///Benih yang jatuh ke tanah dan mati

Benih yang jatuh ke tanah dan mati

 

Iman seorang wanita, Betsie Ten Boom, menjadi benih yang jatuh ke tanah, mati dan menghasilkan banyak buah. Dalam penjara Ravensburck, semua tahanan wanita ditempatkan di sebuah bangsal besar dengan dipan berderet-deret, dan mereka harus berbagi dipan dengan tujuh perempuan lain. Itu belum seberapa, karena di asrama tempat mereka tidur terdapat banyak serangga sejenis kutu anjing (caplak) yang akan menggigiti tubuh mereka sampai luka dan berdarah. Hal ini membuat Betsie yang lemah dan sakit-sakitan menjadi semakin parah kondisinya. Tetapi, berbanding terbalik dengan kondisi fisiknya, iman Betsie justru semakin kuat dan teguh. Sewaktu Corrie mengeluh tentang caplak itu, Betsie mengingatkan Corrie tentang ayat Alkitab di 1 Tesalonika 5:11-16, sambil menyebutkan bunyi ayat itu di luar kepala. Beberapa hari kemudian Corrie benar-benar mengerti apa yang Betsie maksudkan dengan “mengucap syukur”, karena setiap selesai makan malam di dalam asrama mereka berkumpul bersama dengan para tahanan yang lain dengan sebuah bola lampu untuk membaca Alkitab. Awalnya, Corrie merasa khawatir kalau-kalau para penjaga patroli akan masuk ke barak 28, barak tempat mereka tidur. Anehnya, tidak seorangpun penjaga yang mau masuk ke sana, ternyata mereka merasa jijik dengan caplak-caplak yang ada di barak itu. Akhirnya Corrie dapat mengatakan dengan tulus, “Terpujilah Tuhan, karena caplak-caplak itu”. Pertemuan membaca Alkitab itu berjalan begitu indah dan menarik, karena Alkitab tidak hanya dibaca dalam bahasa Belanda, tapi juga dalam bahasa Jerman, Rusia, Denmark dan Perancis.

Betsie seolah menjadi suara Tuhan bagi Corrie. Salah satu  keajaiban yang dialaminya adalah tentang botol vitamin. Tanpa vitamin itu, Betsie sulit sekali bertahan dengan sakit anemia yang dideritanya. Corrie sering dibuat khawatir akan persediaan vitamin Betsie, apalagi Betsie suka berbagi vitamin dengan orang yang memintanya. Setiap kali Corrie mengingatkannya, Betsie hanya mengangkat bahunya dan berkata, “Tidakkah kau ingat di dalam kitab 1 Raja-raja cerita tentang Elia dan janda dari Sarfat ?” Ya, terjadi mujizat, botol itu tidak pernah kehabisan cairan vitamin. Bahkan di suatu malam, seorang petugas memberikan sesuatu ke tangan Corrie. Benda itu adalah sebotol vitamin yang baru, sementara pada malam sebelumnya Corrie mendapati botol vitamin yang lama telah habis isinya.

Betsie adalah sumber inspirasi bagi Corrie. Pernah, Corrie begitu marah kepada salah seorang penjaga yang memukul Betsie dengan sebuah pecut yang terbuat dari kulit hingga Betsie mengeluarkan darah. Darah yang sangat berharga dan hanya sedikit dimiliki oleh Betsie. Corrie ingin sekali membunuh penjaga itu, tetapi Betsie mencengkeram tangannya, menahannya karena melihat kebencian yang membara di mata Corrie.

Betsie adalah nabi dan penginjil sejati. Dia sering menyampaikan suatu firasat yang nantinya memang terbukti terjadi. Kadang Corrie tidak terlalu menanggapi apa yang disampaikan kakaknya, namun saat itu jadi kenyataan, barulah dia sadar bahwa Betsie pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Betsie juga sangat senang bercerita tentang Yesus di manapun dan kepada siapapun. Itu juga yang membuat Corrie melakukan hal yang sama.

