//Yonatan : seorang teladan loyalitas pada kebenaran

Yonatan : seorang teladan loyalitas pada kebenaran

 

Kepahlawanan Yonatan bukanlah satu-satunya sisi yang menarik dari dirinya. Apa yang ada di dalam dirinyalah yang justru lebih luar biasa. Yonatan dianggap sebagai teladan kesetiaan akan kebenaran dan sosok sahabat yang sejati hingga kini, karena karakternya yang loyal pada kebenaran dan persahabatannya yang karib dengan Daud. Kita tahu bahwa Raja Saul yang terbakar kecemburuan kepada Daud saat itu semakin lama semakin membenci Daud. Bahkan, berulang kali Raja Saul melancarkan upaya pembunuhan kepada Daud, baik secara langsung olehnya sendiri maupun dengan memerintahkan pasukan prajuritnya. Semua ini tentu tidak mudah bagi Yonatan. Di satu sisi, Saul adalah ayahnya sendiri sekaligus raja Israel. Di sisi lain, ia mengasihi Daud dan Daud tidak bersalah. Bagaimana kita menyelami pergumulan hati dan pergulatan pikiran Yonatan dalam kekacauan ini? Mari kita bayangkan…

Melalui berbagai bukti dan peristiwa, Yonatan tahu pasti bahwa ayahnya merupakan pihak yang bersalah dan sebaliknya, bahwa Daud adalah pihak yang benar. Yonatan, dengan keputusan yang tegas walau tentu di tengah-tengah badai pergumulan di hatinya, berani menegur Raja Saul dan membela Daud. 1 Samuel 19:4-5 mencatat perkataan Yonatan, “Lalu Yonatan mengatakan tentang yang baik kepada Saul ayahnya, katanya: ‘Janganlah raja berbuat dosa pada hambanya sebab dia tidak berbuat dosa terhadapmu. Bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu, ia telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu dan Tuhan telah memberikan kemenangan yang besar kepada seluruh Israel, engkau sudah melihatnya dan bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap darah orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan.’” Ketegasan Yonatan untuk tetap setia pada pihak yang benar ini bahkan membuatnya juga dimusuhi oleh sang ayah. Raja Saul berkata di 1 Samuel 20:30-31, “Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan katanya kepadanya: ‘Anak sundal yang kurang ajar, bukankah aku tahu bahwa engkau telah memilih anak Isai dan itu noda bagiku kau sendiri dan bagi perut ibumu. Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.’” Dari hal-hal ini, ada tiga ciri yang menonjol dalam karakter Yonatan yang loyal pada kebenaran itu, yaitu bahwa ia mengenal kebenaran (sehingga dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah), ia berani mempertahankan prinsip berdasarkan kebenaran (walau harus menentang ayahnya sendiri yang juga adalah raja), serta ia tidak memiliki kepentingan pribadi apa pun yang tersembunyi (maka tidak peduli dengan statusnya sebagai calon penerus takhta Saul yang menurut Saul terancam oleh keberadaan Daud).

Selain hal-hal itu, sebagai sahabat karib Daud, Yonatan melihat jelas bahwa Tuhan Sang Kebenaran Sejati menyertai Daud, pihak yang benar. Daud pertama kali dikenal oleh Saul dan keluarganya (termasuk oleh Yonatan) saat mengajukan diri untuk melawan Goliat, lalu menang. Saat itu, Daud masih bukan merupakan siapa-siapa. Daud hanyalah “anak kemarin sore”, tetapi yang berhasil menaklukkan Goliat yang perkasa dan ditakuti seluruh Israel (termasuk oleh Yonatan dan Saul) karena penyertaan Tuhan. Inilah “siapa Daud” di mata Yonatan, dan di sinilah inti dari loyalitas Yonatan, yaitu bahwa ia mengikuti ketentuan/keputusan kebenaran Tuhan. Yonatan paham bahwa Tuhanlah Sang Kebenaran yang Sejati, dan dariNyalah bersumber segala yang benar. Maka, Yonatan memilih berada di pihak yang benar, karena di situlah Tuhan sendiri berpihak. Pada akhirnya, pilihannya ini terbukti benar. Daud menjadi raja Israel yang berikutnya dan yang paling besar dalam sejarah Israel, dan disebut sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan sekaligus menjadi salah satu nenek moyang Yesus sendiri. Loyalitas Yonathan pun berbuah dalam bentuk kasih dan perlakuan baik Raja Daud kepada keturunan Yonathan yang tersisa, Mefiboset.

Selanjutnya, bagaimana dengan kita sendiri?

2019-10-11T12:39:18+07:00