//Yakub : Perjalanan Iman yang Baru (Bagian 3)

Yakub : Perjalanan Iman yang Baru (Bagian 3)

Melewati perjalanan panjang yang menjadikan dirinya seorang pemenang iman, Yakub akhirnya kita kenal pula dengan nama baru yang diperolehnya dari Tuhan, yakni Israel. Dulu, jati dirinya adalah penipu, tetapi kini dia menjadi pangeran Allah. Tujuan hidup lamanya pun berubah menjadi baru; Yakub menjadi ciptaan baru karena pembaharuan yang Allah kerjakan. Berulang kali, sosoknya disebutkan di dalam Alkitab dengan tetap menggunakan baik nama lamanya maupun nama barunya, sehingga kita dapat selalu mengingat pembaharuan ini. Contohnya, Nabi Yeremia menulis saat memulai perkataan nubuatnya, “Dengarlah Firman TUHAN, hai kaum keturunan Yakub, hai segala kaum keluarga keturunan Israel,” (Yer. 2:4). Pembaharuan inilah yang menjadi fokus kita dalam artikel kali ini. Kita akan mengikuti perjalanan iman Yakub yang baru setelah dia mengalami terobosan hingga menjadi pemenang, dengan menelusuri hal-hal yang dia lakukan sebagai pemenang hingga dia berkemenangan sampai akhir hidupnya dalam jati diri yang baru, Israel.

 

  1. Dengan iman, Yakub menghormati Esau sebagai kakak yang ialah otoritas atasnya

Setelah pengalaman bergumul dengan Allah dan menang, sikap Yakub berubah. Sebelumnya, dia berseteru dengan Esau, kakaknya, tetapi perubahan tampak jelas saat Yakub kembali ke kampung halamannya. Yakub melihat Esau, lalu “dia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga dia sampai ke dekat kakaknya itu”. Luar biasanya, Tuhan pun bekerja pada diri Esau melalui pergumulan iman Yakub itu. Tertulis kisahnya, “Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka,” (Kej. 33:3-4). Yakub pun memberikan persembahan kepada Esau dan berkata kepadanya, “Bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku.” Imannya membuat Yakub menghormati Esau sebagai kakaknya dan otoritasnya.

 

  1. Dengan iman, Yakub mengandalkan Tuhan dalam segala hal

Pengalaman bergumul dengan Tuhan dan menang ternyata tidak membuat Yakub jumawa. Dia tetap mengandalkan Tuhan dalam segala sesuatu. Firman Allah kepada Yakub, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu,” (Kej. 35:1). Menanggapinya, Yakub taat dan berkata kepada keluarganya, “Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh,” (Kej. 35:3). Imannya membuat Yakub mengandalkan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidupnya.

 

  1. Dengan iman, Yakub tahu dan menyadari kehadiran Allah terus-menerus

Yakub menyadari kehadiran Allah terus-menerus, karena imannya akan pribadi Allah yang telah dikenalnya melalui berbagai pengalaman hidup. Salah satunya adalah saat keluarga Yakub berada dalam ancaman bahaya oleh musuh, ketika kehadiran Allah benar-benar melindungi mereka dan memberi keamanan, sesuai iman Yakub, “Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar,” (Kej. 35:5). Yakub tahu dan sadar bahwa Allah selalu hadir bersamanya, maka dia berani bertindak dan tidak takut terhadap ancaman musuh, apa pun situasi yang sedang dilewati.

 

  1. Dengan iman, Yakub memberikan tujuan hidup baru kepada anaknya

Saat Rahel dalam usia tua mengandung dan tiba waktunya untuk melahirkan, Yakub sekeluarga berada di dekat Efrata. Proses bersalinnya agak sukar, mungkin karena kondisi Rahel, sehingga sang bidan berusaha menenangkan Rahel dengan informasi yang menyenangkan, “Janganlah takut, sekali ini pun anak laki-laki yang kaudapat,” (Kej. 35:17). Namun, Rahel terlalu lemah untuk melanjutkan hidup setelah proses bersalin itu. Sebelum Rahel meninggal, dia memberi nama “Ben-oni” kepada anak bungsu yang baru susah-payah dilahirkannya itu, yang berarti “penderitaan”. Kemudian sepeninggal Rahel, Yakub mengubah nama sang anak bungsu menjadi “Benyamin”, yang berarti “tangan kananku”. Pemberian nama baru menggantikan nama lama ini bermakna penting, yaitu bahwa Yakub sebagai ayah memberikan tujuan hidup dan “takdir” yang baru kepada anaknya. Anaknya tidak lagi ditakdirkan untuk hidup dalam penderitaan, tetapi kini justru punya tujuan hidup sebagai orang kepercayaan yang memegang tanggung jawab besar di masa depannya. Yakub memberikan tujuan hidup baru kepada anaknya, dengan iman. Kita tahu pada masa selanjutnya bahwa dari keturunan Benyamin inilah, Rasul Paulus lahir.