Sepuluh bulan pengalaman pahit dan getir di kamp tahanan Nazi membuat Corrie banyak belajar memaknai makna kasih dan pengorbanan Yesus Kristus. Kesadaran itu semakin nyata setelah Betsie meninggal dunia dan akhirnya dia dibebaskan bersamaan dengan berakhirnya Perang Dunia kedua. Kebebasan itu pada awalnya adalah suatu kelepasan bagi Corrie, tetapi ia harus berjuang dengan kebenaran yang amat sangat sulit untuk dia lakukan, yaitu KASIH DAN PENGAMPUNAN.

Suatu ketika sehabis Corrie berbicara di sebuah gereja, Tuhan mengizinkannya bertemu dengan salah seorang penjaga tahanan Ravensbruck. Orang ini adalah penjaga yang sangat kejam kepadanya dan kepada Betsie selama di kamp tahanan. Ternyata, setelah perang berakhir dia bertobat dan menjadi Kristen. Dia menghampiri Corrie dan mengulurkan tangannya sambil berkata, “Saya senang sekali mendengar bahwa dosa-dosa kami telah diampuni. Anda menyebutkan bahwa Anda pernah ditahan di Ravesbruck. Anda tidak akan percaya ini, tetapi saya adalah salah seorang penjaga di sana. Maukah Anda mengampuni saya?” Hatinya bergejolak hebat, namun dia menyadari bahwa Alkitab adalah kebenaran tertinggi di atas kebenaran apapun. Mengampuni bukanlah suatu tindakan yang melibatkan emosi, tetapi merupakan kehendak Tuhan. Corrie mengulurkan tangannya. “Saya mengampuni Anda.” Kehangatan memenuhi dirinya. Corrie merasa dirinya menyala dengan kasih. Tetapi kasih itu bukanlah kasih yang berasal dari dirinya, dia  merasa tidak berdaya, kasih itu adalah kasih Allah sendiri yang bekerja di dalam dirinya.

Nama Corrie Ten Boom mendunia. Ia meninggal dunia di usia 90 tahun, tepat di tanggal yang sama dengan hari kelahirannya, 15 April 1983. Dia dikenal sebagai wanita lajang sampai akhir hidupnya, dengan banyak pengalaman iman yang memberi dampak bagi banyak orang. Corrie kembali ke pangkuan Bapa di surga dengan diiringi pembacaan dari kitab Mazmur 103, yaitu ayat-ayat yang selalu dibaca sebagai tradisi memperingati hari ulang tahun orang Belanda. “Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat.” Ayat itu sepertinya ditulis untuk Corrie dan kedengarannya seakan-akan Betsie yang membacakannya untuk dia. Tidak banyak orang yang mengenal Betsie Ten Boom, namun dia sejatinya adalah seorang kakak yang membawa dampak begitu besar untuk adiknya terkasih, hingga si adik melanjutkan berita dan karya kasih Allah kepada dunia yang terhilang.

 

Refleksi pribadi:

1. Belajar dari kisah nyata di atas, pelajaran apa yang dapat kita petik?

Hidup yang berdampak tidak dimulai dari melakukan hal-hal yang spektakuler. Hidup yang berdampak selalu bermula dari melakukan hal sederhana dan sehari-hari, namun didasari sepenuhnya oleh kedaulatan dan kebenaran firman Tuhan. Tidak lebih dan tidak kurang. Kualitas hidup seorang pengikut dan murid Kristus terbentuk dari bagaimana kesehariannya dibangun dengan melakukan kebenaran firman Tuhan dalam keadaan apapun. Kadang apa yang kita lakukan mungkin tidak kita lihat dampaknya saat kita masih hidup, namun jika itu dilakukan dengan dasar mengasihi Tuhan, pastilah itu berdampak kekal, dengan cara dan waktuNya Tuhan.

2. Kapan memulainya?

Mulailah dari sekarang. Jangan menunda karena waktu tidak akan pernah kembali. Hargailah setiap momen dan peristiwa dalam hidup ini, dan pandanglah masing-masingnya sebagai anugerah yang Tuhan berikan.

3. Bagaimana memulainya?

Membaca Alkitab secara teratur sebanyak dan sesering mungkin, mengaitkan setiap peristiwa yang kita alami dengan Tuhan, dan meemukan Tuhan secara pribadi. Pastikan bahwa kita makin mengenal dan mengasihi Tuhan lewat setiap peristiwa yang kita alami.

2019-10-17T14:30:03+07:00