///YANG KUPUNYA, YANG BERHARGA

YANG KUPUNYA, YANG BERHARGA

Siang itu, seperti setiap kali udara kota Jakarta kurang bersahabat saking teriknya, yang paling enak memang ngadem di kafe sambil menikmati minuman dingin dengan ditemani alunan musik ringan. Rasanya bukan hanya menyejukkan tubuh, tetapi lebih dari itu, menyejukkan hati dan pikiran dari segala riuhnya masalah hidup sehari-hari.

Merry memilih menikmati siang itu dengan caranya. Dia punya janji temu kangen dengan Alana, sahabatnya sejak kecil; kesempatan yang rasanya bisa menolong setidaknya untuk menumpahkan setiap hal yang berlompatan di kepalanya. Waktu santai di akhir minggu itu menjadi “me time” yang telah lama dia rindukan pula; dia sengaja datang satu jam lebih awal dari janji temunya dengan Alana. Kadang, kesendirian memang menjadi hal yang berharga untuk dinikmati… Minuman favoritnya, iced café latte,ditemani sepotong quiche du fromage hangat melengkapi waktu sendiri Merry.

Jauh di dalam semua kesejukan di kafe itu, hati Merry seolah tanpa rasa. Semua persoalan hidupnya seperti benang kusut, sudah tak jelas harus mulai dari mana untuk mengurainya. Merry mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya menjadi penyebab semua kekusutan itu, tetapi tak kunjung menemukannya. Di satu sisi dia merasa baik-baik saja dengan hidupnya, ‘toh semuanya berjalan tanpa ada masalah berarti setiap hari; tetapi di sisi lain dia harus mengakui pula bahwa dia sulit menikmati yang “baik-baik saja” itu. Entahlah… dia sendiri tak tahu apa sebabnya; yang dia tahu pasti adalah dia tidak merasa tenang dengan kondisi ini.

Hidupnya sebagai seorang single parent dengan seorang putra berusia 9 tahun bukanlah hal yang mudah. Perpisahan dan bagaimana rumah tangganya kandas di tengah jalan tak pernah menjadi impiannya. Setelah belajar hidup sendirian dan berhasil tiba pada kategori “aman” untuk kebutuhan keuangannya sehari-hari bersama putranya, sebagai seorang perempuan pun ternyata dia merasa butuh diayomi dan dikasihi oleh seseorang, mungkin tepatnya oleh seorang pria… Dulu, memang ada sosok pria yang pernah mengisi hari-harinya dan harus direlakan pergi karena sebuh alasan yang klasik: ketidakcocokan.

Hari-hari Merry bersama pria itu semakin lama semakin sering diwarnai keributan-keributan, dari yang kecil dan remeh sampai puncaknya saat dia diminta keluar dari rumah mereka bersama. Saat itu, bukan saja hatinya luka dan terobek-robek, tetapi juga semua akal sehatnya seperti berhenti bekerja. Dengan tekad bulat, diputuskannya malam itu juga untuk membawa putranya untuk kembali ke rumah orang tuanya. Sejak itu Merry memilih menjalani hidupnya dengan caranya sendiri. Ditetapkannya hatinya untuk teguh menjalani hari-hari dengan tampak luar yang baik-baik saja. Lagipula, memang itu saja yang dia paling inginkan untuk dirinya dan putranya: baik-baik saja. Sayangnya, jauh di dalam hatinya, Merry sama sekali tidak baik-baik saja. Kadang dia tahu orang tuanya mencoba untuk mengerti dan menghiburnya, mereka juga punya kerinduan untuk berusaha menolong menyelamatkan rumah tangga putri semata wayangnya itu; tetapi Merry pun tahu bahwa mereka sering kali memilih untuk diam, menempatkan diri mereka seolah tidak ada masalah dengan semua yang sudah terjadi karena memang tidak keberatan untuk menampung dan menolong anak serta cucu mereka. Diam sambil mendoakan, mungkin itu tepatnya yang dilakukan orang tua Merry. Merry kadang mendengar di pagi hari ayah ibunya berdoa bagi dia; mereka menyebut namanya, nama suaminya, dan nama putranya dalam doa-doa mereka. Anehnya, Merry sendiri sama sekali tak punya keinginan untuk berdoa bahkan untuk masalahnya sendiri. Hatinya yang dulu hangat serasa menjadi keras, dingin, dan beku untuk berdoa. Dua tahun sudah hal ini berjalan, seolah sudah “layak dan sepantasnya” terjadi, tetapi hati nuraninya justru kian kuat berkata, “Ada yang nggak pas… ada yang salah dengan semua ini.”

