///7 “Jangan” untuk para Pemimpin Baru

7 “Jangan” untuk para Pemimpin Baru

Apa yang Anda rasakan sesaat setelah dipromosi dan kini memegang posisi sebagai seorang pemimpin? Perasaan tegang, bersemangat, dan bangga berbaur jadi satu, bukan? Namun, sering kali di dalam campuran perasaan itu terselip juga sedikit rasa khawatir dan berbagai pertanyaan: Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi pemimpin yang efektif dan dihormati? Kebijakan apa yang harus saya jalankan untuk menjadi pemimpin yang kompeten dalam memimpin dan mengayomi tim saya? Kemampuan apa yang saya butuhkan untuk bisa sukses mengemban tanggung jawab baru ini?

Bisa saja, Anda sudah menerima banyak nasihat dari para pemimpin senior untuk penerus-penerus mereka. Beberapa di antara masihat-nasihat itu mungkin bisa diterapkan dalam konteks umum, tetapi tentu ada pula hal-hal spesifik atau perkecualian yang membutuhkan penanganan khusus sesuai dengan konteksnya, misalnya terkait dengan sifat pekerjaan itu sendiri serta budaya dan dinamika hubungan dalam tim kerja. Mencontoh dan bercermin kepada pemimpin lain/sebelumnya adalah baik, tetapi setiap pemimpin hanya bisa memimpin dengan efektif menuju pencapaian keberhasilan jika mengembangkan karakter kepemimpinan uniknya masing-masing. Bekerja dan memimpin dengan mengabaikan karakter kepemimpinan diri sendiri sama saja dengan bekerja dan memimpin di bawah bayang-bayang atau sebagai “boneka” orang lain.

Dalam artikel ini, kita akan belajar menghindari beberapa hal yang tidak tepat untuk dilakukan setiap pemimpin baru; saya menyebutnya tujuh “jangan” untuk para pemimpin baru.

 

  1. Jangan berhenti belajar

Semangat belajar ialah salah satu aset berharga yang akan membantu Anda menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin dengan baik, karena melalui pembelajaranlah Anda akan terus menerus menjadi makin tahu, paham, mahir, dan matang. Bahkan, semangat belajar seorang pemimpin adalah salah satu kualitas yang menerima rasa hormat tersendiri dari orang-orang yang dipimpin. Belajar yang dimaksud ini tidak sekadar dalam topik-topik yang berkaitan langsung dengan pekerjaan misalnya ilmu bernegosiasi atau manajemen tim, tetapi juga yang lain, terutama dalam karakter pribadi si pemimpin. Contohnya: Anda berlatih untuk tetap berpikir benar, menjaga ucapan dan perilaku terhadap orang lain, mengendalikan emosi, dan kerelaan untuk melayani orang lain. Terkait langsung atau tidak dengan pekerjaan, pembelajaran akan menjadi proses yang mematangkan karakter kepemimpinan Anda. Pastikan bahwa Anda punya kebiasaan belajar apa pun yang Anda butuhkan, termasuk belajar dari pemimpin lain atau yang terdahulu dalam hal-hal yang terbukti efektif diterapkan pada konteks Anda. Dalam belajar dari pemimpin lain, perhatikan secara khusus cara-cara penyelesaian masalah dan krisis. Berpeganglah pada prinsip yang Anda anut, tetapi jangan lupa untuk tetap fleksibel tanpa bersikap plin plan atau munafik.

 

  1. Jangan memberikan instruksi tanpa parameter yang jelas

Akan sulit bagi semua orang untuk bekerja jika instruksi kerjanya serta parameter keberhasilannya tidak jelas. Pastikan agar instruksi dan ekspektasi Anda sebagai pemimpin disampaikan dengan jelas kepada semua orang yang Anda pimpin, dengan selalu mengonfirmasi pemahaman mereka masing-masing. Apa saya yang perlu jelas dan dipahami dalam hal ini? Detail instruksi, ekspektasi, standar pelaksanaan, serta parameter keberhasilan atau penyelesaian instruksi itu. Jika orang yang diberi instruksi itu sudah berpengalaman, biarkan dia melakukan instruksi dengan cara mereka sendiri selama tidak melanggar kode etik perusahaan serta kemanusiaan. Namun di sisi lain, jika dibutuhkan, selalu siap sedialah untuk memberikan saran tentang cara menjalankan tugas.

 

  1. Jangan berusaha ”mengubah tim” demi memamerkan otoritas/wewenang

Setiap pekerja dalam tim telah memiliki cara, preferensi, dan strateginya masing-masing dalam melaksanakan serta menyelesaikan tugas kerja. Sekalipun Anda merasa strategi mereka sudah seharusnya diganti, tahanlah keinginan untuk begitu saja mengkritik dan merombak tim atas nama otoritas atau wewenang sebagai pemimpin. Atau, mungkin Anda ingin melakukan perubahan demi menegaskan status kepemimpinan Anda. Benar, Anda memang memiliki otoritas/wewenang untuk itu, tetapi biarkan tim belajar terbiasa dengan diri Anda dan kepemimpinan Anda lebih dulu sebelum melakukan perubahan-perubahan yang signifikan. Kenali dan kuasai tanggung jawab kerja tiap anggota tim, tetapi selama hasil kerja tim cukup sesuai dengan target, biarkan tim Anda menjalankan tanggung jawab dengan cara yang dirasa paling nyaman. Ini adalah kebijakan yang paling tepat bagi setiap pemimpin baru, asalkan Anda tetap selalu siap mengarahkan dan membantu saat anggota tim membutuhkannya (atau saat kinerja dan produktivitas mereka tidak sesuai target). Pada fase awal kepemimpinan Anda, prioritas Anda adalah membangun kepercayaan mereka terhadap Anda, karena dari sinilah lahir kesepakatan arah, kesatuan langkah, dan semangat untuk produktif. Untuk itu, pastikan bahwa kepemimpinan Anda bisa diterima di hati tim.

