///Wanita yang Hidupnya Berbuah

Wanita yang Hidupnya Berbuah

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” – Yohanes 15:16

Di awal tahun ini, ayat ini mengingatkan saya akan panggilan Allah dalam hidup ini. Sungguh, kasih karunia keselamatan yang telah saya peroleh tidak semata-mata untuk dinikmati sendiri. Tuhan menginginkan kita pergi dan menghasilkan buah – terutama buah perubahan hidup yang nyata.

Bagaimana dengan Anda? Merasa bahwa hal ini sulit dilakukan karena keterbatasan Anda sebagai seorang wanita yang memiliki banyak tanggung jawab di rumah sebagai seorang ibu, seorang istri, atau hal-hal lainnya? Jika ya, mari kita bersama-sama belajar dari teladan wanita-wanita tangguh ini.

 

Maria: Wanita yang Tetap Memprioritaskan Tuhan dalam Hidupnya

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Dia mendekati Yesus dan berkata: ‘Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.

Tetapi Tuhan menjawabnya: ‘Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” – Lukas 10:39-42

Kebanyakan wanita punya segudang aktivitas yang seakan tak ada habisnya, mulai dari terbitnya matahari hingga terbenamnya. Fenomena ini tak berbeda dengan keseharian Marta, atau kita, yang sering kali tenggelam dalam sibuknya rutinitas harian, entah itu pekerjaan kantor, pekerjaan rumah, bisnis pribadi, tugas kuliah, kegiatan pelayanan, dan lain-lain. Kita senantiasa berusaha agar semua berjalan dengan baik, rapi, dan teratur. Jika Anda seorang ibu rumah tangga yang punya beberapa orang anak, kerepotan ini tentunya lebih terasa lagi. Kegiatan mengurus rumah tangga menjadi prioritas dalam hidup dan Anda tak pernah berhenti berjuang memberikan yang terbaik bagi keluarga dan memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang Anda rencanakan.

Demi memenuhi tuntutan tanggung jawab, tak jarang kita melupakan hal terpenting, yaitu memberikan waktu dan perhatian kita untuk Firman Tuhan. Apakah kita menyadari pesan Yesus itu, bahwa hal yang terpenting bagi Tuhan adalah kita bisa berdiam untuk mendengarkan isi hati-Nya?

Bagi Yesus, Maria telah memilih hal yang terpenting, yang tidak akan dapat diambil darinya, yaitu kebenaran Firman Tuhan. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh melakukan banyak aktivitas. Namun, jangan lupakan prioritas utama hidup ini. Ingat pula, orang yang kesukaannya taurat Tuhan, merenungkannya siang dan malam, adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan menghasil buah pada musimnya (Mzm. 1:2-3). Komitmen untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai prioritas hidup adalah langkah awal untuk hidup kita berbuah perubahan.

 

Abigail: Wanita yang Bijaksana dalam Memutuskan

Abigail adalah seorang istri dari pria kaya yang berperangai arogan, Nabal. Pada suatu peristiwa, sikap sombong Nabal membuat Daud murka, sehingga Daud dan 400 orang pengikutnya berangkat untuk membantai Nabal dan semua laki-laki yang tinggal di rumahnya. Ketika konflik Daud dan Nabal ini diketahui Abigail, dia tidak panik. Abigail justru mengambil langkah bijak yang meredakan situasi.

Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai, lalu berkata kepada bujang-bujangnya: ‘Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu.’ Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.” – 1 Samuel 25:18-19

Dari penjelasan ini kita dapat melihat betapa bijaksananya Abigail dapat mengambil keputusan yang cepat. Dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tindakan Abigail sepertinya sederhana; menyediakan aneka kue, gandum, olahan domba, dan anggur; tetapi pemberian yang rendah hati dan tulus itu sukses membuat amarah Daud reda sehingga menyelamatkan seisi rumahnya. Hal ini menunjukkan hikmat, kedewasaan, dan kebijaksanaannya sebagai wanita.

Jika Anda berada di posisi Abigail, apa yang akan Anda lakukan? Tenggelam dalam rasa takut? Panik? Melarikan diri? Maukah Anda berlatih meminta hikmat Tuhan dan mengupayakan solusi yang terbaik bagi semua pihak di tengah-tengah situasi genting semacam ini?

Kadang ada situasi ketika kita dituntut untuk mengambil keputusan yang cepat dan serba berisiko. Jika hal ini terjadi, yang perlu kita lakukan adalah datang kepada Tuhan sumber hikmat, yang hidup di dalam hati kita karena Firman-Nya yang kita renungkan setiap hari. Percayalah, hikmat yang Tuhan berikan akan menolong kita mengambil keputusan yang terbaik dan berbuah berkat bagi orang-orang yang kita kasihi.

 

Rut: Wanita yang Terus Berjuang dan Pantang Menyerah

Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: ‘Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.’ Dan sahut Naomi kepadanya: ‘Pergilah, anakku.” – Rut 2:2

Bisakah Anda membayangkan, Rut dalam masa dukanya sepeninggal sang suami tercinta memutuskan untuk mengikuti ibu mertuanya, Naomi, pergi ke sebuah kota yang asing baginya? Alih-alih larut dalam masa duka, Rut dengan iman berinisiatif untuk membangun hidup barunya dan bertanggung jawab terhadap Naomi, terlepas dari apa pun yang akan dihadapinya di negeri yang sama sekali baru dan tak dikenalnya.

Dalam hidup ini tentu saja akan ada masalah dan pergumulan. Kita semua mengalaminya. Manakah yang akan kita pilih untuk menyikapinya: meratapi masalah dan menyerah, atau bangkit dan melangkah dengan iman seperti Rut?

Perjuangan dan iman Rut itu mendatangkan berkat. Melalui arahan ibu mertuanya, pada akhirnya Rut menikah dengan Boas, pemilik ladang gandum yang melindungi kehidupannya bersama Naomi, sehingga lalu Rut menjadi nenek moyang Daud dan Yesus. Betapa indah kelanjutan kisah hidupnya!

Ketika kita memilih tetap berjuang dengan iman kepada Allah di masa yang sulit, ingatlah bahwa iman itu dapat menghasilkan buah, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang-orang di sekitar dan anak-cucu kita.

 

Dari ketiga wanita hebat ini, saya belajar banyak hal, dan semoga Anda pun demikian. Yang jelas, kita belajar untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah lewat segala hal yang kita alami di keseharian hidup ini. Mari kita songsong tahun yang baru ini dengan iman dan semangat untuk hidup berbuah-buah. Amin.

2023-12-21T13:48:34+07:00