Tiga hari yang lalu, saat mencoba untuk merunut setiap peristiwa dan mendeteksi setiap rasa dan pikirannya sendiri, akhirnya Merry menyerah karena tidak juga sanggup memahaminya. Di saat yang sama, tiba-tiba ada sebuah nama muncul di hatinya: Alana! Hmmm, betul juga, mengapa tidak? Alana sahabatnya sejak kecil; mereka sudah saling mengenal dan bersahabat berpuluh-puluh tahun! Merry tiba-tiba tersadar, selama hampir dua tahun ini mereka jarang saling bertemu seperti sebelumnya. Ya, dua tahun; itulah tepat lamanya Merry memilih masuk ke dalam “tempurung” hidupnya sendiri: malas untuk berbagi, malas untuk bertemu siapa pun, apalagi bercerita berbagi isi hati! Ketika nama Alana sahabatnya muncul di hatinya, segera dia mencari nama itu di contact list di ponselnya. Fiuh… nama Alana lengkap dengan semua nomor kontaknya masih tersimpan aman, dan Merry pun tersadar bahwa selama ini dia block beberapa kontak yang ada di ponselnya demi menghindar, “menghilangkan jejak”, dan menghilang dengan sengaja dari orang-orang. Kini, karena nama Alana tiba-tiba muncul di hati Merry, sebuah percakapan singkat di antara mereka pun terjadi dan sampailah mereka di siang hari ini untuk saling bertemu.

—————————

Sebuah tepukan bersemangat di bahu membuyarkan lamunan Merry. Tepukan itu diikuti dengan suara khas Alana yang nyaring bercampur nada riang, “Heeeiiiii… nona cantik!!” Tidak butuh waktu lama, keduanya seketika tertawa renyah bersama, menikmati tersambungnya kembali kehangatan yang selama dua tahun sempat terhenti. Ah, betapa persahabatan memberi arti dalam kehidupan ini, betapa malangnya orang yang tidak punya sahabat!

“Hot matcha latte samasatu slice red velvet cake with dark chocolate glazing, ‘kan?” tanya Merry sambil berjalan cepat menuju konter pemesanan. “Nah, duduk saja manis di sini ya nona, aku beresin dulu semua kesukaanmu…”  Alana tersenyum sumringah. Ah, Merry masihlah sahabatnya yang dia kenal sejak kecil. Tidak ada yang berubah walaupun dua tahun ini dia seolah hilang ditelan bumi. Perhatiannya pada hal-hal kecil yang dirinya sukai dan sifatnya yang murah hati serta sigap menolong itu memang selalu bisa diandalkan. Sambil menunggu Merry selesai memesan dan membayar, Alana menyiapkan hati dan pikirannya untuk mendengar apa pun yang akan diceritakan Merry; pasti banyak hal yang dia akan dengar. Dengan kesadaran penuh, Alana berdoa, “Tuhan, tolong aku jadi saluran kasih-Mu untuk Merry, sahabatku.”

“Nah, sekarang aku sudah di sini. So… apa yang terjadi, nona? Ke mana aja kamu selama ini? Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu seperti hilang ditelan bumi?” kali ini tanpa sadar, Alana mencecar Merry yang mendekat membawa makanan dan minuman yang baru dipesan. Namun, celotehan Alana seketika berhenti saat dia melihat Merry menghela napas panjang dengan mimic wajah yang Lelah bercampur bingung. “Maaf…” lanjut Alana lirih, “Take your time… I will wait until you are ready to speak,” sambil menyentuh kedua tangan Merry yang ditautkan dengan lembut. Sontak, hal itu justru itu membuat Merry pecah dengan segala rasa di hatinya. Alana menunggu isakan Merry sambil menatap lembut sahabatnya dan berdoa di dalam hatinya sekali lagi, “Tuhan… tolong aku jadi saluran kasih-Mu.”

Setelah sekian menit, Merry berhasil menenangkan dirinya dan kini mulai mengisahkan cerita hidupnya selama dua tahun terakhir. Segala crita itu mengalir deras dari mulut Merry. Alana mendengarkan dengan penuh perhatian; bermacam rasa berkecamuk di hati dan pikirannya dan sebuah pemahaman muncul di pikirannya, “Pantas saja dua tahun ini dia seperti hilang ditelan bumi…”

“Jadi itulah yang terjadi dengan hidupku, Lan. Sekarang aku dan anakku baik-baik saja, tetapi rasanya hidupku tiap hari hambar, cemplang, gitu… Aku tahu ada yang salah, tetapi aku nggak tahu salahnya apa atau di mana,” Merry mengakhiri semua pergumulannya. “Apa yang salah denganku, Lan?”, pertanyaan Merry menyadarkan Alana bahwa sekarang adalah waktunya dia berbicara dan menanggapi semua yang barusan didengarnya.

Sejenak menghela napas, Alana mencoba bertanya dengan tenang, “Kapan terakhir kali kamu berdoa, Mer?” Wajah Merry seketika berubah. Ini adalah hal yang tersulit untuk dia lakukan selama ini. Dia tahu dia perlu berdoa, dia tahu Tuhanlah yang memegang jawaban untuk seluruh hidupnya, tetapi seolah tidak ada kekuatan untuk melakukannya. “Nah, itulah, Lan… Aku sudah lama nggak punya kekuatan lagi untuk berdoa…” jawab Merry lirih hampir tak terdengar.