 

  1. Jangan mengumpulkan semua pujian/penghargaan untuk diri sendiri

Ingat, saat Anda menjadi pemimpin, Anda punya orang-orang yang dipimpin. Segala kreativitas gagasan, usaha kerja, dan pencapaian hasil Anda bukan lagi untuk serta berkaitan dengan diri Anda sendiri; kini Anda bergerak bersama dengan tim yang Anda pimpin. Saat target tercapai atau terlampaui, biasanya ada pujian atau penghargaan yang datang atas keberhasilan itu, yang sering disampaikan atau diberikan kepada Anda sebagai pemimpin tim. Namun, ingatlah selalu untuk tidak mengumpulkan semua pujian/penghargaan itu untuk diri sendiri. Selalu bagi setiap pujian/penghargaan dengan seluruh tim, karena demikianlah Anda menunjukkan bahwa keberhasilan itu tidak akan terjadi tanpa kerja keras semua anggota tim, dengan ucapan terima kasih atau penghargaan khusus lain seperti makan bersama, bonus spesial, Keberhasilan yang dinikmati dan dirayakan bersama oleh seluruh tim akan mendorong seluruh tim pula menjadi lebih bersemangat mengejar keberhasilan berikutnya.

 

  1. Jangan cuma bicara tanpa bertindak atau berkarya

Menurut pengalaman banyak orang, salah satu jenis pemimpin yang paling tidak disukai adalah pemimpin yang suka main perintah, terlalu banyak menasihati dan mengkritik, serta rajin berbicara tanpa dirinya sendiri bertindak atau memberikan teladan. Pemimpin yang seperti ini biasanya dianggap retorika belaka, dan akan diabaikan oleh tim kerjanya. Sebagai pemimpin baru, jangan mengandalkan kata-kata untuk mendorong prestasi tim, apalagi jika Anda menyampaikan kata-kata itu “dari jauh” saja (sambil duduk di meja kerja di balik layar komputer dalam ruangan Anda, atau sambil menikmati keleluasaan untuk “bekerja dari rumah” tanpa harus bermacet-macet datang ke kantor). Sebaiknya, tunjukkan tindakan kerja yang nyata sebagai contoh dan teladan dari diri Anda sendiri. Melalui tindakan kerja Anda sendiri, Anda sedang melatih agar pekerja menjadi rajin dan mandiri dalam bekerja, termasuk untuk berusaha saat mengalami kesulitan atau kendala dalam pencapaian targetnya. Berikan motivasi secara rutin dengan cara bekerja bersama mereka dan hadir di tengah-tengah mereka, bukan hanya memberi perintah dalam perkataan.

 

  1. Jangan mudah “meledak”.

Tidak selamanya pekerjaan Anda menyenangkan, terutama dalam fase-fase yang baru; akan ada saat-saat ketika Anda ingin meledak karena emosi dalam berbagai situasi yang tidak ideal. Ketika saat itu tiba, cobalah untuk mengambil jeda sejenak dari situasi dan Kembali mengendalikan emosi. Cara ini akan membantu Anda menahan diri untuk tidak asal meledak memuntahkan emosi. Ingatlah bahwa respek dari pekerja dengan mudah bisa hilang saat melihat pemimpin kehilangan kendali atas emosinya, apalagi jika menyakiti, mempermalukan, atau merugikan mereka secara pribadi.

 

  1. Jangan bersikap eksklusif

Pemimpin dihormati salah satunya karena sering hadir di tengah-tengah tim saat ada kesulitan. Inilah yang dimaksud dengan pemimpin yang tidak eksklusif. Sebagai pemimpin baru, jangan hanya bergaul dengan sesama pemimpin; Anda harus tetap berteman seperti biasa dengan orang-orang yang Anda berteman sejak belum menjadi pemimpin, serta berteman dengan pekerja-pekerja yang kini Anda pimpin. Tunjukkan sikap yang hangat dan penuh respek kepada siapa pun tanpa pilih-pilih, bahkan termasuk kepada mereka yang status jabatannya mungkin jauh berbeda dengan Anda, misalnya petugas kebersihan dan penjaga keamanan. Sikap luwes dan positif dalam pergaulan akan membantu Anda menjadi makin efektif dalam berinteraksi dengan siapa pun di dalam tim yang dipimpin, sekaligus mendatangkan rasa hormat dan keteladanan dari mereka. Untuk membiasakan diri dalam sikap ini, pelihara karakter rendah hati di dalam diri Anda. Latih diri Anda untuk banyak mendengarkan ide dan masukan siapa pun tanpa memandang status jabatannya, simak pertanyaan dan keluhan pekerja tentang berbagai hambatan dan kesulitan mereka, ikut bekerja ekstra saat ada tuntutan kerja yang membebani, serta bersama-sama merayakan kegembiraan saat keberhasilan tiba.

 

Firman Tuhan di Matius 20:26-27 memberikan kita pencerahan yang baik dalam hal kepemimpinan; bahwa barangsiapa ingin menjadi besar di antara kita, hendaklah dia menjadi pelayan, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kita, hendaklah dia menjadi hambamu. Mempraktikkan tujuh “jangan” yang dibahas tadi berarti melayani tim sebagai hamba, dan dengan demikian menabur benih-benih positif kepada tim. Pada akhirnya nanti, Anda akan menuai respek dan dukungan dari para pekerja yang dipimpin, yang jauh mempermudah peran dan fungsi Anda sebagai pemimpin baru.

2022-11-25T09:47:34+07:00