/, Youth Corner/Warga kerajaan Surga, berkarya bagi dunia

Warga kerajaan Surga, berkarya bagi dunia

Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kami tinggal di sebuah desa di Maluku. Secara perekonomian, bisa dibilang keluarga kami berada pada golongan menengah, karena Ayah berprofesi sebagai guru. Profesi ini cukup membanggakan di desa kami saat itu. Namun saat saya berusia 5 tahun, Ayah meninggal dunia. Singkat cerita, Ibu kemudian menikah kembali, dan saya hidup bersama dengan Paman.

Bagi saya, Paman sudah seperti ayah kandung saya sendiri. Beliau juga adalah kepala sekolah di tempat saya mengenyam pendidikan. Pada saat saya berusia 9 tahun, ia dipindahtugaskan ke Cimahi dan saat itu, saya bersikeras kepada Ibu untuk ikut Paman merantau ke Cimahi, tetapi tidak diizinkan. Saya pun nekat menyelinap ke dalam kapal dan baru menampakkan diri ketika kapal hendak bertolak. Ibu kemudian hanya bisa pasrah dan meminta Paman untuk menjadi pelindung bagi saya. Demikianlah awal kisah hijrah saya ke Pulau Jawa, merantau pada usia yang masih sangat belia.

Pendidikan saya selanjutnya berjalan dengan sangat memuaskan, walaupun saya jauh dari Ibu. Didikan paman yang sangat disiplin menempa saya dan membuat saya menjadi murid yang berprestasi. Setelah selesai sekolah menengah, beberapa kali saya mencoba melamar pekerjaan, tetapi semuanya ditolak. Saat itu, seorang teman Paman mendorong saya untuk mendaftar di sekolah kehakiman, tapi karena satu dan lain hal saya berubah pikiran. Entah bagaimana kemudian tiba-tiba saja saya memutuskan untuk masuk kedokteran. Karena nilai akademik saya baik, saya diterima di sekolah kedokteran.

Di sekolah tinggi kedokteran itulah saya makin diperkaya. Dalam hal iman Kristen, saya memiliki kualitas yang baik. Latar belakang keluarga kami memang cukup religius. Namun, kini ada suatu hal yang baru. Kecintaan terhadap bangsa Indonesia mulai bertumbuh di hati saya pada masa-masa itu. Bergaul setiap hari dengan teman-teman dari beragam suku memberikan saya wawasan yang baru. Khasanah literatur saya yang terus berkembang juga menjadi salah satu faktornya. Semasa saya kuliah, tempat yang sering kali saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional. Tulisan-tulisan karya filsuf India Vivekananda adalah favorit saya. Pemikiran-pemikiran Mahatma Gandhi saya lahap habis. Buku-buku karya RA Kartini, Sutan Takdir Alisjahbana, Armin Pane, dan para tokoh lainnya, menjadi konsumsi saya setiap hari. Saya juga mulai mengenal buah-buah pikiran Bung Karno yang kemudian menjadi inspirasi saya. Panggilan saya pun semakin mantap, bahwa orang Kristen bukan hanya warga Kerajaan Surga, tapi juga punya tanggung jawab untuk masyarakat. Saya harus selalu siap memberitakan kasih dan kebenaran dari Kerajaan Surga itu lewat karya-karya nyata!

Itulah sebabnya, saya mulai aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Saya menjadi ketua umum pada komunitas pemuda yang berfokus pada kebangsaan. Awalnya organisasi ini adalah komunitas sepak bola. Saya salah satu yang ikut mendorong terjadinya perubahan tersebut. Dari organisasi inilah, saya makin bertumbuh karena bertemu dengan orang-orang muda lainnya yang memiliki mimpi besar untuk bangsa ini. (1)

Selesai studi, saya menjadi dokter di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Selang beberapa waktu kemudian, saya juga berkesempatan berkarya di RS Imanuel Bandung. Masuk ke dunia profesional tidak memadamkan api pemberitaan Kerajaan Surga di dalam hati saya. Dalam berkarya, saya selalu meyakini bahwa tindakan yang didasarkan dengan kasih ibarat padi yang bertumbuh tanpa bersuara. Pada waktunya, kasih akan berbuah. Orang-orang yang saya layani berkata bahwa saya adalah dokter yang bertangan dingin. Demikianlah kata mereka.

Selain melayani di RS, saya juga kerap mengunjungi desa-desa untuk melihat kondisi masyarakat, seperti Sumedang, Padalarang, Majalaya, dan Ciparay. Saya juga sering berkeliling ke klinik-klinik layanan medis bagi rakyat petani. Dari kunjungan-kunjungan itulah saya melihat kebutuhan di tengah-tengah masyarakat dan kemudian mengembangkan sebuah proyek yang disebut dengan Rencana Bandung(2) sebagai pola dasar layanan kesehatan masyarakat. Idenya adalah menggabungkan usaha preventif dan kuratif, agar terjadi perimbangan kualitas layanan kesehatan antara di desa dan di kota. Semua kerja keras ini saya lakukan semata-mata untuk menjadi “hati nurani” bagi masyarakat. Menjadi jawaban bagi orang-orang di sekeliling saya. Membawa kasih dan kebenaran surgawi bagi mereka melalui karya-karya yang nyata. Semua ini juga mendorong semangat belajar dan meneliti di bidang kedokteran dalam perjalanan pelayanan saya, sehingga kemudian saya menerima gelar doktor. Ah, bukankah ini juga pekerjaan menegakkan Kerajaan Surga dalam dunia!

Saya akan terus berkarya. Saya yakin, dalam hal kecintaan, kesetiaan, ketaatan, dan pengorbanan bagi tanah air, orang Kristen tidak dan tidak boleh kurang daripada orang-orang lain, bahkan harus menjadi teladan bagi orang lain sebagai pecinta tanah air, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, dan sebagai nasionalis sejati. Semakin lama saya semakin melihat bahwa segala sesuatu ini adalah wujud kecintaan, kesetiaan, dan ketaatan kepada Tuhan sendiri, sesuai dengan prinsip “Soli Deo Gloria”, yang berarti segala kemuliaan adalah hanya bagi Tuhan. **

**Tulisan fiksi ini berdasarkan kisah hidup dan karya tokoh Johannes Leimena (data diambil dari berbagai sumber materi Institut Leimena); satu-satunya orang yang pernah menjadi menteri selama 21 tahun berturut-turut dalam 18 kabinet yang berbeda. Beliau adalah Menteri Kesehatan Indonesia yang pertama, sekaligus yang terlama menjabat. Beliau juga menjadi Pejabat Presiden RI sebanyak tujuh kali. Om Joo, panggilan akrabnya, dikenal sebagai orang paling jujur di mata Soekarno. Pada tahun 2010 namanya dikukuhkan menjadi Pahlawan Nasional.

(YPe)
1 1928: Saya menjadi ketua umum Jong Ambon, lalu menjabat sebagai Pembantu IV dalam Kongres Pemuda ke-2 tahun 1928, yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
2 Rencana Bandung (Bandung Plan) merupakan cikal bakal Puskesmas yang kita kenal sekarang.

 

 

 

2019-10-12T10:53:25+07:00