Alana tersenyum pada sahabatnya itu. “Ok…. Aku maklum dengan semua hal yang kamu rasakan, tetapi sejujurnya aku nggak mengerti sepenuhnya; mungkin karena aku sendiri belum menikah jadi aku nggak paham gimana rasanya hatimu dalam kondisi seperti ini. Tapi sebenarnya, sejak kamu “menghilang” aku terus doa untukmu, Mer. Aku berdoa supaya Tuhan yang paling mengerti kamu itu akan membawa kamu mengenal Dia lewat jalan-jalan-Nya.”

Sedetik kemudian, sebuah firman muncul di hati Alana, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu:  Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”(Kis. 3:6). Alana tahu, Firman sedang berbicara di hatinya untuk disampaikan kepada sahabatnya.

“Merry, aku tidak punya apa yang kamu punya, termasuk cerita hidup sebagai istri dan ibu, juga kehidupan rumah tangga seperti kamu, tapi apa yang aku punya dan aku percaya bahwa Tuhan tidak berhenti untuk mengerjakan hal yang baik untukmu dan hidupmu; itu yang kuberikan. Ayo, bangkit! Masih ada harapan, masih ada kekuatan yang melampaui semua akalmu untuk kamu jalani hari-harimu di depan dengan hati yang sembuh dan merdeka. Percayalah!”

Tanpa menunda, Alana mengucapkan doa yang tulus dari hatinya sambil menggenggam tangan Merry, “Tuhan Yesus, Engkau mengenal Merry paling dalam, bahkan lebih daripada dia mengenal dirinya sendiri. Tolonglah dia Tuhan, untuk hatinya kembali kepadamu, kembali percaya bahwa Engkaulah satu-satunya yang dapat menyembuhkan setiap luka di hatinya. Aku berdoa untuk kerinduannya yang terdalam, karena Engkau yang paling mengerti dia. Selamatkan pernikahan ini ya Tuhan, dengan cara-Mu dan dalam waktu-Mu, karena kami percaya Engkau berdaulat atas segala sesuatu dan Engkau mengerjakannya jadi kebaikan buat kami yang mengasihi-Mu. Jadilah baik! Tolonglah Merry mendengar lagi suara-Mu ya Tuhan, supaya Merry melihat Engkau ada di dalam semua hal yang dia alami. Tidak ada satu pun Firman-Mu yang gagal, semua akan jadi sesuai dengan kehendak-Mu. Berkati juga hari-hari hidup Merry selanjutnya dan lakukan bagian-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan mengucap syukur. Amin!”

————————

Tidak ada hal spektakuler terjadi sehabis itu, tetapi hati kedua sahabat ini berubah. Merry mulai melihat ada pengharapan dan hari-harinya tak lagi terasa hambar; di hati Alana pun ada damai sejahtera dan sukacita karena dia memilih taat melakukan bagiannya dengan hal sederhana: berdoa berdasarkan Firman yang dia tahu dan dia percaya. Pertemuan di siang yang panas itu menjadi kebersamaan yang berkesan untuk kedua sahabat yang kembali menautkan hati ini.

————————-

Tuhan mengerjakan bagian-Nya; sekalipun pernikahan Merry masih belum juga menunjukkan tanda-tanda rujuk, hati Merry sudah mulai berubah. Tidak lagi dingin dan keras seperti sebelumnya. Sejak bertemu, bercerita, dan mendengar Firman lewat berdoa bersama Alana sahabatnya, Merry mulai punya kerinduan untuk kembali berdoa dan mengobrol dengan Tuhan. Yang paling membuatnya berpengharapan ialah dia mulai mendengar lagi suara Tuhan. Begitu lama rasanya dia tidak mendengar suara-Nya, dan kini hari-harinya kembali disentuh oleh tuntunan Firman Tuhan! Alana pun terus menolong Merry dengan mengajak bersaat teduh dan membaca Alkitab, mencatat janji firman Tuhan dan menuliskan apa yang didapat lewat saat teduh dalam jurnal harian. Mereka saling membagikan pengalaman dan obrolan pribadi dengan Tuhan itu melalui WhatsApp. Rasanya, semua hal sederhana ini lebih dari segala kerinduan Merry untuk Tuhan menjawab doa-doanya. Sekarang dia sudah mulai bisa berdoa dan berbicara sejujur-jujurnya sama Tuhan. Ada iman, pengharapan dan kasih Allah memenuhi hati dan pikiran Merry untuk menatap masa depan. Benarlah, Firman Tuhan itu hidup dan sudah terbukti membuat hidupnya lebih hidup!

Pertanyaan refleksi:

  1. Seberapa Anda mempercayai Firman yang Anda baca?
  2. Seberapa sering Anda mengaitkan Firman yang Anda baca dengan masalah hidup Anda sehari-hari?
  3. Seberapa Anda mempercayakan hidup Anda kepada komunitas terkecil untuk akuntabilitas?
2019-09-27T12:34:12+00:00