//Yakub Perjalanan Iman sang Pemenang (Bagian 2)

Yakub Perjalanan Iman sang Pemenang (Bagian 2)

Dalam bagian pertama tentang Yakub pada Build! edisi yang lalu, kita membaca bahwa Yakub melarikan diri ke Padan-Aram setelah dia berselisih dengan Esau, kakaknya. Dalam perjalanan ke Padan-Aram, dia bermimpi bertemu dengan Tuhan dan dia mendapat janji Tuhan yang jelas, “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu. Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu,” (Kej. 28:13-15). Dalam bagian kedua ini, kita akan melihat kelanjutan perjalanan iman Yakub, yang pada akhirnya membawanya menjadi seorang pemenang.

 

Yakub pergi sesuai arahan Tuhan, berbekal janji Tuhan untuk menyertai dan melindunginya. Dia berangkat ke negeri timur. Benar saja, pada suatu titik perhentiannya, ketika dia memandang sekeliling, ternyata ada sumur di padang dengan kumpulan kambing domba berbaring di dekatnya. Yakub sangat mungkin karena perjalanan yang melelahkan itu, maka dia mendekati sumur itu untuk minum. Lalu, dia bertanya kepada gembala-gembala yang sedang memberi minum domba-domba di situ, “Saudara-saudara, dari manakah kamu ini?” (Kej. 29:4). Mereka menjawab, “Kami ini dari Haran.” Dia bertanya lagi, “Kenalkah kamu Laban, cucu Nahor?” (Kej. 29:5). Kata mereka, “Kami kenal.” Di tengah-tengah luasnya padang gurun dan banyaknya orang yang ada di sana, Yakub bertemu dengan orang-orang yang tepat. Begitu nyata tuntunan Tuhan bagi Yakub. Tanpa tuntunan Tuhan tentu, Yakub bisa tersesat.

 

Selanjutnya sementara Yakub dan para gembala itu saling menyapa, Allah menuntun Rahel untuk pergi ke sumur itu pula. “Ketika Yakub melihat Rahel, anak Laban saudara ibunya, serta kambing domba Laban, dia datang mendekat, lalu menggulingkan batu itu dari mulut sumur, dan memberi minum kambing domba itu. Kemudian Yakub mencium Rahel serta menangis dengan suara keras,” (Kej. 29:10-11). Tuntunan Tuhan atas Yakub makin terbukti, sehingga dia bertemu dengan sanak saudara yang tidak pernah dia jumpai sebelumnya. “Lalu Yakub menceritakan kepada Rahel, bahwa dia sanak saudara ayah Rahel, dan anak Ribka. Maka berlarilah Rahel menceritakannya kepada ayahnya,” (Kej. 29:12). Rahel lari ke rumah dan menceritakan peristiwa itu kepada Laban, ayahnya. Ada seseorang dari keluarga ayahnya. Ini bukan pertemuan biasa. Rahel sebenarnya hanya melakukan rutinitasnya yang biasa, tetapi lalu bertemu seorang anggota keluarga yang terhilang. Pastilah ini semua terjadi atas penentuan tangan Tuhan. Laban pun terharu mendengarnya, sehingga “berlarilah dia menyongsong dia, lalu mendekap dan mencium dia, kemudian membawanya ke rumahnya. Maka Yakub menceritakan segala hal ihwalnya kepada Laban” (Kej.29:13).

 

Pertemuan Yakub dengan Laban sekeluarga adalah pertemuan ilahi, karena terjadinya oleh jawaban Allah atas doa Ishak untuk Yakub. Ishak memang telah mendoakan Yakub, “Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari istri dari anak-anak Laban. Moga-moga Allah Yang Mahakuasa memberkati engkau, membuat engkau beranak cucu… Moga-moga Dia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham,” (Kej. 28:1-4). Iman Yakub kepada Allah membuat dia yakin akan doa dan perkataan Ishak ini kepadanya, sehingga dia taat dan akhirnya bertemu dengan Laban di Padan-Aram.

 

 

Iman Yakub membawanya menerima hal yang Tuhan janjikan

Ketika Tuhan memimpin kita, kita perlu membiarkan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Jangan batasi Tuhan dengan keterbatasan kita sendiri, karena Dia memiliki rencana yang sempurna atas kehidupan kita. Perhatikan jalan hidup Yakub yang terjadi karena Tuhan memimpinnya. Yakub bekerja di rumah Laban selama tujuh tahun untuk mendapatkan Rahel sebagai istri, tetapi karena rasa cintanya kepada Rahel, hal itu dianggapnya seperti beberapa hari saja. Bahkan ketika Yakub terpaksa bekerja selama tujuh tahun lagi karena Laban menipunya, itu pun ringan saja dilakukannya demi Rahel. Ada campur tangan Tuhan atas Yakub, sehingga kesanggupan dan perasaan Yakub pun aman di tangan-Nya.