 

  1. Dengan iman, Yakub mengasihi dan menjaga anak-anaknya

Ketika kelaparan melanda negeri-negeri tempat tinggal mereka dan sekitarnya, Yakub mengutus sepuluh anaknya ke Mesir untuk membeli gandum. Saat tiba di Mesir, ternyata mereka bertemu dengan Yusuf, lalu Yusuf menahan Simeon sebagai jaminan bahwa mereka akan membawa Benyamin ke Mesir agar Yusuf dapat bertemu dengannya. Kata Yakub kepada kesepuluh anaknya itu tentang permintaan mereka membawa Benyamin ke Mesir, “Kamu membuat aku kehilangan anak-anakku: Yusuf, Simeon dan sekarang kamu mau membawa Benyamin juga. Aku inilah yang menanggung segala-galanya itu!” (Kej. 42:36). Imannya membuat Yakub tidak mau melepaskan Benyamin untuk dibawa ke Mesir; dia berusaha menjaga anak bungsunya yang dilahirkan Rahel itu. Kata Yakub, “Anakku itu tidak akan pergi, sebab kakaknya telah mati dan hanya dialah yang tinggal; jika dia ditimpa kecelakaan, tentulah kamu menyebabkan aku ke dunia orang mati karena dukacita,” (Kej. 42:38). Dari masa muda yang bergumul dalam proses mendapatkan istri dan menerima janji Allah atas keturunannya, Yakub akhirnya berkeluarga  dan menghasilkan keturunan yang nantinya menjadi bangsa yang dikasihi Allah. Yakub menjadi sangat peduli dan menaruh perhatian terhadap anak-anaknya. Dia mengasihi dan menjaga anak-anak yang Tuhan berikan kepadanya.

 

  1. Dengan iman, Yakub melihat mukjizat sebagai kepastian dan bukti pengharapannya

Antara mimpi dan kenyataan, mungkin begitulah suasana hati Yakub ketika dia mendengar bahwa Yusuf masih hidup. Inilah berita yang lama dia nanti-nantikan. Imannya teguh kepada Tuhan bahwa pengharapannya melihat Yusuf kembali adalah sebuah kepastian, seperti Firman Tuhan yang kita baca dalam kitab Ibrani berkata tentang iman sebagai bukti dari segala sesuatu yang kita harapkan. Iman ini membawa Yakub melihat mukjizat yang besar dari Tuhan benar-benar nyata. Saat mendengar kabar mukjizat itu, dia tidak sabar untuk segera melihat anak yang dikasihinya itu, “Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati,” (Kej. 45:28). Perhatikan bahwa iman Yakub ini juga menggerakkan Tuhan untuk melindungi Yusuf hingga waktunya tiba untuk penggenapan mukjizat itu. Akhirnya, rencana Allah atas Yusuf pun tergenapi.

 

  1. Dengan iman, Yakub menyampaikan pesan dan berkat Tuhan kepada keturunannya

Yakub bukan hanya terus hidup sampai bertemu lagi dengan Yusuf. Yakub bahkan bertemu dan memberkati kedua anak Yusuf, cucu-cucunya, “Abraham dan Ishak, hidup di hadapan Allah; Dia menjadi gembalaku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya memberkati orang-orang muda ini, sehingga bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi,” (Kej. 48:15-16). Selanjutnya dalam Kejadian 49, Yakub juga menyampaikan nubuat atas anak-anaknya masing-masing, “Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari. Berhimpunlah kamu dan dengarlah, ya anak-anak Yakub, dengarlah kepada Israel, ayahmu,” (Kej. 49:1-2). Iman Yakub membuatnya mengerti bahwa generasi muda adalah generasi penerus yang akan memegang tongkat kehidupan selanjutnya dari generasi sebelumnya. Karena itulah, Yakub mantap memberkati dan membekali mereka dengan pesan Tuhan bagi kehidupan mereka masing-masing. Yakub tahu, Firman Tuhanlah yang menuntun keturunannya untuk berjalan di jalan Tuhan.

 

Perjalanan iman di seluruh kehidupan Yakub telah membawa dirinya melihat janji-janji Allah digenapi dalam hidupnya, satu per satu. Pada titik akhir usianya, dia mewariskan pelajaran iman dan pesan iman dalam perkataan berkat kepada generasi keturunannya. Alkitab mencatatnya tentang Yakub, “Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya,” (Ibr. 11:21). Mari kita pelajari dan teladani pula hal ini, berjalan dalam iman di sepanjang hidup kita dan mewariskan iman kepada orang-orang lain. Jangan kita menyerah kepada situasi apa pun, tetapi tetaplah beriman kepada Allah, karena Dia peduli dan tidak pernah lalai akan janji-janji-Nya.

2021-11-26T13:03:09+07:00