Pada masa kini, kita banyak mendengar tentang emansipasi wanita, pemberdayaan wanita, dan kisah tentang berbagai peran serta dampak wanita dalam kehidupan bermasyarakat. Mungkin, kita sendiri juga wanita yang selama ini terbiasa berperan aktif melalui pekerjaan, jabatan, serta pelayanan dalam komunitas. Bagi kita, mungkin sulit diterima bahwa wanita, oleh sebagian kalangan, dianggap “kelas dua” atau keberadaannya hanya berfungsi untuk mendukung pria. Lalu, bagaimana sebenarnya Alkitab memandang wanita?
Sejak awal, Allah sesungguhnya menciptakan wanita sebagai penolong; tetapi penolong yang sepadan bagi pria (Kej. 2:20). Artinya, memang Allah memaksudkan wanita untuk memiliki kekuatan luar biasa dengan kodrat untuk menolong, sekaligus untuk berdiri dan berperan pada level yang setara atau sepadan dengan pria. Wanita dan pria memang berbeda, tidak mungkin disamakan, tetapi masing-masing memiliki fungsinya yang unik. Maksud Allah ini tidak berubah, meskipun peran dan kedudukan wanita berubah-ubah dari masa ke masa.
Dalam Perjanjian Lama, peran seorang wanita cenderung dibatasi dan dianggap kecil oleh lingkungan mereka, mungkin karena fungsi penolong itu dipandang sebagai level yang lebih rendah daripada pria, yang ditolong. Bahkan, kita dapat membaca bahwa dalam tradisi-tradisi Yahudi wanita biasanya tidak diberi kesempatan untuk menyuarakan pendapat mereka. Namun, dalam Perjanjian Baru Yesus Kristus justru mengembalikan wanita ke fungsinya yang semula menurut maksud Allah, yaitu sebagai penolong yang sepadan dengan pria. Penerapan peran wanita pun menjadi lebih luas ruang lingkupnya, seperti yang tercatat dalam berbagai kisah Alkitab Perjanjian Baru:
Dorkas, dalam Kisah Para Rasul 9:36-42, disebut sebagai “seorang murid [Kristus] perempuan”, yang bernama Tabita, yang dalam bahasa Yunani Dorkas. Dikatakan pula, “Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.” Apa tepatnya yang Dorkas lakukan? Dia memberi lewat apa yang bisa lakukan, yaitu menjahit pakaian bagi para janda di kota itu. Perbuatannya itu menjangkau dan membawa pengaruh yang luar biasa kepada lingkungannya, sehingga ketika Dorkas sakit lalu meninggal, para janda itu menangisinya karena mengenang segala pertolongannya itu kepada mereka (Kis. 9:39). Dari peran Dorkas itu, Tuhan mengizinkan Dorkas berdampak pemulihan besar bagi kota Yope. Dorkas dibangkitkan dari kematian melalui pelayanan Petrus, lalu kebangkitan itu menjadi kesaksian yang membuat seisi kota Yope percaya kepada Tuhan (Kis. 9:40-42). Semua itu terjadi karena Firman Tuhan sendiri berkata Dorkas menjaga kualitas dirinya sebagai seorang murid Kristus. Dorkas menjaga perbuatan dan tindakannya selaras dengan ajaran Kristus yang didengarnya melalui para rasul, sehingga terpancar dalam tindakannya sehari-hari. Dorkas bisa menjadi penolong yang memberkati sekitarnya, dihormati karena dampak baik perbuatannya, dan kematian serta kebangkitannya membawa pengaruh Injil yang besar bagi kotanya waktu itu.
Lidia, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 16:14-15, juga seorang wanita yang patut kita amati teladan hidupnya. Dia penjual kain ungu dari kota Tiatira yang menerima Yesus dan yang dengan sangat meminta kepada Paulus dan Silas untuk tinggal di rumahnya di kota Filipi; permintaan yang menunjukkan pertobatan pribadinya. Paulus dan Silas pun pergi ke rumah Lidia saat mereka keluar dari penjara di Filipi (Kis. 16:40), lalu Lidia bahkan membuka rumahnya menjadi tempat pertemuan para pengikut Kristus. Lidia yang seorang saudagar wanita kaya, pedagang kain ungu yang langka dan mahal dan biasa berinteraksi dengan para pembesar yang menjadi langganannya, justru rendah hati membuka rumahnya, setia belajar Firman Tuhan dan bersekutu dengan murid-murid Kristus lainnya. Lidia menjadi penolong sepadan bagi para murid Kristus, banyak di antara mereka pria, dengan menyediakan rumahnya menjadi tempat ibadah, persekutuan, dan pendidikan serta pelatihan kehidupan Kristen.
