///Berselancar dalam iman

Berselancar dalam iman

“Braaaak….!!” benturan itu terdengar sangat keras di telinga Menik. Belum sempat kesadarannya memahami apa yang sedang terjadi, dia mendengar kedua anaknya sudah tidak lagi di tempat duduk mereka. Mereka “nyungsep” dan menangis dengan suara keras. Gandi, suaminya, juga terlihat mengalami goncangan, syok dan terdiam dalam hitungan detik. Kesadaran mulai kembali ke pikiran Menik, mobil yang dikendarainya menabrak pohon! Belum lama memang dia belajar menyetir mobil, mendapat SIM, dan perjalanan kali ini bersama dengan keluarganya adalah dalam rangka memperlancar kemampuannya mengemudi. Tetapi apa dikata, di saat logikanya berkata “injak rem” ternyata yang ditekan justru pedal gas. Tak urung, mobil itu melompat dan menabrak pohon di depannya.

Untuk peristiwa ini, suaminya memang sudah memaafkan dan tidak juga menyalahkan. Menurut Gandi, yang namanya musibah tentu tidak permisi dulu sebelum datang. Tetapi, hati Menik galau dengan pikirannya sendiri. Kata “seandainya” banyak melayang-layang di kepalanya. Tetapi makin dipikir rasanya makin frustasi, makin merasa bersalah dan makin kesal sendiri. Anak-anak yang mengalami memar segera ditangani dengan obat oles dan dipastikan tidak ada luka dalam. Untuk satu hal ini Menik bersyukur, namun malam itu jadi malam yang paling bikin Menik susah tidur.

Banyak pembicaraan diri melintas di pikiran Menik malam itu, “Mengapa ini bisa terjadi, bagaimana mungkin? Rasanya aku sudah melakukan semuanya dengan cara yang benar…”, “Betapa bodohnya aku…”, “Memang benar yang Gandi bilang, aku nggak terampil…” Kesal hati Menik dengan segala kata-kata di pikirannya ini. Suaminya memang kadang kurang sabar mengajarinya mengemudikan mobil, tetapi yang paling membuat hatinya ciut dan galau adalah saat melihat kondisi mobil yang rusak parah di bagian depan. Mobil itu belum lunas dicicil, sementara kebutuhan keluarga sudah begitu besar dengan rencana anak sulungnya yang sudah mulai harus masuk sekolah. Angka biaya pendidikan yang besar terbayang di kepalanya… Rupiah demi rupiah memenuhi hati dan pikirannya. Semakin dipikirkan, semakin galau rasanya…

Pagi harinya sehabis bersaat teduh, Menik memutuskan untuk mengampuni dirinya sendiri seperti Allah sudah mengampuni dan mengasihinya. Ada suatu tekad untuk bangkit dan menghadapi kenyataan. Kesepakatannya bersama Gandi adalah memberkati mobil yang sudah ringsek dan bengkel yang akan memperbaikinya, dan beriman bahwa Tuhan akan mencukupkan biayanya.

Saat beribadah di gereja ternyata Tuhan terus berbicara kepada Menik secara pribadi. Dengan jujur Menik menyampaikan dan menyerahkan kegalauan hatinya kepada Tuhan: biaya perbaikan mobil, uang sekolah anak, dan kelanjutan cicilan mobil nantinya. Saat hatinya menyembah Tuhan, ada suara halus berkata di hatinya, “Lima roti dan dua ikan.” Firman dan kesaksian yang didengarnya saat ibadah hari itu sungguh menguatkan bahwa Tuhan itu selalu adil dalam setiap jalanNya. Benih iman mulai bertumbuh di hati Menik, kecil memang, namun ada yang berubah di hatinya dan dia tahu itu adalah karena Tuhan semata.

Esok paginya sebagai kesepakatan dengan Gandi, Menik berangkat untuk mengambil formulir pendaftaran untuk sekolah putera sulungnya. Walaupun uang itu secara faktanya belum ada di tangan tetapi mereka berangkat dengan iman, sambil percaya bahwa Tuhan akan membuka jalan. Tuhan seolah sedang berproses bukan hanya dengan dirinya secara pribadi tetapi juga dengan rumah tangga dan keluarganya. Harapan Gandi dan Menik bisa mendapatkan keringanan untuk biaya sekolah anaknya masih menunggu waktu dan cara Tuhan untuk digenapi, tetapi mereka berketetapan untuk mengucap syukur karena percaya bahwa Tuhan akan memampukan mereka melewati setiap ujian hidup.

Senyum mulai menghiasi bibir Menik, hatinya terasa ringan walaupun masalah masih ada dan nyata untuk dihadapi. Satu pengertian menyadarkan Menik, betapa Tuhan itu nyata justru saat dirinya berada dalam kesulitan dan ujian. Selintas sebuah ayat menggema di hatinya “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mzm. 90 : 10 & 12). Hanya di dalam Tuhanlah kesukaran dan penderitaan hidup menjadi kebanggaan. Melihat Tuhan dengan mata hati adalah kekuatan dan kebahagiaan orang benar. Melalui proses iman ini, sukacita dan kebenaran menjadi satu dan menjadi nyata, bukan lagi sekadar di awang-awang dalam teori Kerajaan Allah yang selama ini Menik pikir telah dipahaminya.

Hidup ini kadang seperti seorang yang berselancar. Seorang peselancar tidak akan mencari laut yang tenang tetapi justru mengalami keindahan dan kenikmatan yang nyata saat ada ombak. Bagaimana papan selancar itu tetap bertahan di atas ombak sama seperti kehidupan kita sebagai orang percaya, ketika tantangan dan ujian iman menjadi kesempatan untuk mengalami Tuhan dan kerajaanNya secara nyata.

2019-10-17T14:06:37+07:00