehidupan yang begitu cepat dan semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak dan berkaca pada Firman Tuhan, merefleksikan kembali apakah ada hal-hal di dalam kehidupan kita yang perlu diatur ulang agar selaras dengan kehendak Allah, atau apakah ada hal-hal pada diri kita yang masih perlu diperbaiki/dilatih/dikembangkan. Allah pun ingin kita kadang berdiam diri saja di hadapan-Nya, sehingga kita memberi waktu dan ruang bagi Dia untuk berbicara dengan leluasa pada kita. Firman Tuhan pun berkata, “Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanMu,” (Yes. 30:15b). Mari kita praktikkan dan kita alami bersama.

Pertanyaan Refleksi:
1. Sudahkah Anda mengambil waktu jeda sejenak di tengah-tengah kesibukan Anda hari ini?
2. Perkataan Tuhan apakah yang berbicara sangat kuat di hati Anda tentang jeda?
3. Sudah Anda mengucap syukur atas situasi yang terjadi dan kedaulatan Tuhan di dalamnya?

2019-10-12T10:20:11+07:00