Berikutnya, Priskila istri Akwila, juga wanita yang perannya sangat berdampak sesuai maksud penciptaan Allah. Dalam kehidupan sebagai keluarga dan pelayanan yang mereka kerjakan bersama, peran Priskila sebagai seorang istri bagi Akwila tidak bisa disepelekan. Priskila bukan hanya menjadi penolong dalam rumah tangganya, melainkan juga dalam pelayanan yang Tuhan percayakan bagi mereka. Peran suami-istri ini memberikan pengaruh yang besar dalam perkembangan Injil era itu. Mereka mempertaruhkan nyawa (Roma 16:4-5), menjadikan rumah mereka sebagai tempat tinggal bagi jemaat yang bukan Yahudi. Akwila banyak mengajar dan berdiskusi, dan Priskila banyak melayani juga dalam hal-hal praktis. Bahkan, di lain kesempatan pelayanan mereka pun berdampak kepada Apolos, yang di kemudian hari menjadi rekan pelayanan Paulus dalam memimpin dan mengajar jemaat dalam kebenaran. Mereka membimbing Apolos untuk memahami jalan keselamatan dalam Kristus Yesus.
Dari pengamatan kita kali ini, kita dapat melihat betapa besar peran wanita dalam pelayanan Injil Kristus. Wanita dengan kodratnya sebagai penolong yang sepadan dengan pria dalam kerangka maksud Allah berperan penting sebagai saksi Kristus sesuai konteksnya masing-masing, termasuk dalam segala kesederhanaan dan keseharian mereka. Apa saja peran penting yang dapat kita lakukan sebagai wanita?
Menjadi saksi Kristus
1 Petrus 3:1 berkata, “Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya.”
Firman Tuhan mengajarkan kepada para istri untuk menjadi saksi Kristus lewat perbuatan kita sehari-hari. Apa yang kita bawa di tengah-tengah keluarga akan membawa dampak bagi suami maupun anak-anak kita untuk mereka mengenal Kristus secara pribadi.
Menjadi pendoa
Doa dan penginjilan tidak dapat dipisahkan dari misi Allah. Doa dapat menjadi langkah awal terbukanya gerbang penginjilan. Tidak dapat dipungkiri, sebagian besar pelayanan doa melibatkan para wanita, yang tekun mendukung seluruh proses penginjilan. Melalui doa, termasuk nubuat, wanita menjadi penolong yang sepadan bagi para pelayan Injil dengan nilai peran yang amat penting.
Kisah Para Rasul 2:17-18 mengutip nubuat penting terkait hal tersebut, “Akan terjadi pada hari-hari terakhir—demikianlah Firman Allah—bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan pemuda-pemudimu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.”
Menjadi teladan dan pengajar
Titus 2:3-5 menasihatkan, “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang yang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, melainkan menjadi pengajar hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.”
Mengajar merupakan salah satu karunia Roh Kudus yang berguna untuk untuk memperlengkapi, membina, serta mendewasakan orang-orang percaya. Dan, untuk dapat efektif mengajar, tentu sang pengajar perlu memberi teladan dahulu dalam hal apa yang diajarkannya. Sebagai wanita Allah, kita harus hidup memberi teladan dan mengajar melalui keteladanan hidup kita itu kepada wanita-wanita lainnya yang memiliki kerinduan untuk bertumbuh di dalam pengenalan akan Kristus. Kita dapat mengajarkan kepada mereka cara mempraktikkan kebenaran Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari, sehingga Firman Tuhan itu menjadi sangat nyata dalam kehidupan.
Nah, bagaimana dengan kita masing-masing? Siapkah kita, para wanita Allah di era ini, mengambil peran dalam fungsi penolong bagi pelayanan Injil Kristus?
Renungan pribadi:
- Sudahkah Anda memandang diri Anda sebagai wanita sebagai penolong yang sepadan bagi sekitar Anda?
- Sudahkah Anda menggunakan kekuatan/panggilan Anda sebagai penolong untuk memberitakan Injil Kristus?
- Mulailah berperan aktif sebagai penolong dan saksi Kristus dari hal-hal sederhana dan dari lingkup bersama orang-orang terdekat dahulu.