//Where do you go?

Where do you go?

Kamis pagi itu, seperti biasa saya berangkat ke kantor menggunakan taksi. Seperti biasa pula, saya mulai mengecek pesan-pesan email, WhatsApp, dan Line yang masuk di ponsel, dalam perjalanan tersebut. Semua saya lakukan seperti kebiasaan, tanpa menghiraukan rute perjalanan, supir, ataupun suara radio yang terdengar pelan. Sampai pada suatu menit, terdengar sayup-sayup program acara bincang-bincang di sebuah radio yang didengarkan serius oleh si supir taksi.

“Ya, Ibu Ina, ada masalah apa?”
“Iya, saya ini suka ngerasa sakit di kepala. Entah kenapa, sudah dua mingguan ini rasanya sakit banget…”

Lalu terdengar si narasumber mulai berkomat-kamit membaca doa, kemudian, “Ya, Bu Ina, nanti ambil jahe sama daun jeruk, tempelin di kepala setiap hari sebelum tidur…”

“Nah, ada penelepon lagi, Pak Kyai… Dengan siapa ini?”

“Pak Hasan, Mbak.. Anak saya ini bandel sekali, susah diatur…”

Maka kembali si narasumber yang ternyata seorang kyai itu mulai berdoa lalu berkata, “Ya, Pak… Nanti anaknya disuruh mandi kembang ya, Pak. Pak Hasan juga perbanyak amal…”

Detik itu juga, saya menyadari isi setiap percakapan di radio tersebut, bahwa betapa banyaknya jiwa-jiwa di luar sana yang membutuhkan kasih Tuhan.

Ekklesia Go… Ya, memang. Istilah ini diambil dan diadaptasi dari permainan Pokemon Go yang beberapa bulan lalu sempat populer. Seakan “tidak tertarik” untuk ikut terlibat dalam gaung permainan Pokemon Go, saya pun enggan melakukan Ekklesia Go.

Banyaknya kesaksian dari para pemimpin dan pekerja gereja yang mulai melakukan Ekklesia Go, lalu sukses, memenangkan banyak jiwa untuk didoakan dan ditantang terima Yesus, tak juga membuat pribadi saya bersemangat untuk mulai melakukan Ekklesia Go. Segudang alasan saya kumpulkan untuk menjawab bila pemimpin mengajak saya untuk melakukan Ekklesia Go. “Duh Kak, saya susah ngomong, ahh… Gak ada waktu euy, Kak… Ehhh gakk lah Kak, gak bisa sayanya… Yaah Kak, saya mah pemalu, ahh.. Ehh gak bisa Kak, ada meeting nih, next time deh, ya…” dan berbagai dalih lainnya.

Kamis pagi itu, segudang alasan tersebut seolah berguguran satu demi satu ketika saya mendengar percakapan di radio. Sering kali, saya membatasi diri dengan berpikir bahwa melakukan misi dan penginjilan itu sulit, ibarat bermain Pokemon Go yang harus berusaha susah payah berjalan ke berbagai tempat dan mengumpulkan banyak amunisi senjata. Padahal sesungguhnya, begitu banyak orang tanpa kita sadari sangat membutuhkan jawaban dari setiap permasalahannya. Mereka butuh kasih Tuhan. Bagaimana mereka bisa menerima dan mengalami kasih Tuhan itu kalau kita yang telah memilikinya tidak membagikannya kepada mereka?

“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?” (Roma 10:13-14)

Tuhan tahu betul bahwa Anda dan saya mengasihi Dia. Memang kendala waktu dan tempat sering kali memang menghambat penyebaran misi tentang kasihNya, namun Tuhan juga tahu betul bahwa di zaman modern ini Ekklesia Go dapat tetap kita lakukan. Bagi kita yang merasa muda dan modern, menjadi Youtuber, vlogger, atau blogger mungkin terlihat paling ideal. Tetapi jika kapasitas kita tak tepat untuk itu, Ekklesia Go tetap bisa kita lakukan. Lewat komentar atau status kita di media sosial, chatting di permainan online, dan interaksi kita dengan lawan bicara di komunitas-komunitas yang kita terlibat, kasih Kristus harus tetap kita bawa ke tengah-tengah mereka yang membutuhkan.

Jadi, siapkah kita melakukan Ekklesia Go? Bukan suatu saat nanti, tetapi sekarang, setiap hari.

2019-10-17T13:53:19+07:00