//Yusuf : Seorang Pemimpi yang Beriman

Yusuf : Seorang Pemimpi yang Beriman

Yusuf ialah salah satu tokoh terbesar di sepanjang Perjanjian Lama. Keteguhan iman dalam perjalanan hidupnya membawanya melihat penggenapan janji Tuhan secara pribadi. Bahkan pada hari-hari terakhir usianya, dia tetap beriman bahwa bangsa Israel akan kembali ke tanah perjanjian yang Allah janjikan dan bahwa tulang-tulangnya sendiri pun akan dibawa kembali ke Israel. Oleh karena imannya itulah, Yusuf tercatat dalam kitab Ibrani sebagai pahlawan iman, “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya,” (Ibr. 11:22).

 

Yusuf lahir sebagai anak dari pergumulan orang tuanya. Dari Kejadian 30, kita dapat melihat riwayat pergumulan Yakub dan Rahel sebelum cinta mereka membuahkan anak. Awalnya, Tuhan menutup kandungan Rahel sehingga Rahel mandul. Pada zaman Abraham, wanita yang mandul dianggap aib dan terkena kutuk. Lea, kakak Rahel yang menjadi istri pertama Yakub karena siasat Laban, sudah melahirkan anak bagi Yakub. Selain itu, budak Rahel yang bernama Bilha, yang diserahkan kepada Yakub oleh Rahel, juga sudah melahirkan anak bagi Yakub. Zilpa, budak Lea, juga melahirkan anak bagi Yakub. Rahel-lah satu-satunya wanita di samping Yakub yang masih belum melahirkan seorang anak pun bagi Yakub. Karena “kemalangan” itu, “Ketika dilihat Rahel, bahwa dia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah dia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: ‘Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak, aku akan mati,’” (Kej. 30:1). Jiwa Rahel mengalami tekanan berat. Namun, Yakub sebagai suami pun frustrasi, meski dia sendiri pun menngidam-idamkan kelahiran anak dari wanita yang dicintainya sepenuh hati itu. Bukannya menghibur Rahel, Yakub justru menjawab “ancaman” Rahel dengan marah, “Akukah pengganti Allah, yang telah menghalangi engkau mengandung?” (Kej. 30:2). Syukurlah, meski tersiksa jiwanya, Rahel terus-menerus bergumul dan memohon kepada Allah agar dia diberi anak. Allah pun mendengar dan mengabulkan doa Rahel. “Lalu ingatlah Allah akan Rahel; Allah mendengarkan permohonannya serta membuka kandungannya,” (Kej. 30:22). Akhirnya, Rahel mengandung dan melahirkan anak laki-laki bagi Yakub. Pasangan yang saling mencintai itu mendapat buah hati, dan anak itu dinamai Yusuf.

 

Yusuf adalah buah dari pergumulan iman orang tuanya, khususnya Rahel, di hadapan Tuhan. Rahel tidak pernah putus asa terhadap permohonannya kepada Tuhan. Bahkan, setelah pengalaman pergumulan iman untuk mendapatkan anak pertamanya, dia kembali memohon sekali lagi kepada Tuhan untuk mempunyai satu anak lagi. Tuhan menjawab doanya, kali ini lebih cepat. Rahel melahirkan lagi sebelum meninggal, dan dia menamai anaknya Ben-oni, nama yang berarti “penderitaan”, karena kesakitan yang diderita Rahel saat proses bersalinnya. Nama ini kemudian diganti oleh Yakub menjadi “Benyamin”, yang berarti “tangan kanan” atau “orang kepercayaan”.

 

Yakub sangat mengasihi anak-anaknya dari Rahel, tetapi dia lebih mengasihi Yusuf daripada semua anaknya yang lain, mengingat Yusuf adalah anak sulung dari wanita yang dicintainya dan diperjuangkannya habis-habisan. Karena kasihnya itu, Yakub membuatkan jubah yang maha indah untuk Yusuf, yang sangat disayangi oleh Yusuf. Akibatnya, semua kakak Yusuf membenci Yusuf, bahkan bersekongkol untuk melenyapkan dia. Lika-liku kehidupan Yusuf sejak persekongkolan kakak-kakaknya ini merupakan sebuah perjalanan iman yang panjang dan terjal, tetapi sarat dengan pelajaran penting bagi kita semua. Pada edisi kali ini, kita akan mengulas perjalanan iman Yusuf pada masa awalnya, yaitu bagaimana mimpi menjadi bagian penting di dalam iman Yusuf.

Mimpi Yusuf menjadi wadah bagi Allah untuk menurunkan visi-Nya

Allah mengungkapkan rencana-Nya kepada kita melalui berbagai cara, termasuk mimpi; dan inilah yang terjadi dengan Yusuf sejak masa kecilnya. Suatu hari Yusuf kecil mendapat mimpi lalu diceritakannyalah mimpi itu kepada saudara-saudaranya, “Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu,” (Kej. 37:6-7). Mimpi tersebut mengandung arti yang menyesakkan bagi kakak-kakaknya sehingga mereka marah dan makin membencinya: bahwa Yusuf akan menjadi pemimpin atas mereka semua, sedangkan mereka semua akan tunduk di hadapan Yusuf. Apakah visi Allah akan berhenti karena manusia marah dan ingin menghentikan rencana-Nya? Tidak, justru Allah memberikan mimpi lain kepada Yusuf untuk meneguhkannya. Lagi-lagi, Yusuf bercerita kepada saudara-saudaranya, “Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku,” (Kej. 37:9).