 

Melewati tujuh tahun yang pertama, tibalah waktu yang disepakati untuk Yakub menikah. Yakub pun berkata kepada Laban: “Berikanlah kepadaku bakal istriku itu, sebab jangka waktuku telah genap, supaya aku akan kawin dengan dia,” (Kej. 29:21). Laban mengundang semua orang untuk hadir dalam perjamuan kawin yang penting itu, tetapi rupanya benih yang ditabur Yakub dengan menipu Esau harus dituainya juga. Laban bukan memberikan Rahel kepada Yakub, melainkan justru Lea dan Zilpa, budak Lea. Alhasil, Yakub marah dan berkata, “Apakah yang kauperbuat terhadap aku ini? Bukankah untuk mendapat Rahel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?” (Kej. 29:25). Namun, Laban adalah orang tua yang punya nilai dan peraturan sesuai tradisinya, dan dia menggunakan nilai-nilali itu sebagai alasan, “Tidak biasa orang berbuat demikian di tempat kami ini, mengawinkan adiknya lebih dahulu dari pada kakaknya,” (Kej. 29:26). Tampaknya memang hal ini tidak adil, tetapi sebenarnya Allah bekerja lewat Laban. Ingat, “keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya” (Mzm. 97:2). Tuhan bekerja atas Yakub, mendatangkan keadilan berupa konsekuensi atas benih penipuan yang pernah ditaburnya, tetapi  sekaligus mendatangkan keadilan berupa kesepakatan lanjutan agar Yakub sungguh mendapat Rahel dan Bilha, budaknya. Tujuh tahun yang kedua pun Yakub lewati dengan bekerja, hingga akhirnya dia berhasil memperistri Rahel, yang dicintainya sepenuh hati.

 

Di sisi lain, Tuhan bekerja atas segala sesuatu dan semua orang, bukan hanya atas Yakub. “Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul,” (Kej. 29:31). Lea melahirkan Ruben, anak pertamanya yang namanya berarti “TUHAN memperhatikan kesengsaraanku” (Kej. 29:32). Selanjutnya, Simeon, yang namanya berarti “TUHAN mendengar” (Kej. 29:33). Lewi lahir berikutnya, dan namanya berarti “membangun keintiman yang erat” (Kej. 29:34). Yehuda, anak berikutnya, namanya berarti “bersyukur/pujian” (Kej. 29:35). Berikutnya, Isakhar, namanya berarti “Allah memberi upahku” (Kej. 30:18). Kemudian, Zebulon lahir, dan namanya berarti “Allah telah memberikan hadiah yang indah kepadaku” (Kej. 30:20). Setelah itu, Lea melahirkan anak perempuan bernama Dina.

 

Rahel sendiri, dalam kondisi mandul, marah dan berkata pada Yakub, “Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati,” (Kej. 30:1). Ini sebetulnya aneh, karena tentu bukan kesalahan Yakub bahwa Rahel mandul. Yakub pun menjawab kemarahan Rahel itu, “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” (Kej. 30:2). Rahel frustrasi dan mencari solusi sendiri untuk rasa cemburu dan rasa tidak amannya karena tidak mampu melahirkan anak bagi Yakub. Dia memberikan Bilha, budaknya, kepada Yakub, untuk hamil dan melahirkan anak. Bilha melahirkan Dan, anak laki-laki yang namanya berarti “Allah memberikan keadilan kepadaku” (Kej. 30:6), lalu Naftali, yang namanya berarti “aku bergulat dengan kakakku” (Kej. 30:8). Urusan ini segera berkembang menjadi persaingan sengit di antara kedua saudari ini. Lea panas hati dan memberikan Zilpa, budaknya, kepada Yakub. Zilpa kemudian melahirkan Gad, yang namanya berarti “mujur telah datang” (Kej. 30:11), lalu Asyer, yang namanya berarti “aku berbahagia” (Kej. 30:13).

 

Diam sajakah Tuhan melihat semuanya itu? Tidak. Tuhan menyimpan yang terbaik sebagai penutup yang indah. “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya,” (Kej. 30:22). Rahel sendiri akhirnya hamil dan melahirkan Yusuf bagi Yakub. Nama Yusuf berarti “Allah menghapuskan aibku” (Kej. 30:23-24). Bahkan, Rahel kemudian melahirkan Benyamin, yang namanya berarti “tangan kanan” (Kej. 35:18). Beragam peristiwa yang terjadi dalam keluarga Yakub justru membuat sebagian janji Allah digenapi melalui cara-cara alamiah; dari keturunan Yakub itulah terbentuk 12 suku Israel, sesuai janji Tuhan.

