/, Youth Corner/Ketika Tuhan diam…

Ketika Tuhan diam…

“Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Demikianlah Yesus menjawab permohonan seorang perempuan Kanaan yang memohon kesembuhan bagi puterinya yang kerasukan setan.

Perdebatan sengit antara Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat membuatNya memilih untuk menyingkir ke wilayah Tirus dan Sidon, ini merupakan wilayah nonYahudi.  Menyingkir ke tempat yang sunyi merupakan hal yang biasa dilakukan Yesus. Sebelumnya ia pernah melakukan hal yang sama (Matius 2 : 12 dan 22, 4 : 12, 12 : 15, 14 : 13). Dengan menyendiri sesaat, dia menghindari konfrontasi dengan musuh-musuhNya. Namun, kedatanganNya ke kota itu ternyata diketahui oleh seorang perempuan Kanaan yang mengharapkan kesembuhan bagi puterinya.

Alkitab tidak mencatat siapa nama perempuan itu, tetapi Alkitab mencatat dari mana ia berasal untuk mendeskripsikan keberaniannya, karena pada zaman itu orang Yahudi tidak bergaul dengan bangsa kafir, yang dianggap najis oleh hukum Yahudi. Perempuan Kanaan ini dengan berani keluar dari kampungnya dan datang ke tempat yang berisiko/berpotensi untuk bisa berjumpa dengan Yesus; Ia bukan saja berisiko diusir, ia pun bisa mendapatkan penghinaan secara komunal.

Bukan itu saja, keberaniannya juga ditunjukkan melalui kata-katanya.  Ia berteriak kepada Yesus, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Kata-kata ini sangat penting artinya, karena keluar dari mulut seorang wanita Kanaan, seorang kafir.  Ia memakai kata, “Anak Daud”, sapaan yang  biasa dipakai oleh para muridNya yang notabene adalah orang Yahudi. Ia tidak memerdulikan konsekuensi dan risiko yang dihadapinya. Sebagaimana perempuan Kanaan lain pada umumnya di masa itu, ia rentan mengalami diskriminasi, diusir dan ditolak, karena bersikap seolah-olah dirinya sebagai orang Yahudi.

Tetapi, apa yang didapat dari keberaniannya itu? Yesus yang selama ini didengarnya menyembuhkan orang yang sakit, membebaskan yang terbelenggu, ternyata menolak permintaannya.  Bahkan, meskipun didesak oleh para murid agar Yesus segera menuruti permintaannya itu, Yesus tetap saja menutup mulutnya.

Sikap diam Yesus tak menghentikan langkah perempuan Kanaan itu, ia bahkan “mengemis” agar Yesus menolongnya, “Tuhan, tolonglah aku.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat lagi ia dapat memperoleh pertolongan selain dari Yesus. Sayangnya, sepertinya hati Yesus tetap tak tergerak sedikit pun oleh permohonan yang begitu dalam dari seorang ibu yang merindukan agar puterinya hidup normal sebagaimana remaja puteri/wanita dewasa umumnya. Ironisnya, Yesus malah mengasosiasikan dirinya dengan seekor anjing yang tidak layak mendapat pertolongan.

Alih-alih tersinggung atau pergi, ia malah menyadari betul pernyataan Yesus itu.  Memang merupakan kebiasaan bagi orang Yahudi untuk menyebut orang bukan Yahudi sebagai anjing, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”  Ia tidak lagi berpura-pura menjadi orang Yahudi, ia mengakui bahwa dirinya memang nonYahudi, tetapi ia menunjukkan iman percaya bahwa Yesus memiliki otoritas atas masalah anak perempuannya yang kerasukan setan.

Akhir dari kisah nyata ini menyentuh hati saya sebagai seorang perempuan yang juga memiliki seorang anak. Saya bisa membayangkan bagaimana resahnya hati seorang ibu yang memiliki anak yang sakit dan tak tersembuhkan oleh obat apapun. Yesus memanggilnya, “Hai ibu,” Ia melayaninya secara personal sebagai seorang perempuan dan mengerti betul beban yang dihadapinya sebagai seorang ibu, “besar imanmu.” Kata-kata ini hanya diucapkan Yesus dua kali di dalam Alkitab dan keduanya ditujukan kepada dua orang nonYahudi, yaitu seorang perwira di Kapernaum dan perempuan Kanaan ini.  Selanjutnya, Alkitab mencatat, “Maka seketika itu juga anaknya sembuh.” Ini pun merupakan peristiwa ketiga Yesus menyembuhkan orang dari jarak jauh.

Terkadang dalam situasi yang begitu pelik, kita merasa Tuhan tak memedulikan kita. Ia seolah-olah terdiam dan membiarkan kita berjuang seorang diri. Bahkan, semakin kita memohon kepadaNya, Ia seolah menjauh dan tak terjangkau lagi oleh seruan doa kita. Mari kita melihat kisah perempuan Kanaan ini, apa yang sebenarnya menjadi isi hati Yesus ketika ketika kita memohon kepadaNya? Ada kalanya, Tuhan menguji iman kita agar kita bertumbuh dewasa dan memiliki iman yang lebih besar dari sebelumnya. Iman yang besar ini tidak dihasilkan secara instan. Iman yang besar lahir dari ketekunan dan kemampuan untuk bertahan di masa sukar.  Hari ini, jika Anda mendapati bahwa Ia seolah terdiam, ingatlah akan pernyataan Ayub, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayb. 23:10). Jangan menyerah, sebab Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

Refleksi pribadi:

1. Pergumulan apakah yang sedang Anda hadapi saat ini? Menurut Anda, apa “reaksi” Tuhan terhadap pergumulan Anda ini?
2. Bagaimanakah cara Anda berespons terhadap situasi/keadaan tersebut? Bagaimanakah Anda dapat memperbaiki respons Anda kepada Tuhan?

2019-10-17T14:21:39+07:00