Perihal Yusuf menceritakan mimpi tersebut dan kakak-kakaknya marah membuat Yakub menegur Yusuf, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kej. 37:10). Sebenarnya, Yakub tentu tidak keberatan dengan visi Allah untuk mengangkat Yusuf menjadi seorang pemimpin kelak, tetapi dia pun seorang bapak yang peduli akan semua anaknya. Yakub mengerti bahwa mimpi Yusuf itu jika diceritakan sangat berpotensi menimbulkan kemarahan kakak-kakaknya, dan memang hati mereka makin iri dan dengki. Namun, Yakub menyimpan mimpi dari Allah itu di dalam hatinya, dan imannya mulai tumbuh. Yusuf mungkin tidak menyangka dengan jelas bagaimana persisnya Allah akan mewujudkan visi-Nya kelak. Padahal, sebenarnya melalui mimpi itu Allah sedang menyatakan rencana-Nya; bukan hanya bagi Yusuf, tetapi juga bagi bangsa Israel di masa depan.

Mimpi Yusuf membawanya terbuang dan terlupakan di dalam gelap

Salah satu karakter Yusuf yang sangat menonjol adalah taat. Oleh ketaatannyalah, perjalanan iman Yusuf dimulai. Suatu kali, Yakub berkata kepada Yusuf, “Bukankah saudara-saudaramu menggembalakan kambing domba di dekat Sikhem? Marilah engkau kusuruh kepada mereka. Pergilah engkau melihat apakah baik keadaan saudara-saudaramu dan keadaan kambing domba; dan bawalah kabar tentang itu kepadaku,” (Kej. 37:13-14). Yusuf taat dan dia pergi sesuai perintah Yakub. Seandainya Yusuf tidak taat, tentulah kisahnya akan berbeda.

Di padang itu, Yusuf berjalan mencari-cari saudara-saudaranya, tetapi rupanya mereka telah berangkat ke lokasi lain, Dotan. Yusuf menyusul mereka. Dari jauh, Yusuf sudah kelihatan, lalu saudara-saudaranya bermufakat untuk membunuhnya. Kata mereka, “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (Kej. 37:19c-20). Syukurlah, Ruben sebagai anak sulung menjadi cara Tuhan untuk melindungi nyawa Yusuf, demi kelangsungan rencana-Nya. Ruben mengarahkan saudara-saudaranya untuk tidak membunuh Yusuf, dan “hanya” diberi pelajaran. Kemudian, “Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair,” (Kej. 37:23-24). Yusuf, anak taat kesayangan Yakub, pun terbuang ke dalam sumur. Mimpinya beberapa hari sebelumnya bahwa dirinya akan disembah oleh saudara-saudaranya seolah pupus. Kenyataannya justru dia dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri.

Selanjutnya, apa yang terjadi pada Yusuf di dalam sumur tidak diceritakan. Singkatnya, Yusuf seolah terlupakan dan sendirian di dalam gelapnya sumur sampai entah kapan. Tentu dibutuhkan iman untuk bertahan dalam situasi seburuk itu, dengan visi sebesar yang dinyatakan di dalam mimpinya.

 

Mimpi Yusuf mengawali perjalanan imannya

Pengharapan Yusuf untuk keluar dari sumur akhirnya terwujud. Dia dikeluarkan oleh kakak-kakaknya; tidak untuk pulang ke rumah, tetapi untuk dijual menjadi budak kepada rombongan pedagang pengelana yang “kebetulan” lewat. Yusuf dijual dengan harga dua puluh syikal perak, dan kafilah orang Ismael itu pun membawanya sebagai budak untuk dijual di pasar budak di Mesir.

Saat itu, mimpi Yusuf disembah oleh saudara-saudaranya kesannya harus dibuang jauh-jauh karena rasanya tak mungkin lagi terwujud. Kini, Yusuf harus bersiap menjadi seorang budak di Mesir dan hanya bisa berharap kepada Tuhan untuk menjaganya. Kakak-kakak Yusuf sendiri seolah terbebas dari sang pemimpi. Di sisi lain, mereka lupa bahwa Allah adalah penguasa alam semesta dan rencana-Nya sedang terlaksana. “Adapun Yusuf, dia dijual oleh orang Midian itu ke Mesir, kepada Potifar, seorang pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja,” (Kej.37:36). Bagian demi bagian dari peta rancangan Tuhan terpasang dengan tepat dan sempurna. Singkatnya, Tuhan membawa Yusuf menjadi penyuara dan pengarah hikmat ilahi bagi sekelilingnya, melewati peristiwa demi peristiwa.

Episode berikutnya tertulis di dalam kitab Mazmur. “Ketika Dia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak,” (Mzm. 105:16-17). Luar biasa. Tuhan mengatur hidup Yusuf sesuai rencana-Nya yang sempurna. Di hadapan manusia, Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya dan dijadikan budak hingga dianggap hilang. Di mata Allah, dia diutus oleh Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pemimpin yang diurapi dengan hikmat-Nya bagi orang banyak. Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh keturunan Yakub, termasuk bagi mereka yang menjual Yusuf.

Tidak ada manusia yang tahu pasti jalan yang harus dilewati untuk mencapai rencana Allah atas hidup kita. Yang pasti Tuhan tetap berkuasa mengatur hidup kita dan rencana-Nya sempurna atas kita. Jangan rebut kendali hidup kita dari tangan Tuhan, melainkan teruslah beriman pada kedaulatan-Nya atas seluruh proses hidup kita. Yusuf dan mimpinya adalah bukti nyata yang tercatat jelas, dan episode-episode berikutnya dalam perjalanan imannya akan menunjukkan bahwa iman layak dipertahankan. Nantikan pembahasan selanjutnya di edisi mendatang.

2021-12-20T12:09:01+07:00