//Yusuf : Buah dari Iman akan Visi Tuhan

Yusuf : Buah dari Iman akan Visi Tuhan

Pada artikel edisi yang lalu, kita telah membaca tentang kesuksesan Yusuf yang terus menanjak  di sepanjang masa hidupnya di Mesir. Kesuksesannya Tuhan berikan meski masa itu diawali dengan dia diperdagangkan sebagai budak, bahkan sempat dipenjara. Melewati proses demi proses, Yusuf kemudian mendapat kepercayaan dari Firaun untuk memegang kekuasaan atas istananya dan negerinya di Mesir, setelah dia menelaah mimpi Firaun. Itu berarti seluruh Mesir ada di bawah kuasa Yusuf dan setiap orang wajib menghormati Yusuf, karena Yusuf adalah tangan kanan yang mewakili Firaun sendiri. Firaun pun menamai Yusuf dengan nama yang baru, Zafnat-Paaneah, dan memberikan Asnat, wanita Mesir yang adalah putri seorang imam, untuk menjadi istrinya. Dari Asnat, lahirlah dua anak Yusuf yang diberi nama Manasye dan Efraim. Kali ini, kita akan menutup rangkaian kisah perjalanan iman Yusuf dengan menyaksikan buah-buah yang Tuhan kerjakan bagi Yusuf, membuktikan kebenaran visi Tuhan yang Yusuf imani dengan teguh sejak masa kecilnya.

 

Pengampunan tulus yang memulihkan

Hal pertama yang Yusuf lakukan ketika dia memegang kekuasaan yaitu pergi mengelilingi seluruh Mesir dan mengumpulkan bahan makanan, dan itu dilakukannya selama masa kelimpahan. Kejadian 41:49 mengisahkan betapa banyaknya bahan makanan yang terkumpul itu, “Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sehingga orang berhenti menghitung, karena tidak terhitung,” Lalu ketika masa kelaparan tiba, Yusuf membuka lumbung dan menjual gandum-gandum tersebut kepada seluruh rakyat, termasuk kepada pendatang dari negeri-negeri lain. Rupanya di antara banyak orang yang datang ke Mesir untuk membeli gandum, ada saudara-saudara Yusuf pula. Namun, mereka tidak mengenali Yusuf, yang kini berpenampilan jauh berbeda dengan Yusuf kecil yang dulu mereka buang ke sumur dan mereka jual kepada pedagang budak. Melihat mereka, Yusuf menegur dan membentak, “Dari mana kamu?” Dalam ketakutan, mereka menjawab jujur sambil merunduk, “Dari tanah Kanaan untuk membeli bahan makanan.” Yusuf mengingat mimpinya tentang saudara-saudaranya bersujud di hadapannya, hingga dia mengundurkan diri sejenak untuk menangis. Tuhan bukan hanya membawa seluruh Mesir tunduk di hadapan Yusuf, melainkan juga membawa saudara-saudara Yusuf datang ke hadapannya.

Kenangan masa lalu seakan diputar kembali di benak Yusuf. Rasa marah bercampur sedih berkecamuk di dalam hati Yusuf saat teringat kembali akan perlakuan kakak-kakaknya. Namun, Yusuf ingin pula untuk berbaikan kembali dengan seluruh keluarganya. Maka, dia menyembunyikan identitasnya kepada saudara-saudaranya untuk menguji mereka apakah mereka telah berubah dan menunjukkan penyesalan atas apa yang telah mereka lakukan bertahun-tahun yang lalu terhadap dirinya dan ayah mereka. Berbagai ujian Yusuf lakukan demi mengenal kembali siapa saudara-saudaranya kini. Cara Yusuf ini berhasil membongkar identitas dan isi hati saudara-saudara Yusuf. Dia melihat bahwa kini saudara-saudaranya telah banyak mengalami perubahan. Mereka tidak lagi suka menindas. Mereka begitu membela Benyamin ketika Yusuf berniat menahannya, bahkan Yehuda bersedia menggantikan Benyamin untuk dijadikan budak di Mesir, padahal dahulu Yehuda-lah yang memberi ide untuk menjual Yusuf kepada orang Ismael dan membuat sengsara dirinya.

Tergetarlah hati Yusuf oleh semua hal itu. Dia tidak dapat lagi menahan hati untuk mengungkapkan dirinya. Sambil menangis keras, Yusuf mengaku, “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?” Meski saudara-saudaranya ketakutan dengan pengakuan itu, Yusuf justru tulus mengampuni mereka semua. Perkataan pengampunan Yusuf memulihkan hati saudara-saudaranya dari tuduhan dosa masa lalu, “Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.” Bahkan, dengan bencana kelaparan yang tengah melanda, mulai saat itu Yusuf menanggung kehidupan ayah dan seluruh keluarganya. Firaun sendiri turut bersukacita oleh pertemuan kembali Yusuf dengan keluarganya, hingga memerintahkan agar seluruh keluarga Yusuf datang untuk menetap di Mesir pula.

 

Iman yang hidup dan terbukti melintasi generasi

Meskipun harus melewati banyak proses yang berat, Yusuf tetap memegang teguh imannya kepada Allah. Oleh keteguhan iman itulah, Yusuf berhasil melewati setiap proses. Yusuf tetap yakin pada visi Tuhan bagi hidupnya, dan langkah-langkah serta keputusan-keputusannya selalu dia selaraskan dengan visi Tuhan itu. Bukan hanya Yusuf mampu mengampuni saudara-saudaranya, melainkan Yusuf juga sanggup melihat rencana Allah yang sempurna atas dirinya dan keluarganya. Dia menjelaskannya kepada saudara-saudaranya, “Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar daripadamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku kesini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.” (Kej, 45:7-8). Yusuf sangat tahu, inilah visi Allah.

Masa Yusuf tinggal dan hidup di Mesir adalah 110 tahun. Dia melihat keturunan Efraim dan Manasye sampai generasi ketiga. Pada akhir hidupnya, Yusuf mengingatkan saudara-saudaranya akan visi Allah yang telah lama dipegangnya teguh dalam iman, yaitu tentang tanah perjanjian, “Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub,” (Kej. 50:24). Bahkan demi meyakinkan mereka kepada janji Allah, Yusuf menyuruh mereka bersumpah, “Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini,” (Kej. 50:25). Yusuf beriman bahwa bangsanya akan kembali ke tanah leluhur mereka dan membawa serta tulang-belulangnya. Dia percaya bahwa setelah mati pun dia akan beristirahat di tanah yang Tuhan telah janjikan.

Iman Yusuf bukanlah kepercayaan pada angan-angan kosong belaka. Iman Yusuf adalah iman pada visi Tuhan sendiri, dan Tuhan mengganjar imannya itu dengan buah yang nyata. Pada zaman Yosua, “Tulang-tulang Yusuf, yang dibawa orang Israel dari Mesir, dikuburkan mereka di Sikhem, di tanah milik yang dibeli Yakub dengan harga seratus kesita dari anak-anak Hemor, bapa Sikhem, dan yang ditentukan bagi bani Yusuf menjadi milik pusaka mereka,” (Yos. 24:32).

 

Demikianlah Allah tidak pernah membiarkan orang beriman sendirian melewati setiap proses kehidupan. Saat kita setia dan tetap teguh beriman kepada visi Allah, ada penghargaan Allah atas kesetiaan dan keteguhan iman kita itu.Visi Allah dan iman Yusuf menyatu menghasilkan bukti dan buah yang nyata di hadapan manusia.

2022-02-25T13:19:43+07:00