 

Iman Yakub membawanya kembali ke tanah kelahirannya

Suatu hari, Tuhan berfirman kepada Yakub, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau,” (Kej. 31:3). Yakub memegang janji Tuhan ini, bahwa Allah akan menyertainya, lalu langsung bertindak dengan iman. Dia segera menyiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke tanah kelahirannya dan meminta izin kepada Laban, “Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku… Berikanlah istri-istriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu,” (Kej. 30:26). Singkat cerita, Yakub akhirnya memboyong semua keluarganya dan ternak-ternaknya untuk pulang ke kampung halamannya, walaupun pada awalnya Laban mencoba menghalangi dengan berbagai cara.

 

Namun, jauh di dalam hatinya, Yakub masih bergumul untuk bertemu dengan Esau. Dia sangat takut dengan kemarahan kakaknya itu atas hal yang telah dia lakukan semasa muda. Yakub pun berdoa, “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu — sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. Lepaskanlah aku dari tangan kakakku, sebab aku takut, jangan-jangan dia datang membunuh aku, ibu-ibu dan anak-anaknya. Bukankah Engkau berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung,” (Kej. 32:9-12). Sebagai jawaban atas doa itu, Yakub mendapat pembelaan dari Tuhan, yang terbukti dalam seluruh proses dan perjalanannya pulang serta bertemu Esau.

 

Iman Yakub membawanya menjadi pemenang

Setelah menyusun berbagai strategi untuk menghadapi Esau sambil terus berdoa tak henti-henti dalam ketakutannya, Yakub akhirnya sampai di tepi Sungai Yabok. Pertama-tama dia menyeberangkan seluruh keluarga, hewan ternak, dan semua miliknya. Yakub tinggal seorang diri saja di sisi Sungai Yabok. Saat dia sendirian itulah, datang seorang laki-laki yang lalu bergulat dengan dia sampai menjelang pagi. “Ketika orang itu melihat, bahwa dia tidak dapat mengalahkannya, dia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika dia bergulat dengan orang itu,” (Kej. 32:25). Apakah Yakub menyerah saat sendi pangkal pahanya terpelecok? Rupanya, Yakub tidak mau menyerah. Justru, lawannya akhirnya berteriak, “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing,” (Kej. 32:26a). Yakub menjawabnya dengan kepekaan sekaligus kejujuran. Yakub mengenali bahwa lawannya itu Tuhan sendiri, dan dia jujur mengungkapkan kerinduan hatinya, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku,” (Kej. 32:26b). Sementara telah terbukti bahwa Esau bernafsu rendah dan mudah menyerah, Yakub ternyata berkarakter unggul dan tidak mudah menyerah.

 

Pada akhir pergulatan itu, sang lawan menyerah dan bertanya, “Siapakah namamu?” Yakub jujur memberitahukan namanya, “Yakub”, yang sebenarnya berarti “penipu” (Kej. 32:27). Yakub tidak menyangkal identitas dan latar belakangnya, tetapi dia tulus dan jujur membawa dirinya di hadapan Tuhan. Kegigihan untuk tetap bergulat dan tekad untuk mengubah kehidupannya menjadi berkat itu membawa Yakub ke level iman yang berbeda. Pantaslah bahwa dia mendapatkan berkat yang dirindukannya dalam pergumulannya malam itu.

 

Tercatat, “Lalu kata orang itu: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang,'” (Kej. 32:28). Tuhan mengganti nama “Yakub” menjadi “Israel”, yang artinya “pemenang”. Iman Yakub membawanya kepada kemenangan. Dia menjadi seorang pemenang: atas cap atau identitas lamanya, “penipu”; atas pelarian panjangnya ke tempat baru yang tidak pernah dia tahu sebelumnya; atas kesengsaraannya yang harus bekerja 14 tahun demi mendapatkan Rahel, wanita yang dicintainya; atas pergumulannya meraih hak atas keluarga dan upahnya selama bekerja pada Laban; serta atas ketakutannya untuk kembali lagi ke tanah kelahirannya dan bertemu kembali dengan Esau. Yakub berubah sesuai perubahan namanya. Tujuan hidupnya berubah total, dan dia kini menjadi sang pemenang. Tuhan meneguhkan perubahan itu, “Lalu diberkatinyalah Yakub di situ,” (Kej. 32:29).

 

Perjalanan iman yang Yakub lewati tanpa menyerah membawa Yakub menerima janji Tuhan, kembali ke tanah kelahirannya, bahkan berubah total menjadi seorang pemenang. Jika Anda dan saya juga sedang berada di dalam sebuah perjalanan iman pribadi juga saat ini, jangan menyerah. Ikuti teladan Yakub, sampai kita masing-masing pun mendapatkan berkat Allah yang besar sesuai rencana-Nya yang sempurna atas kita. Inilah pelajaran iman yang kita dapat petik dari Yakub dalam artikel kali ini. Nantikan artikel selanjutnya pada edisi mendatang.

2021-11-02T09:31:00+07:00